Ketika kamu merasa Tuhan sedang memunggungimu

10 Jan 2020 | Kabar Baik

Dalam kaitan Yesus dengan mukjizat yang kerap dipraktekkanNya, salah satu hal yang kerap menggelitik benakku adalah kenyataan bahwa tak semua orang dijamah oleh mukjizat tersebut. Contohnya seperti yang tertulis dalam Kabar Baik hari ini. Yesus menyembuhkan seorang berpenyakit kusta. Ketika banyak orang datang berbondong-bondong kepadaNya untuk minta disembuhkan juga, apakah Ia menyembuhkan mereka? Tidak! Seperti ditulis Lukas dalam bagian akhir perikop hari ini, ?Akan tetapi Yesus mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa.? (lih. Lukas 5:16) Ia memunggungi lalu pergi. Bagaimana perasaanmu ketika mendapati kenyataan hal yang sama, Ia memunggungimu?

Kalau aku jadi mereka yang dipunggungi tentu kecewa. Katanya mesias yang dijanjikan ribuan tahun, tapi kok tidak semua disembuhkanNya? Kenapa Raja Adil, kenapa justru  tidak adil?

Kekecewaan karena merasa Ia memunggungimu?

Dalam konteks hidup masa kini, rasa kecewa seperti itu kadang muncul juga. ?Apa aku kurang taat? Apa aku kurang berdoa? Apa aku kurang baik dengan orang lain? Tapi kenapa Tuhan seolah memunggungiku? Kenapa keinginan bahkan hal yang menurutku adalah kebutuhan pun tak dipenuhiNya??

Satu hal yang harus kita sadari, perasaan dipunggungi muncul karena kita melihat dari sisi kita sendiri. Karena kita menggunakan sudut pandang diri sendiri, ego, maka seolah yang ada ialah Ia memunggungimu.

Untuk itu, pada awalnya kita harus memiliki prinsip bahwa hidup ini tak melulu dilihat dari sudut pandang kita saja. Bahkan di tataran dasar, hidup ini bukan milik kita. Hidup ini adalah milikNya.

Dengan memahami hal tersebut secara bijaksana dan penuh kerendahan hati, lambat laun kita akan menyadari bahwa apapun yang terjadi dalam hidup ini, termasuk mukjizatNya, adalah sesuatu yang merupakan hakNya, bukan kita. Mukjizat terjadi adalah sarana untuk memuliakan nama Tuhan di muka bumi.

Percaya adalah intinya…

Maka yang kita perlukan selanjutnya adalah sikap percaya nan teguh kepadaNya.

Percaya bahwa ketika kita merasa Ia memunggungimu, Ia tidak sedang meninggalkanmu. Percaya bahwa saat-saat seperti itu justru akan menjadi pembuktian sebesar apa iman dan percaya kita kepadaNya. Ingatlah Bapa Abraham yang menanti begitu lama janji akan diberikannya anak-keturunan. Ketika sudah diberi, eh tiba-tiba ia diminta untuk menyerahkan anaknya untuk disembelih? Tapi adakah ia benar-benar meminta Abraham menyembelih Ishak? Tidak! Ia menggantinya dengan domba-domba persembahan.

Percayalah juga bahwa ketika kamu merasa Tuhan sedang memunggungimu, Ia barangkali justru sedang ingin menunjukkan ke orang-orang sekitarmu tentang kemuliaanNya. KemuliaanNya yang terpancar dari keteguhan, kesabaran dan kepasrahanmu terhadapNya. 

Terkait hal ini aku pernah diajak bicara oleh seseorang yang memutuskan pindah keyakinan ke Katolik karena hal yang menurutku sangat sederhana. Ia tergerak untuk pindah agama karena melihat tetangganya. ?Tetanggaku bukan orang kaya. Tapi mereka tampak selalu bahagia. Ketika ada kerja bakti, mereka tak kenal lelah membantu secara ?all out?. Setiap minggu pagi mereka bangun pagi lalu dengan wajah ceria pergi ke gereja boncengan berempat naik sepeda motor.?

Rupanya justru dalam kesederhanaan keluarga itulah yang membuat kawanku memutuskan ingin mengenal lebih dalam Yesus yang memberikan segala kekuatan pada tetangganya itu.?

Yuk! Jangan pernah merasa Tuhan sedang memunggungimu! Dari sisi kita, semua memang tampak begitu. Tapi mari berpikir sebaliknya, jangan-jangan justru ketika Ia memunggungi sejatinya ia sedang melindungi dari pihak luar yang hendak menyerang kita.

Memunggungimu berarti Ia sedang fokus menghadapi ancaman-ancaman itu. Dan saat semuanya sudah aman, dengan wajahNya yang bercahanya, senyumNya yang mendamaikan dan tangan kasihNya yang meneguhkan, Ia berpaling kepadamu, mengentaskan keluh-kesahmu, menuntaskan kerinduanmu, membasuhmu dengan kasihNya yang senantiasa baru?.

Sydney, 10 Januari 2020

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.