Ketika Covid jadi laron dan lampu jalan mulai dipadamkan…

16 Jul 2021 | Cetusan

Aku agak gimanaa gitu membaca berita rencana pemadaman lampu reklame dan penerangan jalan umum (PJU) di beberapa daerah.

Barangkali untuk mengurangi mobilitas warga di malam hari maka muncul ide ini. Karena esensi lockdown, apapun namanya, memang begitu; membatasi gerak warga sehingga COVID-19 tidak menyebar terlampau mudah.

lampu jalan

Lampu jalan dipadamkan sebuah ide brilian?

Tapi apakah ini ide brilian? Kecuali kalau covid itu berwujud laron dan akan mampus atau setidaknya minggat karena ketiadaan lampu, kuyakin ini bukan ide brilian!

Kenapa?
Pemadaman lampu tidak menghalangi sepenuhnya orang untuk tidak bepergian. Lampu jalan ada di kendaraan dan rumah-rumah dan kios pertokoan serta warung di pinggir jalan yang dibiarkan buka pun bersumber penerangan.

Lagipula yang padam hanya lampu di jalan umum, kan? Bagaimana dengan jalan-jalan tikus? Pengalamanku dulu, berkendara itu justru lebih banyak lewat jalan tikus. Mengakses jalan besar hanya sesekali saat memang harus bepergian ke satu tempat yang ada di pinggir jalan utama atau ketika menyeberang dari satu jalan tikus ke jalan tikus lainnya.

Ketiadaan lampu di jalan justru rawan kejahatan karena orang-orang berniat buruk bisa melancarkan aksinya di tempat gelap simply karena mereka tak terlihat.

Pemadaman lampu juga rawan kecelakaan. Bagaimana kalau mereka yang melintas tiba-tiba keblowok di jeglongan jalan?

Lampu jalan dipadamkan? Ide terbaik meski tak brilian

Jadi jelas ide pemadaman lampu tidaklah brilian meski sayangnya bisa jadi itu adalah ide terbaik. Kenapa? Karena dari sekian banyak ide yang lebih tidak brilian, barangkali ya ini adalah satu-satunya ide terbaik. Di saat masyarakat masih harus keluar untuk cari makan, di saat bantuan belum terlalu merata, efektif dan mencukupi, di saat edukasi tentang covid masih belum bisa direbut oleh pemerintah dan pihak berwenang dari tangan para bodoh yang sok tahu, di saat aturan denda dan hukuman juga masih bisa ditawar… sayangnya ide-ide yang tidak brilian akan mendapat panggung dan disemati sebagai ide terbaik.

Sayangnya demikian.

Oh ya, untuk menemani malam-malam gelap Anda, laguku, SULUH, ini barangkali jadi senada…

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.