Ketika agama makin tak laku di Australia aku tetap berusaha untuk tekun memelukNya

29 Jun 2017 | Cetusan

Nyatanya, secara angka, agama dalam hal ini Gereja Katolik makin tak laku di Australia!

Sensus yang diadakan terhadap segenap penduduk Australia tahun 2016 dan baru saja dikeluarkan hasilnya oleh pemerintah adalah ukurannya.

Ia menempati posisi kedua dengan 22.6% sedangkan lebih dari tiga puluh persen penduduk memilih untuk menganut agama ‘Tak Beragama’. Coba bandingkan dengan sensus lima tahun sebelumnya. Waktu itu Gereja Katolik masih berada di peringkat tertinggi dengan 25.3%, menang tipis atas agama ‘Tak Beragama’ di posisi runner-up dengan 22.3%.

Kawan kerjaku yang juga adalah kawan dekatku langsung bereaksi terhadap hasil sensus itu. Ia adalah orang yang baru saja menganut agama ‘Tak Beragama’. “What do you think, DV? Are you still on the boat?” ujarnya lewat pesan singkat. ‘Boat’ yang dimaksud adalah agama karena dalam diskusi dengannya, aku menganalogikan agama sebagai boat.

“Sure, why not? Interested to jump into? Let me know at anytime, Mate!!” jawabku yang lantas dijawab dengan emoticon tertawa ngakak olehnya.

Hari pun berganti dan pagi ini seolah tiga puluh persen dari penduduk Australia yang tak beragama itu mendapatkan peneguhan bahwa keputusannya untuk tak beragama adalah tepat.

Apa pasal?
Yang Mulia (Your Eminence) Kardinal George Pell, figur senior Katolik Australia dan Uskup Agung Sydney yang kini bertugas mengepalai bidang perekonomian di Vatikan ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pelecehan seksual oleh pihak kepolisian negara bagian Victoria.

Yang Mulia Kardinal George Pell

Hal itu sebenarnya tak mengagetkan karena kardinal yang ditunjuk sebagai ketua tim ekonomi kepausan di Vatikan itu sudah sejak lama diperiksa.

Aku tak mengenal Yang Mulia secara personal tapi persinggunganku yang paling dekat adalah ketika ia menjabat sebagai Uskup Agung Sydney. Sekitar tahun 2009, aku pernah ikut perayaan ekaristi yang dipimpin olehnya lalu sepulang misa aku mendekatinya, menjabat tangan lalu meminta berkat atas kalung rosario yang baru saja kubeli. Kalung itu hingga kini hampir setiap hari kupakai untuk berdoa.

Tadi siang, bertepatan dengan Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus, aku mendatangi Katedral untuk ikut perayaan ekaristi harian. Sepulang dari sana, sekitar jam 1:40pm, di depan pintu keluar, beberapa wartawan televisi mengerubung. Mereka berusaha mewawancarai umat terkait kasus ini dan aku tak lepas dari satu yang diincarnya. Seorang mbak-mbak wartawan berdarah eropa, muda, tinggi, langsing dan cantik mendekatiku menyapa, “Hi, how are you?” seonggok microphone dengan corong berwarna oranye ditodongkan, di belakangnya kamera menangkap wajahku bulat-bulat…

Maraknya kasus pelecehan seksual yang dituduhkan maupun yang sudah terbukti benar dilakukan oleh imam Gereja Katolik itu tak hanya dijadikan bulan-bulanan media tapi juga dijadikan salah satu alasan terkuat orang-orang meninggalkanNya.

“Ngapain ke Gereja kalau pastornya aja melakukan pelecehan seksual?”

Ada pula yang beralasan karena tak sudi se-gereja dengan orang yang dianggapnya munafik. Alasan lain rata-rata karena tak punya waktu dan lebih baik meluangkan waktu bersama kawan dan keluarga ketimbang ke Gereja. Pernah pula mendengar bahwa agama tak memberikan kebebasan padahal pacarnya mengajak untuk hidup bersama. Pun ada yang beralasan berbau teologis, “Tuhan pun tak beragama kenapa kita harus beragama?” tapi tak ada yang lebih menohok dari pertanyaan tangkas kawanku yang kutulis di atas tadi, “Apa sumbangsih agama untuk jaman dan sejauh apa ia mampu menyelesaikan persoalan manusia?”

Waktu ia bertanya seperti itu, aku tak menjawab. Bukannya tak punya jawaban tapi bagiku, apapun jawabanku pasti tetap akan dianggap sebagai sesuatu yang bukan jawaban. Aku memilih diam dan bertekun serta memeluk agama saja.

Keterdiaman, ketekunan ini tak lepas dari akar budaya Indonesia yang mengalir dalam darahku meski sudah hampir sembilan tahun lamanya aku meninggalkan Tanah Air.

Bagiku, nilai-nilai religiositas yang muncul, meruap dan menjadi nafas hidup itu ya lahir dan bertunas di Indonesia. Aku diajari untuk memeluk agama tanpa meninggalkan hakikat ‘memeluk’ itu sendiri yang seolah tak mau tahu apa yang terjadi dengan obyek yang dipeluknya pokoknya harus dipeluk erat…

Jadi, jangan tanya suasana batinku terkait semakin menurunnya jumlah orang beragama di Australia. Jangan pula kepo berpikir apa yang dipikirkan seorang DV terkait dijadikannya Kardinal George Pell sebagai tersangka.

Aku menjalani hidup hari ini dengan ringan-ringan saja, tak bergeming dan tetap memeluk agama. Kenapa? Karena agama sejatinya tak pernah antara aku dengan kamu, aku dengan kalian, aku dengan angka-angka statistik itu dan tak pula dengan George Pell. Aku beragama kalau menurut apa yang dikatakan KH A Mustofa Bisri alias Gus Mus adalah karena aku sedang naik kereta kencana yang disediakan Tuhan untuk menuju hadiratNya.

* * *

Kepada mbak wartawan yang cantik jelita tadi, setelah ia bertanya apa pendapatmu tentang Kardinal George Pell, aku tersenyum lalu berucap, “I can’t give any comment right now. I need to go back to work… God bless you!” Ia membalas senyumku, menarik microphonenya dan memberiku jalan untuk pergi.

Dari seberang Katedral, kulihat mbak wartawan tadi mengejar umat yang lainnya sementara wartawan lain mengejar umat yang lainnya lagi. Di belakangnya Gereja Tuhan tetap tegak berdiri tak bergeming dengan apapun yang terjadi di luarnya, mengarungi jaman.

Agama

…adalah kereta kencana
yang disediakan Tuhan
untuk kendaraan kalian
berangkat menuju hadiratNya
(Agama – KH A Mustofa Bisri / Gus Mus)

 

  • Berita tentang Kardinal George Pell bisa dibaca di sini
  • Berita tentang hasil Sensus ‘Australia’ 2016 terkait agama bisa disimak di sini
Sebarluaskan!

3 Komentar

  1. it’s Okay. They just moved to the other boat, but they remained on the same sea.

    Balas
    • Ini komentar paling dahsyat! Makasih :)

      Balas
  2. Bagus. Tks ya?

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.