Jadi ceritanya, menurut majalah Economist, Sydney ditempatkan pada posisi ke-6 sebagai kota paling nyaman untuk ditinggali di dunia per laporan Agustus 2011.
Adapun urutan komplit sepuluh besarnya adalah:? Melbourne (Australia), diikuti oleh Vienna (Austria), Vancouver (Canada), Toronto (Canada) , Calgary (Canada), sementara setelah Sydney ada Helsinki (Finlandia), Perth (Australia), Adelaide (Australia) serta Auckland (New Zealand).
Bagaimana Economist menyusun peringkat kota demi kota tersebut? Mereka menggunakan skema penilaian berdasarkan beberapa variabel sebagai berikut:
Stability
Prevalence of petty crime, Prevalence of violent crime, Threat of terror, Threat of military conflict, dan Threat of civil unrest/conflict.
Health Care
Availability of private healthcare, Quality of private healthcare, Availability of public healthcare, Quality of public healthcare, Availability of over-the-counter drugs, General healthcare indicators.
Culture and Environment
Humidity/temperature rating, Discomfort of climate to travellers, Level of corruption, Social or religious restrictions, Level of censorship, Sporting availability, Cultural availability, Food and drink, Consumer goods and services.
Education
Availability of private education, Quality of private education, Public education indicators.
Infrastructure
Quality of road network, Quality of public transport, Quality of international links, Availability of good quality housing, Quality of energy provision, Quality of water provision, Quality of telecommunications.
Sinergi yang ?asyik? dari semuanya akan melahirkan keteraturan dan inilah kuncinya
Aku lumayan bangga juga karena bisa tinggal di kota dengan peringkat nomer 6 paling enak ditinggali di dunia. Tapi lebih dari itu, aku berpikir kalau kota lain bisa menjadi kota yang enak ditinggali, kenapa kota-kota yang lainnya lagi tidak?
Faktor alam memang sedikit banyak mempengaruhi penilaian itu tadi, setidaknya secara langsung ada di poin kelembaban (humidity). Tentu, kota-kota di sekitar katulistiwa beriklim tropis sulit untuk mencapai tingkat kelembaban yang lebih rendah ketimbang kota-kota di kawasan subtropis semacam kota-kota di atas. Namun itu bukan pengukur satu-satunya, ada banyak sisi lain yang menurutku lebih banyak dipengaruhi pada dua hal. Pertama, seberapa baiknya pemerintah dalam bekerja mengatur kota, lalu yang kedua, sepatuh apa warganya dalam mengikuti peraturan pemerintah serta setoleran apa mereka terhadap sesamanya yang tinggal di kota yang sama.
Sinergi yang ?asyik? dari semuanya akan melahirkan keteraturan dan inilah kuncinya. Bagiku, keteraturan dalam sebuah kota selalu kubayangkan sebagai sebuah keteraturan dalam bus.
Adalah bus umum yang datang satu jam sekali mengangkut penumpang dengan kapasitas per unitnya 50 orang, bisa kurang tapi tak boleh lebih. Pengelola bus yang baik yang didukung oleh penumpang yang sopan dan mau diatur akan mengikuti aturan dan tak perlu digalaki lagi untuk antri dan ketika kapasitas telah penuh terisi, mereka akan berhenti masuk dan berbaris rapi menunggu bus berikutnya satu jam kemudian.
Tapi pengelola yang tak baik apalagi didukung oleh penumpang yang tak mau diatur dan beringasan, mereka malah akan ambil kursi lebih dulu dan mempersilakan calon penumpang yang sudah tak tau aturan itu saling berebut dan menghalangi penumpang lain untuk naik ke badan bus; dan mereka pun juga bertindak demikian ke yang lainnya.
Alhasil, jangankan penuh terisi, yang ada malah di dekat pintu bis, mereka adu pukul dan saling memblokade pintu bis untuk mencegah yang lain masuk lebih dulu dari dirinya. Sementara si pengatur yang tak ulung itu malah diam menutup mata dan telinga di dalam bus dan sesekali pura-pura panik seraya membentak-bentak sopir bis kenapa bus tak berangkat-berangkat serta menyalahkan calon penumpang yang berebut naik.
Bus adalah kota.
Pengelola adalah pemerintah.
Penumpang adalah kalian, warganya.
Nah, bagaimana dengan kota kalian?
Nilailah kota kalian dengan variabel-variabel yang ditentukan Economist tadi dan sudi tuliskan hasilnya di kolom komentar di bawah ini.
Clearly, then, the city is not a concrete jungle, it is a human zoo.
(Desmond Morris, The Human Zoo)
Tinggalkan Balasan