Ketaatan: pilihan atau panggilan?

22 Mei 2019 | Kabar Baik

Aku ingin mengawali renungan Kabar Baik hari ini dengan menceritakan apa yang terjadi di grup WA Kabar Baik dan kaitannya dengan ketaatan kita sebagai umat beriman.

Grup WA Kabar Baik kubangun bersama kawan-kawan beberapa tahun lalu dengan beberapa aturan dasar. Di antaranya adalah dilarang menggunakan bahasa lain selain Bahasa Indonesia dan dilarang mem-forward konten apapun itu.

Kebanyakan anggota grup berbahasa jawa sebagai bahasa ibu, termasuk aku. Sesuka-sukanya kami berkomunikasi dalam Bahasa Jawa tapi tetap saja harus menghadapi kenyataan bahwa kebanyakan bukan berarti semuanya. 

Sementara itu larangan untuk mem-forward konten semata karena kami mengarahkan grup sebagai sarana untuk belajar mengungkapkan refleksi diri terhadap Kabar Baik Tuhan baik melalui tulisan, lagu maupun jepretan foto. Kami tak mau grup WA Kabar Baik jadi grup sampah tempat orang mem-forward konten sebaik apapun itu :)

Nah, dua hari yang lalu, ada sebuah ?perlawanan?.

Seorang yang sudah beberapa bulan kuamati tingkah lakunya, membelot aturan. Mempermainkan dan memelintir seolah aturan adalah guyonan. Aku menanggapi hal itu dengan serius dan pada akhirnya orang tersebut mengundurkan diri sebelum kupaksa pergi.

Seseorang bertanya kepadaku melalu jendela privat, kenapa aku sebegitu serius menerapkan aturan? ?Toh hanya grup WA, Don?!?

Jawabku singkat, ?Ini soal ketaaatan!?

Ketaatan: tantangan

Salah satu tantangan bagi manusia yang memiliki kehendak bebas adalah hidup dalam ketaatan.

Di rumah, orang tua memberi aturan pada anak-anaknya untuk ditaati. Di masyarakat, pemerintah membuat aturan untuk ditaati. Jika kita melanggar, ada hukuman. Jika tidak, ada yang memberi penghargaan.

Namun seberat-beratnya tantangan, orang tua dan negara itu tampak kasat mata. Hukuman dan penghargaan pun juga jelas bisa dirasakan, dilihat dan dicerna dengan mudah.

Tantangan terberat untuk taat

Maka yang lebih berat lagi adalah tantangan bagi manusia yang memilih beriman kepada Tuhan.

Kenapa?
Tak ada satupun yang pernah melihatNya secara kasat mata.

Hukuman yang dijatuhkan dari ketidaktaatan juga tak bisa kita lihat. Hukuman yang berupa dibuang ke neraka baru bisa kita lihat saat akhir jaman nanti. Penghargaan atas ketaatan yang paling ultimatum dimana mereka yang dihargai akan diberi hidup kekal, juga baru bisa kita lihat nanti setelah mati. 

Tantangan tak berhenti di situ.

Kian hari kian banyak orang mempertanyakan hal-hal seperti misalnya, bagaimana kalau ternyata Tuhan itu tidak ada? Bagaimana kalau aturan yang kita taati selama ini ternyata bukan berasal dariNya? Bagaimana kalau surga dan neraka tidak pernah ada? 

Ranting dari pokok anggur yang benar

Salah satu yang jadi pegangan dari cara kita beriman dan taat di atas segala tantangan itu adalah seperti yang dinyatakan Tuhan Yesus dalam Kabar Baik hari ini,

Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. (lih. Yoh 15:4)

Ketaatan bagiku bukan pilihan. Ketaatan adalah panggilan. Kita dipanggil dan ditakdirkan menjadi ranting dari sebuah pokok anggur yang benar.

Persoalannya sekarang bagaimana kita bisa membangun ketataatan kepada Tuhan yang tak kelihatan jika untuk taat pada yang tampak dan kelihatan saja sulit?

Untuk itulah aku bangga dengan nature dari grup WA Kabar Baik yang kubangun sejak awal. Dari hal yang mungkin kecil dan sepele, aku mengajak kawan-kawan taat pada aturan supaya kita setia sejak hal-hal yang kecil karena dari yang kecil kita belajar setia pada hal-hal yang besar dan berujung pada kesetiaan kita terhadap Yang Maha Besar. (lih. Lukas 16:10)

Sydney, 22 Mei 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.