Kesempatan kedua

30 Okt 2018 | Kabar Baik

Seorang kawanku dulu pernah mengalami kecelakaan hebat. Tubuhnya tergilas truk berukuran besar, beberapa tulang rusuknya patah dan patahannya menyobek organ-organ di dalamnya. Operasi demi operasi harus dilakukan secepat mungkin kalau tidak ia bisa mati.

Setelah sembuh, perilakunya berubah. Ia yang tadinya tergolong anak badung, jadi lebih diam dan tidak banyak ulah.  ?Aku dapat kesempatan kedua dalam hidup, aku mau mencoba lebih baik lagi.? begitu katanya.

Dan pagi ini aku terkenang lagi pada peristiwa yang terjadi sekitar dua puluh dua tahun silam itu.

Menggunakan kacamata ?duniawi?, kita bisa saja bilang bahwa kecelakaan hebat itu terjadi tidak terkait dengan ?kesempatan kedua.? Kecelakaan itu terjadi bisa saja karena ia yang lalai dalam berkendara dan konon malam itu, sebelum terjadinya kecelakaan, ia memang sedang mabuk berat.

Katakanlah memang gara-gara mabuk berat lalu hal itu membuatnya mengalami kecelakaan, kenapa pula ia masih hidup?

Lagi-lagi, menggunakan kacamata ?duniawi?, kita bisa bilang bahwa ia masih hidup karena sigapnya para penolong, termasuk dokter yang langsung mengoperasi atau bisa jadi karena bagian yang terlindas bukan bagian yang langsung membuatnya bisa mati seketika.

Tapi di tengah pertanyaan-pertanyaan tersebut, kawanku dengan bijak memilih menyimpulkan bahwa apapun yang menyebabkan kecelakaan terjadi dan ia masih hidup hingga saat ini, itu semua adalah karena anugerah Tuhan yang diberikan, sebuah kesempatan kedua dalam hidupnya.

Firman Kabar Baik hari ini kira-kira mengatakan hal yang sama. Perumpamaan Yesus begitu menarik. Hidup bagaikan pohon ara yang tumbuh dalam kebun anggur milik seseorang. Suatu hari ia datang untuk mencari buah yang barangkali ada.

Tapi tak satupun ditemukan. Orang tadi mengeluh kepada si pengurus kebun, ?Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma!? (lih. Lukas 13:7)

Si pengurus tahu kecewanya si pemilik. Ia menyarankan satu usul, ??Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!” (lih. Lukas 13:8)

Pohon itu diberi kesempatan kedua untuk berbuah. Kita telah diberi kesempatan dalam hidup untuk berbuah, mari bertanya dalam diri secara jujur, sudah berbuahkah kita? Jika belum, usahakanlah segera karena sejatinya kita tidak pernah tahu sudah berapa banyak kesempatan yang diberikan Tuhan kepada kita dan akan ada berapa lagi yang masih tersisa?

Sydney, 30 Oktober 2018

Jangan lupa isi Survey Kabar Baik 2018. Hasil isian kalian dalam survey tersebut sangat mempengaruhi bagaimana pola tulisan dan distribusi renungan Kabar Baik ini akan berkelanjutan. Klik di sini untuk informasi selengkapnya!

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.