Kerja! Kerja! Kerja!

11 Okt 2018 | Kabar Baik

Proses pemilihan murid Yesus ternyata tidak melalui acara seremonial yang aneh-aneh. Malah, setelah proses pemilihan, seperti ditulis Lukas hari ini, Yesus bersama para murid langsung turun gunung dan melayani banyak orang; memberi pengajaran dan menyembuhkan sakit.

Mereka tak mengambil jeda barang sedikit pun, waktu begitu berharga untuk dilewatkan dengan percuma pokoknya kerja, kerja dan kerja!

Tapi apakah Yesus dan para murid tidak mengenal istirahat? Tentu istirahat lah! Yesus kan manusia meski Ia juga adalah Tuhan. Buktinya waktu mereka sedang menyeberang danau, Yesus tertidur di buritan kapal yang dikemudikan para murid seperti ditulis dalam Markus 4:38.

Jadi pelajaran apa yang bisa direnungi dalam Kabar Baik ini? Bagiku, Yesus menunjukkan bahwa bekerja itu jangan santai-santai. Santai ada masanya yaitu saat beristirahat.

Pernahkah kita terjebak untuk santai saat bekerja?

Misalnya sedang diberi tugas menyelesaikan satu pekerjaan dalam satu hari. Karena terasa mudah, alih-alih menyelesaikan secepat dan sebaik mungkin, kita malah santai-santai. Buka gawai, ngecheck situs berita kesayangan, ngecheck grup-grup WA yang kita ikuti hingga bersocial media sesiangan.

Begitu sadar waktu sudah menunjuk pukul tiga dan kita kelimpungan. Alhasil, kita bekerja dalam waktu yang sempit nan tergesa-gesa dan akhirnya yang kita dapat bukanlah hasil yang maksimal.

Santai pada saat bekerja adalah godaan dan hari ini aku merenungi beberapa pokok penting supaya tak santai saat bekerja bersumber dari teladan Yesus.

Fokus pada tujuan

Hidup Yesus digerakkan oleh tujuan ilahi, menjalankan karya keselamatan manusia dari BapaNya. Untuk itu, Ia fokus pada karya tersebut. Ia tak mengijinkan kepentinganNya, kepentingan para murid bahkan umat mendominasi hidupNya.?

Fokus pada tujuan membuat seseorang merasa berkewajiban untuk menyelesaikannya. Fokus meniadakan santai meski untuk tetap fokus kita harus mengambil waktu istirahat secukupnya.

Sebagai seorang ayah dan suami, fokus hidupku adalah membahagiakan keluargaku. Membahagiakan tak hanya dari sisi rohani tapi juga jasmani. Untuk itu aku bekerja, membanting tulang demi tercukupinya kebutuhan mereka yang membuat kebahagiaan itu ada.

Waktu yang terbatas

Yesus juga tahu waktuNya untuk menyebarkan Kabar Baik di muka bumi itu terbatas. Untuk itu Ia bekerja dengan efektif dan efisien. Tak mau berlama-lama di satu tempat, Ia bersama para murid berpindah ke kota-kota lain. Efisiensi dan efektivitas membuat rasa santai tak muncul dalam bekerja meski seperti halnya tentang ?fokus? di poin atas, untuk menjaga efisiensi dan efektivitas, seseorang harus memberi jeda istirahat secukupnya.

Bayangkan kalau Yesus tak menyadari bahwa waktuNya terbatas. Ia barangkali bisa santai-santai juga dalam mengerjakan karya keselamatan yang diembankan BapaNya.

Dalam hal ini aku tertarik pada Pak Jokowi, bukan sebagai pembanding tapi lebih bagaimana mencari contoh hidup yang ada di sekitar kita tentang kerja, kerja dan kerja! Pak Jokowi sadar waktu jabatannya sangat terbatas; kalau tak terpilih tahun depan, tugasnya akan berakhir 2019 tapi kalau terpilih sekali lagi, ia berkuasa hingga 2024. Keterbatasan itu membuatnya bekerja keras untuk mencapai tujuan yang diemban sejak terpilih sebagai presiden, 2014 silam.?

Bagaimana dengan kita?

Apa pandangan kita terhadap masa jabatan? Adakah kita memandangnya sebagai kesempatan untuk melakukan banyak hal sesuai tujuan atau justru sebaliknya bersantai-santai seperti orang tak punya tujuan atau memang tujuannya hanya untuk bersantai-santai saja?

Kerja! Kerja! Kerja!?

Kelapa Gading, 11 Oktober 2018

Jangan lupa isi?Survey Kabar Baik 2018. Hasil isian kalian dalam survey tersebut sangat mempengaruhi bagaimana pola tulisan dan distribusi renungan Kabar Baik ini akan berkelanjutan.?Klik di sini?untuk informasi selengkapnya!

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.