Kerasukan roh jahat. Apakah seperti yang ada di film-film horor saja?

13 Okt 2017 | Kabar Baik

“Apabila roh jahat keluar dari manusia, iapun mengembara ke tempat-tempat yang tandus mencari perhentian, dan karena ia tidak mendapatnya, ia berkata: Aku akan kembali ke rumah yang telah kutinggalkan itu.”
(Lukas?11:24)

Kamu pernah kerasukan roh jahat?
Aku sering!

Hah, kamu kerasukan, Don?
Iya!

Kapan?
Tiap aku malas kerja, tiap aku malas berdoa, tiap aku malas ke gereja, tiap aku berpikir yang enggak-enggak, tiap aku berpikir untuk membalas dendam, tiap aku berpikir untuk mencari jalan singkat yang melawan Tuhan atas persoalan-persoalan hidup? disitu aku merasa kerasukan.

Lho, kerasukan itu kan yang kayak di film-film itu, Don?
Ya boleh saja berpikir begitu tapi bagiku kalau kerasukan hanya didefinisikan seperti itu, lantas siapa yang bermain atas kejadian-kejadian jahat yang terjadi di seluruh penjuru dunia?

Apa yang merasuki orang-orang yang korupsi? Apa yang merasuki politisi-politisi yang memainkan skenario busuk demi kekuasaan? Apa yang merasuki para pembunuh dan pemerkosa? Apa yang merasuki para pelaku selingkuh dari pasangannya?

Dalam Kabar Baik hari ini, Yesus seperti ditulis Lukas melukiskan tentang bagaimana roh jahat itu bekerja.

Ketika ia keluar dari kita, ia, bagai lagu lawas Indonesia, pergi untuk kembali. Ia pergi dan mencari bala bantuan yang kuat untuk kembali masuk kepada manusia menghancurkan.

Maka dari itu, sebaiknya kita tidak sombong ketika kita telah merasa giat beragama, baik terhadap sesama karena sekuat-kuatnya kita, kita adalah manusia.

Wah tapi kalau begitu berarti kuasa Tuhan itu nggak kuat karena kuasa jahat bisa masuk lagi?

Tentu tidak demikian. Kalau Tuhan mau tentu Ia bisa membuat mereka tak bisa masuk lagi. Tapi kita adalah makhluk yang diberi kebebasan berkehendak yang amat dihormati oleh Tuhan sendiri. Kita menerima Tuhan karena kita membuka hati terhadapNya, kita menolak kuasa jahat karena kita menutup diri kepadanya. Semua berawal mula dari keputusan. Kuasa jahat masuk melalui keputusan-keputusan hidup yang salah yang kita lakukan.

Para koruptor memutuskan untuk mencuri karena ingin cepat kaya, para politisi memilih cara-cara jahat untuk membasmi saingannya, para pembunuh dan pemerkosa mengikuti nafsu hewannya, para penyelingkuh mengkhianati pasangannya? di titik-titik itulah kuasa jahat kembali hadir.

Maka, berhati-hatilah dalam berkeputusan. Libatkan pemikiran-pemikiran baik, serahkan diri dalam bimbingan Roh Kudus sehingga yang menjadi keputusan adalah yang terbaik menurutNya dan kuasa jahat tak memiliki tempat.

Ada amin? Amin!

Sydney, 13 Oktober 2017

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.