Keputusan Jackson

8 Jan 2017 | Cetusan

Setiap orang akan dikenang dari keputusan-keputusan yang pernah dilahirkannya…

Jackson Wilhelmus, 40 tahun, memutuskan untuk memberikan ban pelampung penyelamat kepada seorang ibu yang tengah hamil supaya dapat hidup setelah kapal yang ditumpangi, Zahro Express terbakar lalu tenggelam di perairan lepas utara Jakarta, 1 Januari 2017 silam.

Keputusan Jackson berakibat fatal, nyawanya tak terselamatkan, ia adalah satu dari 24 korban meninggal kejadian tersebut.

Mengenaskan?
Tergantung darimana kita melihatnya. Tapi bagiku, Jackson mati mulia.

Jackson telah memberikan hal paling besar yang bisa diberikan manusia kepada manusia lainnya yaitu nyawanya sendiri. Kalau mau mencari padanannya, Jackson barangkali seperti Riyanto, anggota Banser NU yang tewas memeluk bom yang diledakkan teroris saat perayaan Natal tahun 2000 silam di Mojokerto, Jawa Timur.

Padahal Jackson juga bukannya tanpa tanggungan. Anaknya tiga masih kecil-kecil, masih butuh dukungan tak hanya material tapi juga pendampingan seorang ayah. Tapi rupanya Jackson telah berkeputusan…

Apakah dengan begitu keputusan Jackson adalah keputusan yang selfish, sehingga ia tak memikirkan keluarganya?

Bagiku tidak juga. Justru kelak anak-anaknya tak akan kerepotan untuk mencari figur seorang pahlawan karena sosok itu ada pada almarhum ayah mereka yang dengan gagah berani mengorbankan nyawa untuk sesamanya.

Sedangkan bagi kita, keputusan jackson ini mmeberi kita gambaran yang jelas tentang seperti apakah sosok pahlawan dan sosok suci itu.

Suci telah diredefinisi.
Ia bukan sesosok tubuh yang mengenakan jubah, menggenggam tasbih dan sedikit-sedikit latah menyerukan nama Yang Kuasa tapi di belakangnya main gila dengan wanita dan harta.

Sosok suci juga bukan pada sesosok tubuh yang hanya rajin berdoa dan ke gereja tapi di halaman parkir gereja sudah main kata-kata’an dengan mereka yang mencoba merebut tempat parkir secara ngawur.

Suci juga bukan pada sesosok tubuh yang rajin memberikan pengajaran, renungan dan menuliskan Kabar Baik setiap hari sepertiku…

Suci ada pada pikiran. Suci ada pada tindakan yang dihasilkan dari sebuah keputusan!

Jackson berprofesi sebagai Disc Jockey, orang yang kerjanya malam hari bertattoo dan tak tahu (dan aku tak mau tahu) apakah ia rajin ke gereja, rajin berdoa, rajin berdevosi atau pernahkah ia berziarah di tempat-tempat suci di dunia. Hal-hal tersebut bukannya lantas jadi tak penting lagi, tapi kita seperti diberi penglihatan baru bahwa ternyata ada yang lebih penting dari sekadar hal-hal yang kita pikir adalah yang paling penting selama ini!

Jackson tak mati mengenaskan karena sejatinya ia justru tak pernah mati dan tak pula kehilangan nyawanya. Ia hanya memberikan nyawa ‘fana’nya kepada seorang lain dan kini ia telah mendapatkan hidup abadi dengan nyawa yang tak kan pernah bisa dan tak perlu untuk dikorbankan lagi.

Selamat jalan Jackson… Selamat berjumpa dengan Sang Maha Kasih yang sudah lebih dahulu mengorbankan nyawaNya, dua ribu tahun yang lalu.

Credit photo: @jw_xoneclub – Instagram

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.