Kepasrahan Maria

13 Sep 2019 | Kabar Baik

Kisah tentang bagaimana Maria didatangi Gabriel yang mengabarkan bahwa dirinya akan mengandung bayi Yesus selalu menggelitik dan menarik. Kali ini aku ingin merenungi kepasrahan Maria. Bagaimana sih kepasrahan Maria itu? Bagaimana kita bisa belajar darinya?

Seperti dilukis Lukas hari ini, Gabriel mendatangi Maria dan memberi salam, ?Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” (Lukas 1:28)

Hal ini membuat Maria terkejut dan membuatnya bertanya-tanya dalam hati apakah arti dari salam itu. (Lukas 1:29)

Selanjutnya Gabriel memberitahu maksud kedatangannya. “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.? (Lukas 1:30)

Bagaimana reaksi Maria?

Ia berkata, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” (Lukas 1:34)

Malaikat menjawab bahwa Roh Kudus akan turun di atasnya . Ketika Maria masih bingung, Malaikat Tuhan itu mengimbuhkan, ?Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” (Lukas 1:37)

Kepasrahan Maria

Maria lantas menjawab, ?Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Lukas 1:38)

Jadi kalau kita perhatikan, Maria awalnya terkejut lalu bingung karena ia berusaha memasukkan segala yang terjadi mulai dari kedatangan Gabriel yang mengejutkan dan belum pernah ditemuinya sebelum itu, lalu tentang apa yang dikatakan Gabriel ke dalam akal manusia Maria.

Akalnya meminta penjelasan dan aku sendiri tak yakin bahwa Maria waktu itu benar-benar sudah mengerti apa yang dimaksud Gabriel. Tapi tampaknya apa yang dikatakan Gabriel terkait bahwa tak ada yang mustahil bagi Allah yang membuat ia akhirnya pasrah dan sebagai orang beriman, ia tahu bahwa hal itu adalah benar adanya.

Sebagai orang yang beriman, kita percaya bahwa apa yang terjadi di dunia ini adalah seturut kehendakNya atau setidaknya diijinkan untuk terjadi dengan maksud-maksud yang kita tak kan pernah bisa mengetahuinya.

Banyak hal yang terkadang tak masuk di akal namun terjadi baik yang menurut kita buruk maupun menyenangkan adanya.

Kepasrahan Kita

Lalu bagaimana kita menyikapi hal tersebut? Bagaimana ketika misalnya suatu waktu kita menerima berkat melimpah? Dagangan kita laku keras atau prestasi kita diakui oleh bos dan membuat kita mendapat kenaikan gaji dan promosi jabatan. Adakah kita percaya bahwa itu adalah hal yang datang dariNya atau jangan-jangan kita mengklaim bahwa itu semua adalah berkat usaha dan kepandaian kita saja?

Atau ketika suatu waktu orang tua kita terserang penyakit? Sahabat kita dipanggil Tuhan? Adakah kita mau mencari wajahNya dan memohon petunjukNya? Atau jangan-jangan kita lantas jadi putus harapan dan menyerah begitu saja karena toh kita ini hanya hamba?

Di sudut ini terkadang kita menilai kepasrahan dari sudut pandang yang kurang tepat. Pasrah bukannya putus harapan dan menyerah. Pasrah justru bertekun dan semakin kuat menjalankan apa yang sudah digariskan Tuhan seperti Maria.

Pernahkah kalian membayangkan kalau kepasrahan Maria adalah kepasrahan yang penuh keputusasaan dan gampang menyerah?

Sydney, 12 September 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.