
Sejak beberapa bulan lalu, aku mengistirahatkan earphone nirkabel dan menggantinya dengan earphone berkabel. Beberapa tahun sebelumnya, aku memutuskan tidak lagi menggunakan smart watch dan beralih ke jam analog.
Terakhir kali aku berganti telepon genggam sudah lebih dari tiga tahun lalu juga padahal sebelum-sebelumnya, setiap tahun, setiap Apple merilis iPhone versi terbaru, aku selalu menukar yang lama untuk mendapatkan yang anyar.
Mengapa demikian?
Bukan melulu soal uang karena di Australia membeli ketiga hal di atas bisa dalam wujud cicilan terjangkau yang disediakan operator jaringan. Tinggal datang ke counter, ngurus ini itu gak sampai setengah jam, barang sudah di tangan!
Tapi karena aku ingin menunjukkan setidaknya kepada diriku sendiri bahwa di tengah modernisasi yang sedemikian mutakhir dan menggoda ini, aku tetap punya kendali atas hal-hal apa yang perlu kubeli dan kukonsumsi dan hal-hal lainnya yang kuputuskan untuk tak kumiliki.
Earphone nirkabel tentu menyenangkan tapi bukan berarti yang berkabel itu gak bisa lagi digunakan. Memang menyebalkan karena kadang tersangkut ayunan tangan dan jatuh ke lantai atau saat ada panggilan masuk mendadak, aku harus mengurai kabelnya dulu.
Begitu juga jam analog! Gimana pun juga tetap enak smartwatch lah!
Semua hanya butuh terbiasa dan bukankah dulu sebelum ada yang modern dan mutakhir, kita terbiasa deal dengan hal-hal seperti itu bahkan banyak yang lebih buruk dan bikin kesal tapi kita OK-OK saja?
Tapi tentu tak semuanya harus dibikin begini. Ketika dirasa perlu, banyak manfaatnya dan dalam jangkauan ya kenapa tidak?
Misalnya, dua bulan lalu kami memutuskan untuk beralih dari mobil BBM ke mobil listrik. Alasannya ada dua. Pertama, harga bensin di sini naik tinggi banget seiring perang yang terus berkelanjutan di Timur Tengah sana.
Kedua, pemerintah Australia memberikan bantuan uang untuk warga yang rumahnya dipasang solar panel tenaga surya dan batere rumah. Artinya, kalau aku punya mobil listrik, ongkos charging-nya pun bakal nol karena tenaganya langsung dapat dari tenaga surya yang disimpan di batere rumah. Bahkan gak cuma itu, tenaga surya yang tak terpakai bisa dijual ke perusahaan listrik negara untuk mendapatkan uang. Aneh tapi asik, kan? :)
Contoh lain adalah saat dua tahun lalu aku membeli smart glasses, Rayban Meta dan ada teman bilang “Kamu katanya mau mengendalikan gadget tapi kok tetap beli smart glasses? Gak konsisten!”
Konsistenlah!
Karena alasannya menurutku masuk akal. Aku mendapatkan smart glasses itu secara cuma-cuma dari asuransi yang kubayar setiap bulannya. Jadi kalau gak kuambil, uang jatah itu akan hangus begitu saja. Tapi apakah kemudian aku akan membeli versi terbaru dari smart glasses atau kembali ke kacamata model biasa, itu masih kupertimbangkan. Pertimbangannya bukan tentang bagus-tidaknya tapi perlu-tidaknya karena seperti kutulis di awal, aku tetap harus punya kendali terhadap apapun yang akan kupakai dan kubeli, serta hal-hal lain apa saja yang kuputuskan untuk tak ku konsumsi.
Tinggalkan Balasan