Kenapa Tuhan dibaptis?

8 Jan 2018 | Kabar Baik

Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nazaret di tanah Galilea, dan Ia dibaptis di sungai Yordan oleh Yohanes.
(Markus 1:9)

Katekismus Gereja Katolik (KGK) 1257 menyatakan bahwa pembaptisan itu perlu untuk keselamatan. Hari ini Gereja Katolik memperingati Pesta Pembaptisan Tuhan.

What?
Tuhan dibaptis?
Apa perlunya Ia dibaptis?
Apakah masih ada hal daripadaNya yang belum terselamatkan?

Melalui akun Facebooknya, Prof. Dr. BS Mardiatmadja, SJ atau yang akrab kupanggil Romo Mardi itu menulis begini tadi pagi:

Dan aku setuju!
Menyediakan diriNya dibaptis oleh Yohanes adalah tanda betapa Yesus hendak menunjukkan rasa solidaritas/berbela rasa terhadap kita yang berdosa. Melalui Yesus, Tuhan menampakkan diri sebagai pribadi yang tidak berjarak terhadap kita ciptaanNya.

Kita patut mensyukuri hal itu. Meski bagiku hal itu tidaklah cukup. Ketika dibaptis kita berjanji dan janji adalah hal yang harus ditepati terlebih janji yang kita lakukan kepada Allah.?Janji-janji itu selalu kita perbaharui setiap perayaan Malam Paskah. Ada tiga janji.

Janji Menolak Kejahatan Dalam Diri Sendiri dan Masyarakat

Kita menyatakan menolak terhadap kejahatan. Hal terkait kejahatan tak melulu hal yang ?besar-besar? seperti misalnya pembunuhan, korupsi uang milyaran, selingkuh.

Kejahatan juga menyangkut hal-hal ?kecil? seperti misalnya menggosip karena dari gosip kita sedang melakukan pembunuhan karakter seseorang.

Janji menolak godaan-godaan setan dalam bentuk takhayul, perjudian dan hiburan yang tidak sehat.

Kita juga menyatakan menolak! Tapi apakah kita benar-benar sudah bisa lepas dari pengaruh takhayul? Bagaimana panas-dinginnya kita ketika membaca ramalan bintang karena kita terlalu percaya kepada ?apa kata zodiak?? Juga perjudian dan hiburan yang tidak sehat seperti misalnya prostitusi atau bahkan bukankah main game atau bersocial media di handphone tapi mengganggu keluarga juga jadi nggak sehat?

Janji menolak segala tindakan dan kebiasaan tidak adil dan tidak jujur yang melanggar hak-hak asasi manusia

Lagi-lagi kita menolaknya! Tapi, hey?. bagaimana dengan kaum LGBTQ? Sudahkah kita berlaku adil dan menghormati pilihan orientasi seksual mereka? Bagaimana dengan sikap kita terhadap orang-orang yang dihilangkan secara paksa pada era 1998 lalu? Juga, kenapa kita diam saja melihat pemerintah yang tak kunjung menyelesaikan perkara hak asasi manusia saat terjadinya genosida pasca gestapu 1965?

Karena kita berjanji, marilah kita menepati seperti halnya Yesus yang dibaptis hari ini dan sepanjang hidup yang diberikan kepadaNya adalah penepatan janji-janji itu sendiri…

Sydney, 8 Januari 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.