Kenapa track record pacaran caleg/capres harus diperhatikan?

2 Mei 2019 | Cetusan

Pesta demokrasi berjudul Pilpres dan Pileg 2019 yang baru lalu tak selayaknya pesta pada umumnya! Pesta harusnya menggembirakan tapi yang terjadi ada sisi getir nan memilukan. Menyesakkan meski? terkadang, maaf, malah jadi menggelikan!

Seorang calon anggota legislatif di Kabupaten  Nagekeo, NTT, menutup akses jalan ke pemukiman penduduk menggunakan batu, pasir dan tanah karena kalah, tidak terpilih!

Di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, seorang calon anggota legislatif menganiaya ketua KPPS karena kalah.

Lain lagi dengan yang terjadi di Sumatera Barat. Pemprov bahkan sudah menyiapkan Rumah Sakit Jiwa (RSJ) HB Saanin untuk menerima para caleg yang kalah yang mengalami gangguan jiwa!

Itu baru di ?Pileg?! Dalam Pilpres? Ah, tak perlu kusebut dan tuliskan kalian sudah tahu lebih daripadaku, kan?!

Perhatikan track record pacaran!

Mereka kecewa karena kalah. Padahal kekalahan harusnya jadi momentum untuk belajar banyak hal sehingga kalau di depan masih diberi kesempatan, kita bisa mengusahakan kemenangan lebih baik lagi!

Maka dari itu, partai-partai politik seharusnya memberi batasan dan kriteria baru pada para caleg dan capres/cawapres yang akan maju, sebagus apa track-record pacaranmu!

Lho, apa hubungannya?

Begini!

Bagi sebagian besar orang, momentum mencari dan nembak pacar pada usia puber adalah momentum yang memakan tenaga, pikiran dan tak jarang? biaya! Sama dengan ajang pilpres dan pileg, momentum yang perlu perhatian, pikiran dan uang yang tak sedikit!

Waku muda dulu, akupun mengalami hal yang sama.

Semua bermula karena aku mulai terhinggapi rasa gugup nan panik melihat banyak kawan seusia mulai tak sendirian ketika malam minggu tiba. Mereka berboncengan di atas dua roda, bergandengan bahkan tak malu-malu saling memeluk dan berciuman.

Sementara aku bisanya cuma manyun dan iri!

Maka kumulailah proses pencarian pacar. Saking pengennya punya pacar, pernah ada satu masa dimana hampir sebulan sekali aku ?nembak cewek? untuk kujadikan pacar.

Pokoknya asal nggak jelek-jelek amat, kuajak dia berkenalan. Sudah mau kenal? Kuajak nonton film dan makan. Mau juga? Kuulangi empat kali setiap malam minggu dan pada hari minggu yang keempat, sepulang gereja, kutembak untuk kujadikan pacar!

Berkali-kali hal seperti itu kulakukan dan berkali-kali pula aku ditolak. Alasannya macam-macam. Mulai dari yang, ?Kita temenan dulu aja!? sampai ?Kupikir kamu nraktir itu nggak ada pamrihnya, Don!?

Tapi dari situ aku belajar banyak! 

Dan pelajaran ini yang kupikir harusnya dimiliki dan didapatkan para caleg dan capres/cawapres pula!

Biaya

Pertama, soal biaya.

Mendekati calon pacar itu perlu biaya tapi selumrahnya saja. Terlalu sedikit dibilang pelit! Terlalu banyak,alih-alih dibilang tajir yang ada malah kamu rugi! Dalam pilpres dan pileg juga demikian baiknya. Tak keluar duit? Niat ikut pemilihan nggak sih? Siapa yang bayar saksi?

Tapi keluar duit terlalu banyak? Kalau menang bayar pakai apa supaya tak tertangkap KPK? Kalau kalah, rumah, sawah mobil bahkan rasa malu untuk dijual pun tak lunas menutupnya!

Tenaga

Kedua, soal tenaga.

Jangan loyo tapi juga jangan terlalu ngotot ketika PDKT. Kalau loyo dan ditolak ya wajar karena keloyoanmu adalah tanda ketidakseriusanmu dalam mengejar. ?Kayak cowok nggak punya tulang belakang!? begitu kata orang.

Tapi terlalu ngotot juga jangan! Pacaran adalah proses panjang yang syukur-syukur berujung pernikahan. Kalau kamu ngotot di awal, seberapa lama kamu bisa menunjukkan dan mempertahankan kengototan itu? Jangan-jangan tak lama lalu loyo?

Dalam pilpres dan pileg juga begitu. Terlalu loyo adalah tanda kamu tak serius nyaleg dan nyapres. Terlalu ngotot dan tak terpilih? Kamu akan punya kecenderungan untuk menuntut kengototanmu itu terongkosi balik! Entah itu dengan kemenangan yang dipaksakan atau pura-pura menang! Pokoknya ngotot dan menang? dan stress!

Pacaran, target dan realita

Ketiga, soal target dan realita.

Mendekati pacar itu tak harus selamanya diterima. Kenapa? Kalau dasarnya cinta, bukankah ia bisa diubah wujudnya? Tak melulu harus jadian karena berkawan barangkali lebih cocok? Atau, kenapa tak mencoba masuk zona ?kakak-adek?? Banyak lho yang akhirnya sukses pacaran justru dengan ?strategi? kakak-adek-an di permulaan!

Lagipula seorang kawan yang bijak bestari pernah berpetuah, ?Apa yang kamu cari dari pacaran? Kalau cuma ciuman dan bergandengan tangan bahkan ngeseks, hal-hal itu tak mutlak perlu didapat dari pacaran, Bung!?

Dalam pileg dan pilpres juga sama, ?Apa yang kamu cari dari kemenangan menjadi presiden atau anggota legislatif? Kalau yang kamu cari adalah membangun dan membela nusa serta bangsa, hal itu bisa ditempuh melalui cara lain tak harus jadi anggota parlemen dan tak perlu jadi presiden!?

Bagi kalian, semoga lekas ?sembuh?!

Berita terkait:

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.