Kenapa sih demen banget unggah foto jenasah?!?

10 Jun 2017 | Cetusan

Hal yang paling bikin ‘deg-degan’ dan ‘grogi’ serta ‘ngeri-ngeri sedap’ setiap ada kaum kesohor di Tanah Air meninggal dunia adalah, dalam hitungan berapa menit sampai muncul foto jenasahnya di linimasa baik media mainstream, blog, situs abal-abal hingga akun twitter dan facebook.

Berbeda dengan di sini dan negara-negara barat lainnya, amat jarang dan malah tak pernah ada foto jenasah yang disebarluaskan! Coba pernah nggak kamu menemukan foto jenasah David Bowie, George Michael, Steve Jobs, Prince, Chris Cornell dan lain-lainnya? Tidak, kan?

Kenapa? Acara-acara funeral/layatan di sini berlangsung secara privat dan intens. Jadi aku tak bisa membayangkan kalau saat maju ke depan peti untuk menghormati jenasah lalu tiba-tiba ada seseorang yang minta waktu lebih ke panitia, “Sebentar, sebentar saya mau foto jenasahnya dulu ya buat kuviralkan!”

Terus terang aku keberatan ketika ada ‘tayangan’ foto jenasah di linimasa.

Aku yakin aku tak sendirian tapi ada baiknya aku mengemukakan alasanku akan keberatan ini.

Serem
Jujur nih, aku penakut! Badanku besar tapi hatiku lembut hahahaha! Kalau ngeliat foto jenasah, ingatanku bisa tak hilang berjam-jam bahkan berhari-hari. Bayangan itu menghantui dan membuat hariku begitu sensitif karena jadi gampang bete! Tapi herannya, saat melayat dan menyaksikan langsung jenasah, pengalaman seperti itu tak pernah terjadi, biasa saja.

Entah kenapa aku merasa serem melihat foto jenasah! Mungkin karena pengaruh film-film horor yang kuasup waktu kecil yang sialnya selalu mengaitkan hantu dan makhluk hasil dengan orang mati, dengan jenasah.

Sedih
Semua orang akan mati, termasuk aku dan kamu, kita dan kalian. Tapi melihat orang mati tetap saja menyedihkan karena mengingatkan pad akematian. Istilahnya setelah sehari-harian riang ria menikmati hari dan pertemanan, begitu buka facebook scroll ke bawah nemu foto jenasah… sedih iya, serem juga!

Udah minta ijin?
Bukan! Bukan minta ijin ke keluarganya tapi ke jenasahnya. Harusnya itu jadi pedomanmu untuk memotret dan mengunggah foto jenasah ke social media atau blog atau apapun itu yang sifatnya publik.

Ketika kamu maju ke depan peti lalu diam-diam mengeluarkan kamera, harusnya kamu tanya dulu ke jenasahnya, bisikkan ke telinganya apakah ia mau difoto atau enggak. Tunggu sampai dia bilang “Iya, Mas! Silakan!” Nah, baru deh kamu potret… jepret!

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.