Kenapa semakin hari semakin bosan dengan acara talkshow politik di televisi?

1 Nov 2018 | Cetusan

Apa yang masih menarik dari talkshow yang terhubung dengan tema-tema politik di televisi akhir-akhir ini? Tidak ada selain untuk memuaskan naluri kebinatangan kita dalam melihat sebuah aduan, kompetisi. Selebihnya, kebanyakan acara talkshow bertema politik adalah sampah yang mengotori frekuensi!

Alasannya?

#1 Saling adu ngeles
Para narasumber yang saling dihadapkan, ketika dilontari persoalan oleh pembawa acara, biasanya cenderung tidak mencari penyelesaian tapi saling adu ngeles untuk dua hal.

Pertama, persoalan itu bukan kelompoknya yang bikin. Kedua, persoalan itu pasti bikinan kelompok lawan! Alhasil ya hanya lempar-melempar begitu saja dan persoalan tak memiliki jawaban?

#2 Tak semua penonton itu sebodoh mereka!
Demi memenangkan posisi diri maupun calon yang diusung, seorang narasumber kadang tak ragu untuk terjun dalam lembah kebodohan dengan membangun narasi-narasi yang berseberangan dengan fakta yang ada.

Misalnya seorang narasumber dengan sok yakin berkata bahwa calon yang diusungnya adalah orang pertama di tingkat regional yang mendaki hingga puncak gunung tertinggi di Neptunus sana!

Narasumber tadi padahal tahu hal itu tidak benar, tapi demi menjangkau penonton-penonton bodoh, ia menerjunkan diri ke lembah kebodohan dan menganggap bahwa yang ia katakan seolah-olah benar!

Sayangnya tak semua penonton itu bodoh meski ada potensi karena dibodohi berkali-kali, penonton yang tadinya cerdas? pun jadi ikutan bodoh! Maka? Matikan TV!

#3 Ngomongnya tumbukan
Yang paling mengganggu, pembicaraan para narasumber seringkali saling menimpali di saat bersamaan. Alhasil, ide yang dibawa narasumber satu tak terdengar karena dengungan suara narasumber yang satunya. Kalau sudah demikian lalu apa gunanya sebuah interaksi?

Para narasumber yang saling berdengung itu tak ubahnya seperti sepasang yang sedang bercinta dan saling melontarkan lenguhan tiada guna dan tiada makna meski kita tahu itu adalah tanda-tanda pencapaian klimaks.

Pertanyaannya dua?
Pertama, apakah para narasumber itu mencapai klimaks hanya dengan saling berdengung?

Kedua, apakah kita mau nonton orang lain yang sedang berjuang mencapai klimaks syahwatnya? Mending ngelakuin sendiri kan? So, matikan TV!

#4 Pembawa acara yang belagu
Tatapan yang tajam, suara yang sember, dandanan yang dibikin nyentrik. Lontaran kalimat yang sok yakin, pilihan diksi yang intimidatif dan tawa sumir yang menyepelekan.

Semua adalah ciri para pembawa acara talkshow masa-masa ini meski tak semua pembawa acara talkshow bercirikan demikian!

Pesan yang ingin tercipta barangkali cerdas, elegan dan berbeda tapi yang muncul justru sebaliknya, tak pintar, sama saja dengan para narasumber dan? belagu!

#5 Pembawa acara yang pura-pura netral
Kenapa pembawa acara biasanya ditempatkan di tengah para narasumber yang dikelompokkan? Supaya ia menengahi kedua kelompok yang diundang.

Tapi alih-alih netral, banyak pembawa acara yang sejatinya tidak demikian. Mereka membantu salah satu kelompok dengan misalnya mengundang lawan-lawan yang tak simbang dari kelompok lainnya. Mereka mengusahakan bantuan berupa umpan-umpan framing yang memojokkan sehingga tinggal di-gong-i saja oleh lawan dengan mudah.

Obyektifitas tak ubahnya seperti tai kucing atas nama jurnalisme di jaman edan ini!

#6 Toh abisnya salaman juga
Saling gontok, saling dengung, saling serang eh? setelah acara saling rangkulan dan berfoto bersama alias selfie.

Kesan yang ditunjukkan? Mereka bisa berdamai meski gontok-gontokan!

Kesan yang kutangkap? Kalau memang mereka bisa berdamai kenapa harus menunjukkan ciri-ciri orang yang meyakinkan seolah mereka hanya bisa bertikai?

Katakanlah mereka mudah berdamai, barangkali mereka lupa bahwa para penonton yang semakin terbelah tak semuanya punya kemudahan untuk berdamai seperti itu! Hal-hal yang mungkin dianggap para narasumber, pembawa acara dan pemilik stasiun televisi sebagai hiburan, bagi rakyat bisa jadi pagar yang kokoh untuk tak saling sapa dengan sesama!

Kalau memang akhirnya bisa berdamai dan selfie bersama, misalnya, kenapa tak berdiskusi dalam bahasa dan cara yang mudah dicerna bahwa mereka tidak bertikai?

Mereka itu narasumber atau pemain drama? Pembawa acara atau badut yang bisa dengan mudah menggambar wajah tersenyum atau cemberut dengan celak warna tanpa harus benar-benar tersenyum atau cemberut?

Sebarluaskan!

2 Komentar

  1. Wahai saudara-saudaraku, mari kita waspada, kedaulatan ada ditangan kita, apapun yg mereka rencanakan mereka akan memakai tangan2 kita utk memuluskan aksi jahatnya itu. Ketika Engkau telah memberi seorang yg tulus utk membangun negeri ini, sangat banyak korporasi sijahat yg menghadang dia (Jokowi)
    #Rapatkanbarisan
    #UtkIndonesiadamai
    #salam01jempolperdamaian
    ===================================

    Last Mission Menghabisi Jokowi.

    Kebetulan kemarin saya ada agenda meeting di salah satu perusahaan saya di Jalan Tambak. Menteng. Sebelum kekantor saya mampir sebentar ke gedung bank, yg ada dibilangan Sudirman. Karena sahabat saya dari Singapore ingin bertemu saya membahas soal rencana bisnis yang akan kami garap. Sahabat saya itu berada di salah satu lantai gedung Bank itu . Saya tidak tahu kantor apa itu? Menurutnya kantor itu punya temannya. Yang menarik adalah sebelum kami bicara bisnis di ruang meeting ada orang orang yang saya kenal lewat media massa dan beberapa orang asing. Mereka sedang membahas suatu program. Ternyata program itu adalah strategi pemenangan capres yang akan diusung.

    ? Kami hanya memetakan kekuatan sumber daya, penggalangan issue, untuk mempersiapkan perang 2019. Kami hanya mempersiapkan kebutuhan logistik dan pendanaan.? Katanya sambil tersenyum.? Ini harus dikelola dengan professional karena banyak jebakan aturan dari Bawaslu yang bisa menghambat pendistribusian logistik dan uang. Setidaknya kami terhubung dengan orang orang dari LSM, Ormas dan Partai. Kami tidak deal dengan lembaga tapi dengan orang orangnya. Smart kan?? Sambungnya.

    Saya tahu bahwa sahabat saya itu hanyalah pengusaha dan baginya bukan soal politik tapi soal masa depan bisnisnya di Indonesia. Tapi bukan hanya dia seperti itu. Yang saya tahu ada beberapa pengusaha yang jadi proxy asing untuk penyaluran program pembiayaan politik. Cara mereka menarik dana dari luar negeri itu memang canggih. Dan penyalurannya pun canggih. Bahkan mereka sudah siap ratusan ribu KTP sebagai dasar nanti membuat rekening tabungan. Kemudian ribuan rekening itu akan di input dengan uang secara digital system dan pada waktu bersamaan ratusan ribu ATM itu akan jadi donatur kandidat presiden atau partai.

    Sepertinya aksi untuk menjatuhkan dan mengalahkan Jokowi pada pemilu 2019 sudah menjadi agenda besar bagi Asing. Ini tidak ada kaitannya dengan politik mau seperti apa. Mereka engga peduli soal agama atau idiologi. Bagi mereka, ?Jokowi adalah batu sandungan besar yang menghalangi oligarki politik dan Bisnis. Ini jelas tidak sehat. Harus dihentikan. Apa jadinya politik bila tidak melahirkan rente ekonomi. Itu sama saja lapo tanpa tuak?. Kata teman saya sambil tersenyum. Saya tak hendak bicara lebih jauh tapi ingin segera keluar dari ruangan itu. Dia sahabat saya dalam bisnis tapi bukan sahabat dalam moral. Kita berbeda, dan karenanya saya memutuskan keluar dari kemitraan bisnis dengan dia. Saya tak ingin gagal menjadi putra ibu saya yang melahirkan saya dengan susah payah dan membesarkan saya dengan keringat berlelah tak berujung. Tidak.

    Ketika menuju kantor, saya membayangkan ada orang baik yang 3 tahun berjuang dalam sepi, dan wajah yang semakin menua karena lelah, kini harus di habisi. Apa salahnya Jokowi? dia hanya ingin mencintai negerinya dan berkorban untuk itu. Tanpa peduli apakah dia harus kehilangan banyak waktu kebersamaan dengan keluarga dan teman temannya. Tanpa peduli kehadirannya membuat orang dengan mudah memproduksi fitnah atas nama agama dan politik terhadap dirinya. Dia anak kandung ibu pertiwi, yang membungkukan tubuh dihadapan anggota dewan, guru, ulama, partai. Ia mendatangi rakyat dipelosok dengan cinta dan senyum tertulus. Andaikan saya tak bisa membelanya, saya malu berdoa dan datang ke tempat ibadah untuk menyapa Tuhanku. Malu, karena saya menyebut Tuhan Maha Pengasih lagi Penyayang, sementara saya berdiam diri ketika ada orang baik di habisi?

    Kisah Nyata DDB.

    Balas
  2. aku bersyukur makin banyak acara TV yang membosankan, gak bermutu sehingga aku semakin mempunyai alasan kuat untuk mematikan TV dan bermain bersama keluarga.

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.