Ini sebenarnya kenyataan lama, bahwa aku belum bisa beralih dari kebiasaan menonton siaran televisi Indonesia melalui jaringan parabola. Jadi jangan heran dan kaget, domisili boleh Sydney – Australia, tapi nyaris setiap malam pilihan channel televisi selalu jatuh kalau nggak ke MetroTV, SCTV, RCTI, TV One ya TVRI… (Sayangnya stasiun televisi lainnya seperti TransTV, Trans-7, Antv, dan Indosiar tak bisa masuk kemari karena batasan coverage area).
Tapi yang lantas jadi sesuatu yang semoga menarik untuk diulas di sini adalah karena beberapa waktu silam, salah seorang teman di tweetland bertanya kepadaku “Kenapa kamu malah memilih untuk nonton televisi Indonesia sementara banyak orang Indonesia sendiri malah berlangganan cable TV demi ‘menghindari’ siaran-siaran lokal?” dan hal ini membuatku merasa penting untuk menampilkan tulisan ini sekarang.
Jawaban taktisku, atas pertanyaan temanku tadi, sebenarnya simple “Suka-suka!”
Tapi kalau hanya itu yang bisa kusampaikan maka kusudahi saja tulisanku sekian. Yang lebih dalam dari sekadar ‘suka-suka’ adalah karena bagiku, harapan terbesar ketika aku menyalakan televisi adalah ‘aku mendapatkan hiburan’. Sementara itu tipikal siaran televisi di sini tak ubahnya dengan televisi-televisi yang kalian lihat di cable TV kalian, penuh dengan siaran-siaran edukatif nan membosankan yang sama sekali tak menghibur malah membuat otak harus kembali bekerja dan bekerja. Kalaupun film ya film-film serius. Siaran berita juga tak seronok-seronok amat.. paling banter hanya siaran langsung rapat parlemen yang berlangsung ‘damai’ atau liputan peristiwa yang itu-itu saja.
Lantas kenapa siaran televisi ‘Indonesia’? Hiburan apa yang kudapat dari sana?
Infotaintment
Bagiku, infotaintment adalah mata pusaran ketertarikanku terhadap ‘hiburan’ melalui televisi siaran Indonesia. Sepertinya, tak ada ragam acara yang tak se-‘sok tahu’ dan ‘sok ingin tahu’ infotaintment. Peristiwa-peristiwa sepele yang dialami artis sehari-hari bisa jadi sesuatu yang ‘Wow’ hanya dengan imbuhan bumbu narasi yang bombastis dan presenter acara yang juga tak kalah bombastisnya menyajikan acara (dan dandanannya). Saking bombastisnya, kesan ‘lebay’ pada akhirnya menjadi bandrol pada sebagian besar acara infotainment.
Segendang sepenarian dengan itu, para artis yang dilukiskan di siaran infotaintment tak ubahnya seperti monyet yang ditabuhi genderang, mereka tak kalah lebay dari narasi yang dibubuhkan. Contoh nih, pada sebuah episode yang belum terlalu lama dari sekarang, girl band yang baru kebentuk didatangi reporter infotaintment untuk meliput acara latihan mereka. Harapan orang ‘normal’ ketika mendapat sajian itu jelas adalah gambaran bagaimana girl band itu berlatih secara serius… ehhh gak taunya yang terjadi malah sebaliknya, beberapa anggota girl band lebih seneng mendekat ke kamera dan sedikit-sedikit berujar, “Pemirsa.. kami sedang berlatih lagu bla bla bla bla!” ditimpali teman lainnya, “Pemirsa, hari ini aku lagi in the mood of love makanya aku pake kaos pinky..” Lalu, kapan latihannya?????!!!!
Aneh? Iya! Unik? Jelas… tapi yang lebih jelas lagi ini adalah hal yang lucu dan menggelikan.
Dan akupun, terhibur oleh karenanya :)
Sinetron
Apa beda sinetron dengan FTV? Entahlah tapi yang jelas bagiku keduanya menggelikan, oleh karena itu kutonton.
Kalian, tak kuragukan lagi, pasti tahulah seperti apa kualitas sinetron-sinetron kita, tapi cobalah menonton dan terus menonton sepertiku. Awal mulanya memang eneg, lalu jadi eneg sekali hingga akhirnya ketika rasa eneg sudah mencapai puncak, yang terjadi justru sebaliknya, kalau tak menonton sinetron maka tak eneg dan kita seperti kehilangan sesuatu… kehilangan sinetron dan rasa eneg itu! Kalau harus dibuat grafiknya, tingkat ke-eneg-an karena nonton sinetron itu mirip grafik parabola dalam ilmu matematika, setelah mencapai puncak, ia akan turun kembali ke titik semula.
Pada prakteknya, selain alur cerita yang mbulet dan terkadang tak masuk akal, hal lain yang menghiburku adalah beberapa adegan yang menurutku bisa memicu kegilaan dalam arti sesungguhnya dari penonton yang menyaksikannya (Semoga aku tak cepat gila!).
Contohnya? Adegan melamun dan menggumam yang ditunjukkan pemerannya. Kalian tentu hafal bahasa tubuhnya kan? Melipat tangan atau mengepal ketika geram, menatap ke arah jendela atau tembok, mata dipelotot-pelototkan, mulut berkomat-kamit beberapa saat dan akhirnya berbicara seorang diri. Ya, seorang diri! Apakah tindakan seperti itu benar-benar ada pada kenyataannya? Tentu tidak! Tapi jangan kaget kalau pada akhirnya ada beneran karena ketika hal itu menjadi nyata, kalian tahu apa dan siapa penyebabnya!
Coba simak adegan seorang pembantu rumah tangga sok cantik dalam sebuah sinetron tentang “sesuatu” yang tertukar :) Sekembalinya mengantar santap malam bagi tuan dan nyonyanya, di dapur dia tiba-tiba memelototkan mata dan mencibir-cibirkan mulut, backsound mendominasi lalu tiba-tiba ia berujar, “Huh! Cantikan aku daripada nyonya! Akulah yang pantas mendapatkan cinta Pak Prabu!” *Crotzzzz*
Sajian Musik
Terus terang aku butuh imbangan atas musik-musik asik yang selalu kudengar dari perangkat digitalku tiap pagi dan sore hari sepulang kerja. Taruhlah U2, Rolling Stones, Foo Fighters, Coldplay dan lain sebagainya. Dan, tak kusangka, imbangan itu kudapat dari tayangan musik yang tiap hari ditayangkan baik di studio maupun di pinggiran mall dengan konsep open air itu.
Ah, aku tak perlu sebut brand lah, kalian juga sudah tahu ;) Apa yang menarik hingga ia bisa menjadi ‘imbangan’ itu?
Pertama adalah artisnya.
Kebanyakan artis yang nongol di acara harian itu bagiku tak ubahnya seperti badut yang hanya bermodal badan sementara yang lainnya mulai style dandanan, gaya panggung hingga corak bermusik dicomot dari trend-trend yang ada! Pokoknya, asal pake celana skinny, rambut di-wax, pake jacket super tebal biar seperti di negara-negara empat musim meski matahari menyengat dan wajah penuh keringat, kacamata hitam, rok super pendek (untuk yang cewek tentunya) dan oh iya, untuk beberapa lebih pede dengan kawat gigi, maka jadilah ia artis!
Belum lagi aksi panggungnya!
Biasanya mereka awalnya hanya bergoyang-goyang di tempat lalu di tengah lagu, mereka maju ke depan dan menyapa penggemar dengan menempelkan tangan lalu mundur lagi. Oh ya, satu gaya yang aneh terutama vokalis band cowok, kenapa banyak yang bergaya menempelkan mic ke selangkangan trus digoyang-goyangkan seperti, maaf… gaya orang beronani ya?
Nah kalau soal corak musiknya, itu yang paling menarik!
Yang hendak kukomentari adalah, kenapa semakin kemari aku semakin susah membedakan mana musik pop, rock, rock – melayu… dan dangdut?!? Makanya aku sangat ‘bahagia’ ketika SM*SH muncul ke permukaan! Kenapa? Karena dominasi band-band rock melayu, bermuka gahar, bercorak sound yang tebal tapi pilihan chordnya melayu semua itu terkurangi dengan kedatangan cowok-cowok cantik dan belakangan juga disambut maraknya grup-grup girlband yang … harus jujur kukatakan make-upnya cantik dan kaos serta celana jeansnya seksi meski bukannya wajahnya cantik dan bodinya seksi.
Semacam keluar dari mulut harimau, masuk ke mulut buaya, ya?… Keluar dari sengsara musik rock-dut khas Melayu, masuk ke histeria boy band khas Korea :) Menyenangkan!
Tak hanya itu, para artis yang muncul kebanyakan tak perlu bersusah payah menjaga suara beberapa hari sebelumnya dan para pemain musik tak perlu risau bahwa skillnya akan terdeteksi ‘kurang bagus’ selama manggung karena semua sudah dihandle oleh sekeping CD yang diputar dari pemutar cakram di meja operator dan mereka tinggal pura-pura nyanyi dan pura-pura main musik.
Ya, kalian benar, Lipsync! Tidak lain dan tidak bukan dan tidak salah lagi, ngga menarik sama sekali melihat badut pura-pura menyanyi dengan suara yang sebenarnya keluar dari cakram CD. Tapi, meski tak menarik, kembali ke alasan awal, itulah hiburan! ;)
Artisnya sudah, sekarang ke pembawa acaranya.
Definisi pembawa cara dengan pelawak dadakan sudah semakin tipis sejak beberapa tahun lalu, tapi kini definisi pembawa acara dengan dementor (perusak) acara dan penghina artis-artis yang tampil juga semakin tipis. Pembawa acara membawakan gojek-gojek kasar, main fisik, ngata-ngatain artis dengan dalih ‘ngerjain’ adalah hal yang biasa terjadi. Belum lagi cara bicara yang banyak teriak-teriaknya ketimbang ngomong bener (mereka ngomong bener cuma waktu ngebawain pesan dari sponsor aja) adalah pemandangan lumrah yang menghibur… sejujur-jujurnya menghiburku karena selain menerbitkan tawa aku bisa terkekeh bilang “Kok ya ada yang mau kontrak mereka sebagai presenter ya…” :)
Yang terakhir adalah penontonnya!
Terus terang, tiga tahun aku tak berada di Indonesia, aku cukup update tentang apapun yang terjadi di sana kecuali satu hal, kaum alay. Jujur, pengetahuanku tentang kaum ini masih absurd. Semula kupikir alay adalah cara orang berketik di gadget, tak lebih. Tapi ternyata aku salah, beberapa opini menyebut alay juga mengacu ke lapisan usia tertentu, “Oh, brarti alay itu kata gantinya ABG? Baiklah!” Tapi setelah menonton perilaku seragam dari para penonton barisan terdepan acara musik harian yang sedang kita omongkan ini, aku jadi ingin bertanya lagi apakah alay itu mengacu ke Barisan orang dengan perilaku aneh nan labil dengan karakter usia kebanyakan belasan dan kalau ngetik di gadget sering pake istilah-istilah yang ‘cemungudh’ atau ‘unyu’ atau yang lain itu?
Menonton penonton acara musik harian bagiku adalah hiburan tersendiri. Kadang bahkan ada yang sampai kuhapal betul wajahnya yang barangkali waktu aku liburan ke Jakarta nanti dan ketemu di mall aku bisa berteriak histeris “Eh… qaMue yAng seringh n0ngl di tiphiya? Cemungudhhhh!!!”
Berita Politik
Nah ini dia…
Kenapa berita politik kutulis di bagian paling bawah? Tepat kalau ada yang menduga bahwa bagiku, berita politik memiliki tingkat kelucuan paling tinggi dari ketiganya. Secara matematis, tingkat lucunya berita politik adalah sinetron + infotaintment + acara musik! Itu sudah!
Berita politik memiliki tingkat ‘sok tau’ dan ‘sok ingin tahu’ yang sama akutnya dengan infotaintment! Pengamat pulitik menjadi label yang menggiurkan karena mereka seperti memiliki kekebalan hukum untuk berkoar-koar di televisi untuk menjelek-jelekkan rezim dan membaik-baikkan (minimal mendiamkan) mereka yang membayar lebih besar!
Intrik pulitik para pulitikus super busuk juga melebihi rangkaian cerita sinetron yang mengular dan bisa dipanjang-pendekkan tergantung kontrak sponsor yang didapat! Sedihnya, …eh lucunya lagi, mereka tak sendirian; seperti sedang menjalankan sebuah skenario dengan oknum-oknum lain yang bisa pura-pura bloon, bisa pura-pura pinter dan bisa pula pura-pura amnesia!
Sementara itu gegap gempitanya tak bisa dikalahkan bahkan oleh acara musik pinggir jalan sekalipun karena baik artisnya, pembawa acaranya dan penontonnya.. gila semua!
Dan aku bangga jadi penontonnya, aku memang gila! :)
Jadi, untuk teman-temanku yang bertanya serius kenapa aku masih menonton televisi Indonesia dan bukannya menonton televisi lokal atau minimal sama dengan televisi yang mereka bayar mahal dari cable TV mereka,? jawabanku hanya satu yang kusitir dari ucapan Joker dalam Batman The Dark Night, “Why so serious?”

Tinggalkan Balasan