Kenapa para murid tak sesakti Brama Kumbara?

12 Jul 2018 | Kabar Baik

Hari ini Matius menceritakan bagaimana Yesus memanggil kedua belas muridNya.

Yang menarik, Matius menulis begini:

Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan. (lih. Mat 10:1)

Kalian yang mengalami era 80an, tentu masih ingat dengan serial drama radio Saur Sepuh. Waktu itu aku masih kecil, tapi daya tarik ceritanya membuatku kecil-kecil gitu juga sudah ikut duduk di depan radio setiap sore, mendengarkan jalan ceritanya.

Adalah Brama Kumbara, tokoh sentralnya. Seorang ksatria asal Madangkara dan punya berbagai macam ilmu yang diturunkan oleh guru sekaligus kakeknya, Kakek Astagina. Ilmu yang paling terkenal adalah Ajian Serat Jiwa.

Dalam sebuah episode, saat ilmu itu diturunkan, yang kubayangkan waktu itu, Brama duduk bersila lalu Si Kakek berdiri di belakang dan memancar sinar laser dari telapak tangan menuju ke tubuh Brama. Ya namanya bayangan tentu boleh saja :)

Alhasil setelah menguasai ilmu Serat Jiwa, Brama jadi begitu digdaya. Bahkan setelah jadi Raja Madangkara, ia menciptakan ilmu kesaktian yang lebih dari Serat Jiwa yaitu Lampah-Lumpuh namanya.

Kembali ke soal bagaimana Yesus memanggil kedua belas muridNya, adakah dalam bayangan kalian ketika memberi kuasa maka Yesus melakukan hal yang sama dengan Kakek Astagina itu? Adakah Ia menggunakan sinar laser yang terpancar dari tanganNya lalu mengenai tubuh para murid sebagai tanda kuasa telah diberikan?

Kenapa tidak? Bisa jadi! Toh tak ada yang menuliskan dan toh Ia adalah Tuhan! Sebagai Tuhan, Ia bisa melakukan apa saja termasuk melunasi lamunan dan khayalan kita seperti di atas!

Tapi, adakah para murid Yesus lantas jadi sakti mandraguna seperti Brama Kumbara?

Sepertinya tidak! Kenapa? Karena Tuhan tak membutuhkan tokoh khayalan. Ia membutuhkan manusia untuk menjadi rekan dalam karya penyelamatanNya.

Untuk itulah Ia tak peduli dengan kelemahan yang ada dalam diri para murid. Sejak awal Ia tentu tahu bagaimana rapuhnya Thomas, lemahnya Petrus dan jiwa pengkhianatan Si Yudas.

Kabar Baik hari ini semoga menjadi pengingat bahwa Tuhan amat menghargai kita lepas dari segala kelemahan yang ada.

Ketika kita merasa kecil hati karena seolah tak memiliki arti, Ia pernah memilih orang-orang yang awalnya juga seperti tak berarti dalam hidup bermasyarakat.

Tapi sekaligus catatan ini semoga memberikan satu pelajaran bahwa meski lemah tapi kelemahan itu bukanlah satu hal yang patut dikompromikan. Para murid yang awalnya lemah itu pada akhirnya tumbuh menjadi pribadi yang kuat yang gagah berani termasuk ketika harus menjalani hukuman mati karena iman yang dibelanya.

Begitu juga kita. Kuasa ada untuk dibuktikan bahwa Ia memang berkuasa atas hidup kita.

Sydney, 12 Juli 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.