Boikot? Kenapa tebang pilih?

3 Jul 2017 | Cetusan

Minggu lalu di Facebook aku menulis status begini:

Lalu ada yang bertanya kenapa aku menganggap konyol?

Baiklah sebelum mengulas, aku hendak menjelaskan posisiku terlebih dahulu.

Dalam konteks konsep pernikahan sejenis dan LGBT, pendapatku tak goyah, aku mengikuti iman Katolik.

Dalam konteks ‘Starbak’, aku adalah orang yang sangat jarang bahkan nyaris tak pernah mendatangi kedainya.

Jadi, kalau ada orang menilai ketidaksetujuanku terhadap pemboikotan Starbak itu karena aku pro konsep pernikahan sejenis dan LGBT, pendapat itu adalah salah.

Sebaliknya, kalau ada yang tahu aku nggak pernah mendatangi kedai Starbak lalu menganggap hal itu kulakukan karena aku kontra terhadap konsep pernikahan sejenis dan LGBT, itu salah juga!

Kembali ke soal konyol, kenapa memboikot Starbak terkait isu pernikahan sejenis dan LGBT adalah konyol, beberapa alasanku adalah seperti tertera di bawah ini:

1. Tak menyelesaikan persoalan

Pemboikotan itu tak menyelesaikan persoalan. Arus konsep pernikahan sejenis dan LGBT itu adalah arus global yang mau-tak-mau, siap-tak-siap sudah dan akan ada dimana-mana.

Dan pemboikotan bukanlah solusi. Mau ada seribu orang berorientasi seksual hetero masuk ke Starbak tak membuat mereka lantas menjadi homoseksual. Sebaliknya, ada seribu orang homoseksual tak minum kopi Starbak karena diboikot, hal itu tak membuat mereka lantas menjadi heteroseksual.

2. Boikot semua, jangan tebang pilih!

Masih ngotot memboikot? Kenapa hanya Starbak?

Apple, Amazon, Google, Facebook, Netflix, HBO, Samsung dan masih banyak lagi perusahaan yang mendukung konsep pernikahan sejenis dan LGBT kenapa tak ikut diboikot? (Check sepuluh brand ternama Amerika yang mendukung LGBT/Pernikahan Sejenis di sini)

3. Kontraproduktif

Kalau dengan memboikot harapanmu adalah supaya orang-orang ikut menjauhi LGBT dan tidak menyetujui konsep pernikahan sejenis hal itu bagiku malah kontraproduktif. Alih-alih ikut menjauh, orang-orang yang kian pintar dalam menelaah segala sesuatu itu justru jadi bertanya-tanya kenapa reaksimu seperti itu?

Orang-orang yang ada di ‘grey area‘ yang awalnya mungkin masih bingung bersikap; setuju atau tak setuju dengan konsep tersebut jadi punya pembanding yang jelas bahwa saat para pendukung LGBT dan pernikahan sejenis mengkampanyekan konsep-konsepnya dengan begitu elegan sedangkan yang kontra kenapa seperti itu? Dikit-dikit boikot… dikit-dikit boikot!?

4. Penghalang kasih

Alasan keempat ini adalah alasan paling penting.

Menolak ide LGBT dan pernikahan sejenis adalah pandangan beberapa kalangan terkait iman mereka tapi mengasihi sesama tanpa terkecuali termasuk kaum LGBT adalah juga tuntutan iman nan tak kalah pentingnya.

Dengan memboikot dan mengumumkan pemboikotan itu, secara tak langsung kita sudah membuat jarak dengan mereka. Nah, bagaimana mungkin kita mampu mengasihi sesama kalau ada jarak diantaranya?

… love is a temple, love is a higher law. (One/U2)

Sebarluaskan!

1 Komentar

  1. Asal tidak ikut lgbt, ya, sah-sah saja mengunjungi starbak. Anggap saja mengunjungi kedai kopi sebagaimana mengunjungi kedai kopi umumnya.

    Saya mengunjungi dan minum kopi di starbak baru sekali, itupun karena ajakan boss yang gak mungkin aku tolak.
    Mari kunjungi kedai kopi tradisional.

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.