Kenapa harus tak beragama? Katolik itu dinamis dan tidak usang sama sekali!

14 Jun 2017 | Kabar Baik

Kabar Baik Hari Ini 14 Juni 2017

Matius 5:17 – 19
“Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.

Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.

Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.

Renungan

Keputusan Yesus untuk tidak meniadakan Taurat adalah respons yang secara tidak langsung menyatakan bahwa Ia berasal dari Allah yang sama yang juga mengutus para nabi untuk menyampaikan Taurat bagi manusia sebelum Ia dilahirkan.

Akhir-akhir ini, ada banyak kalangan mulai merasa perlu untuk mengubah atau kalau perlu mengganti ajaran agama. Agama dianggap kuno, usang, ketinggalan jaman untuk dianut dan diperjuangkan.

“Jaman udah berubah, Don! Pertanyaannya sekarang apakah agama bisa menyesuaikan diri dengan jaman?” Aku diam ketika kawanku bertanya demikian via WhatsApp beberapa waktu lalu.

“Boro-boro nyesuaiin, tuh liat ada begitu banyak teroris! Menurut gw itu tanda kepongahan agama di jaman ini!” Aku tetap terdiam.

Jaman boleh berubah dan konon perubahan adalah satu-satunya hal yang sama dan menetap! Tapi tak berarti semuanya harus diubah apalagi diganti, kan? Termasuk agama!

Bagiku sederhana, Tuhan yang kusembah melalui agamaku adalah Tuhan yang tak takut terhadap perubahan jaman! Hal itu mewujud dalam penyertaanNya melalui Roh Kudus yang membuat agamaku dinamis, agamaku hidup!

Benar, Ia memang produk dua ribu tahun silam, tapi ibarat rumah, apa yang dibangun kala itu adalah pondasiNya namun hingga kini dan nanti, agamaku adalah agama yang terus bertumbuh.

Ia akan terus menyusuri jaman, tidak untuk takluk dan larut tapi untuk peka terhadap jaman itu sendiri!

Mau contoh? Lihatlah betapa Gereja Katolik peka terhadap isu lingkungan hidup dan pemanasan global!

Bapa Suci Paus Fransiskus melalui tuntunan Roh Kudusmenjawab isu tersebut dengan terbitnya ensiklik Laudato Si, sebuah ajakan untuk melakukan aksi melindungi dan menyelamatkan bumi kita yang hanya satu ini. Belum lagi begitu banyak contoh sikap Gereja Katolik di masing-masing negara di dunia yang terus bergelut membela yang papa, mendukung yang lemah.

Jadi? Tak usah repot-repot mengubah apalagi menggantinya! Genapi saja! Genapi ajaran-ajaran Tuhan dengan mengaktualisasikannya dalam wujud aksi nyata pada hidup di sekitar kita.

Mulai dari hal-hal kecil, sapa semua orang yang kamu temui termasuk yang membencimu, tawarkan bantuan bagi orang tanpa terkecuali, beri maaf pada yang memohon ampun atas salahnya terhadapmu, meminta maaf saat kamu bahkan tak yakin kamu telah bersalah dan… buang sampah pada tempatnya demi bumi yang adalah ciptaan Tuhan itu!

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.