Kenapa harga barang di Australia berlipat kali lebih mahal ketimbang di Indonesia?

21 Apr 2017 | Australia

Hal yang paling sering ditanyakan kawan-kawan di Tanah Air kepadaku adalah terkait perbedaan harga barang di Indonesia dan Australia. Salah satunya begini, “Don, kalau makan siang di Sydney harga per sajian berapa kira-kira?”

Lalu setelah kuberi tahu, misalnya sepiring nasi goreng seharga $15, ia kaget. “Buset! Itu kan kira-kira 150 ribu di sini! Mahal amat?! Di sini bisa dapet lima porsi kali!”

Bersyukurlah kalau harga makanan di Indonesia, menurutmu, lebih murah. Tapi benarkah demikian cara menghitung perbedaan harga antar dua negara?

Menurut buku yang kubaca, nilai tukar uang dua negara bukanlah ukuran yang baik untuk menghitungnya terutama pada dua negara yang punya level perkembangan (development level) yang berbeda. Lalu parameter apa yang tepat? Tak hanya satu tentu saja, tak hanya mengkonversi mata uang tapi juga hitungan faktor upah buruh. Di negara berkembang, upah buruh jauh lebih murah ketimbang negara maju. (Thirlwall, A.P. Growth and Development: With Special Reference to Developing Economies. Springer, 1989. Print, p. 24).

harga

Jadi, kalau nasi goreng di Australia dihargai lima kali lipat dari yang dijual di Indonesia hal itu terjadi karena upah buruh adalah pengaruh utama yang membuat harga bisa berkali lipat jaraknya. Berapa uang yang perlu dibayar untuk upah buruh angkut bahan baku dari pelabuhan ke gudang. Berapa upah buruh untuk mereka yang mengelola barang dari gudang ke toko-toko. Berapa harga jual dari toko ke restaurant, berapa upah buruh masak, berapa upah buruh pelayan, sewa tempat, dan masih banyak lagi hingga akhirnya ketika ditotal jendral ya akhirnya menjadi komponen penyebab berlipat-lipatnya harga.

Tapi secara manusiawi, membandingkan harga dengan jalan menghitung konversi nilai tukar mata uang memang tak terhindarkan. Dulu pertama kali datang kemari pun aku sering merasa demikian.

Misalnya mau ngopi, tanya harga berapa lalu kaget ketika si penjual bilang $3.5. Hah? 35 ribu rupiah? Ngopi di angkringan Lik Man di utara Stasiun Tugu kala itu (2008) harganya hanya sepersepuluhnya!

Atau saat hendak potong rambut. Pas ngeliat daftar harga untuk potong rambut ala militer (1cm) ditulis $15 alias sekitar Rp 150 ribu rupiah! Yang bener aja? Potong 1cm di salon-salon di Indonesia dulu (2008) juga cuman 15 ribu rupiah saja kok!

Lalu bagaimana akhirnya aku berhenti membanding-bandingkan harga? Ya karena aku makin larut dalam kehidupan di sini, digaji dalam dollar, bertransaksi dalam dollar dan tak perlu membanding-bandingkannya dalam rupiah karena tak bersinggungan dengan rupiah lagi.

Kini yang terjadi malah sebaliknya, ketika aku kembali ke Indonesia untuk berlibur lalu membeli kopi di coffeeshop dan kaget kenapa harganya bisa sampai puluhan ribu mahalnya? Secara manusiawi aku tak menghitung konversi ke dollar, tapi aku hitung konversi dengan harga kopi ketika aku masih tinggal di Indonesia, sebelum 2008 silam.

Ya sama-sama nggak benernya, kan?
Jadi? Kalau kamu hendak berlibur ke Australia dan mendapati harga-harga mahal? Nikmati saja! Kalau mau beli dan terbeli ya belilah, kalau tidak ya sudah tidak mengapa. Demikian juga catatan untukku dan banyak kawan migran asal Indonesia dan pulang berlibur ke Tanah Air, mendapati harga segala sesuatunya kok membubung tinggi dibandingkan saat kita masih tinggal di Indonesia dulu, ingatlah bahwa semua berhak berubah dan mengubah. Kan bukan cuma Australia aja yang boleh mahal, Bro?

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.