Kenapa atlit membuat tanda salib?

3 Sep 2018 | Kabar Baik

Kebiasaan sebagian atlit untuk membuat tanda salib saat sebelum memulai maupun sesudah menyelesaikan pertandingan adalah fenomena yang tak dominan tapi cukup menarik untuk diperhatikan.

Misalnya Diego Maradona. Dulu tiap masuk ke lapangan, jari telunjuk pemain Argentina itu ditempelkan ke rumput lapangan lalu ditorehkan ke dahi, ulu hati, ke dada kiri dan diakhiri ke dada kanan. Begitu juga Ronaldinho, Bebeto, hingga Susi Susanti dan siapa lagi kalau bukan Jonatan Christie atau yang disapa ?Jojo?. Jojo barusan memenangi tunggal putra di ajang Asian Games 2018 yang baru lalu.

Kenapa mereka membuat tanda salib?

Menurut Kardinal Joseph Ratzinger yang kemudian kita kenal menjadi Paus Benediktus XVI, membuat tanda salib berarti menyatakan ?ya? secara kasat mata dan publik kepada Dia (Yesus Kristus) yang mati dan bangkit bagi kita, kepada Allah, yang dalam kerendahan dan kelemahan-Nya demi Kasih, adalah Sang Mahakuasa, yang lebih kuat daripada segala kuasa dan lebih unggul dari segala pengetahuan dunia.

Wow! Menarik bukan?

Menggunakan alasan di atas, maka bisa jadi para atlit tadi membuat tanda salib memang karena ingin secara publik mengkonfirmasi iman mereka terhadap Yesus dan Gereja!

Tapi apakah wajib untuk setiap atlit yang beragama Katolik membuat tanda salib seperti itu? Bagiku tidak juga meski ajakan untuk menyatakan iman kepada dunia itu ya tetap merupakan satu kewajiban umat dalam rangka menyebarkan Kabar Baik kepada seluruh makhluk.

Membuat tanda salib tak didominasi atlit saja. Kita sebagai umat juga boleh bahkan dianjurkan melakukannya.?

Yang paling umum misalnya saat hendak makan. Berdoalah dulu atau setidaknya bikin tanda salib. Tapi ada juga kawan-kawan yang tetap berdoa tapi memilih untuk tidak membuat tanda salib.

Alasannya? Ada yang ?tak ingin kelihatan identitasnya? entah karena apa tapi ada juga yang ?takut?. Aku barangkali yang terakhir hahaha!

Dulu cukup sering aku makan di warung pinggir jalan. Warung dalam keadaan penuh orang yang sedang menyantap makanan, lalu ketika aku masuk, mata mereka menatapku. Dalam keadaan seperti itu, aku jadi ketakutan karena berpikir, ?Kalau aku bikin tanda salib, nanti reaksi mereka gimana ya??

Tentu hal seperti itu tak perlu kalian contoh karena mentalitas buruk yang kumiliki! Kita minoritas tapi negara demokratis ini menjamin kebebasan beribadah meski untuk hal ini kita tetap harus terus-menerus membuktikan bahwa hal itu memang tak hanya tertulis dalam aturan belaka.

Selain saat makan, saat hendak ataupun bangun tidur juga adalah saat yang baik untuk membuat tanda salib. Sebagai penutup doa malam dan pembuka hari, tanda salib bisa kita artikan sebagai penanda bahwa kita telah mengakhiri hari dan akan memulai hari di dalamNya.

Ketika melewati bangunan Gereja Katolik, membuat tanda salib juga adalah hal yang menurutku baik untuk dilakukan. Gereja Katolik adalah bangunan suci. Di dalamnya tersimpan Tubuh Kristus dalam wujud Roti/Hosti. Tubuh yang kita imani dan amini sebagai tubuh yang sama yang disalib dua ribu tahun silam.

Membuat tanda salib di depan Gereja sering kulakukan dan biasanya kusertai dengan doa singkat, doa tentang apapun yang terlintas di kepala entah tentang syukur, entah tentang permohonan atau mungkin hendak curhat kepada Tuhan? Kenapa tidak?

“…ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.” (Yohanes 6:56)

Sydney, 3 September 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.