Kenapa anak domba? Kenapa bukan anak macan atau anak dinosaurus saja?

5 Okt 2017 | Kabar Baik

Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala.
(Lukas 10:3)

Apa yang kamu bayangkan ketika seekor domba dimasukkan ke kandang serigala? Kecuali kalau serigalanya sedang diet daging-dagingan tentu mereka akan membiarkannya. Tapi selain daripada itu domba tersebut akan jadi rebutan untuk makan malam!

Lalu kenapa Yesus mengutus kita seolah kita ini anak domba ke tengah-tengah serigala? Apakah tak ada pilihan pengandaian yang lebih baik? Kenapa tak jadi naga di kandang cacing? Harimau di kandang kelinci.. atau ok lah kalau mau tetap kandang serigala tapi bisakah kita jadi dinosaurus? Bukankah Ia Maha Bisa?

Apa yang ada dalam benakmu ketika bicara tentang anak domba? Anak domba adalah sosok yang lemah, larinya tak kencang, disenggol sedikit pun terjatuh. Tapi meski demikian, anak domba begitu polos karena yang ia tahu hanya bagaimana mendapatkan jerami untuk dimakan dan bagaimana ia menurut pada gembala.

Kita diutus sebagai anak domba di kandang serigala karena:

Perutusan itu tentang diri kita dengan Tuhan

Jadi, tak peduli apakah kita ini domba dan mereka serigala, perutusan dan melayani, meski terhadap sesama sejatinya adalah antara kita dengan Tuhan. Kita yang dijadikan alat olehNya untuk menebarkan kasih. Tuhan memperhatikan apa-adanya kita bukan dengan wujud kita bukan pula dengan wujud sekitar kita.

Perutusan itu tentang mengasihi bukan mengalahkan

Perutusan itu bukan tentang bagaimana mengalahkan sesama tapi justru bagaimana membuat kuasaNya yang maha besar itu tampak lemah lembut di depan para serigala sekalipun! Serigala yang adalah makhluk pemakan daging adalah gambaran tentang bagaimana kecenderungan manusia untuk saling adu kekuatan, adu pamor dan karisma serta tentang bagaimana cara mengalahkan dengan segala cara. Sedangkan anak domba adalah tentang kepolosan kasih, sesuatu yang seharusnya dimiliki setiap insan yang hidup di dunia termasuk para serigala itu sendiri.

Perutusan itu tentang kelemahan kita serta kepasrahan padaNya

Ya! Perutusan yang sejati itu tak pernah tentang diri dan kehebatan kita tapi bagaimana kita yang lemah ini bisa melayani dengan kuat karena kasih dan kuasa Allah sendiri!

Anak domba seperti kutulis di atas adalah gambaran kelemahan dan ketergantungan terhadap sang gembala dan begitulah kita sejatinya. Bayangkan jika kita diutus sebagai harimau, naga atau binatang kuat lainnya, barangkali kita tak akan merasa memiliki kelemahan dan lenyaplah ketergantungan kita kepadaNya, Sang Gembala. Padahal tanpa kita bergantung padaNya, apa yang jadi bahan perutusan karena bukankah hal-hal yang patut dibagikan kepada dunia itu berasal daripadaNya?

Perutusan itu tentang bagaimana mengikuti Yesus

Penjelasan ini yang paling mudah. Yesus adalah Anak Domba Allah, apa kita mau jadi anak hewan yang lainnya? Kan tidak?

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.