Kenapa akhirnya aku menolak ajakan bergabung ke partai politik?

5 Jan 2018 | Cetusan

Melalui tulisan ini aku mengkonfirmasi bahwa ?rumor? tentang adanya sebuah partai di Tanah Air yang meng-approach-ku untuk bergabung tahun lalu itu benar. Aku dikirimi email dan diajak berdiskusi tentang kemungkinanku menjadi kader partainya.

Terus terang aku sempat tertarik dan ketertarikanku itu serius. Alasanku waktu itu, sepertinya bakal seru kalau saat Pilkada atau Pileg serta Pilpres 2019 nanti aku berbendera membela orang yang dibela partaiku.

Aku menganalogikannya seperti nonton sepakbola. Nonton petandingan sebagai pendukung salah satu tim dengan penonton yang netral-netral saja kan tentu berbeda. Penonton netral gak ada ?geram-ceria? nya sedangkan pendukung salah satu tim bisa ada emosi dan gregetnya.

Tapi setelah dua minggu berikir, aku memutuskan untuk menolak ?pinangan? itu. Alasan-alasannya adalah sebagai berikut:

Ikut partai politik mengecilkan besarnya cintaku pada Tanah Air

Seorang kawan memberiku masukan, ?Mas, sayang banget kalau kamu ikut partai politik!? Dia bilang dengan ikut partai politik, setiap statement dan tulisanku otomatis akan terasosiasikan dengan partai/tokoh tertentu. Kalaupun aku sedang ingin netral, orang tetap saja akan berpikir bahwa apa yang keluar dari mulut dan ketikanku sebagai sesuatu yang berpihak.

Di sisi lain, sadar-nggak-sadar cara pandangku yang semua netral terhadap anak bangsa akan berpihak dan tidak tulus lagi. Akan ada orang yang semula kepadanya aku terbiasa bercengkrama tapi setelah tahu ia tak memihakku dan partai maupun gacoanku, aku akan menjauh.

partai politik

Ikut partai, mau jadi apa?? Dapat apa?

Semakin tua, aku menghargai waktu sebagai sesuatu yang tak ingin kubuang percuma. Ikut partai? Imbalannya apa? Aku jadi apa? Aku dapet apa?

Padahal kalau niatnya mau jadi dan dapet apa, cara terbaik untukku adalah pulang kampung dan hidup di Indonesia serta total ?bekerja? untuk partaiku. Tapi aku kan nggak mau pulang dan ingin menetap selamanya di Australia?

Lawan bulutangkis adalah lawan! Teman tidur adalah teman!

Tahun lalu ada seorang calon gubernur yang dengan lantang nan meyakinkan berkata, ?Lawan bulutangkis adalah kawan berolahraga! Musuh dalam Pilkada adalah kawan berpolitik.???

Kuanggap itu adalah fatsun dalam berpolitik dan sayangnya aku tak bisa se-elastis itu! Bagiku lawan adalah lawan, kawan adalah kawan. Kalaupun berbalik keadaan, harus ada pemicu kuat yang membuatku memutuskan demikian. ??Aku tak bisa meracuni orang yang tidur bersamaku, tak bisa pula mengajak orang yang kucemooh untuk duduk semeja denganku.

Mengingat dan menimbang hal-hal tersebut di atas, keputusanku untuk tetap mencintai Indonesia apa-adanya tanpa embel-embel dan lipstik politik adalah keputusan terbaikku.

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.