Kenangan komuni pertama, masihkah kita percaya pada-Nya?

23 Jun 2019 | Kabar Baik

Hari ini Gereja Katolik di seluruh dunia memperingati Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Hari dimana kita diajak kembali merenungi dan meneguhkan rasa yakin bahwa hosti dan anggur yang kita terima sejak komuni pertama bukanlah hosti dan anggur biasa. Ia adalah benar-benar tubuh dan darah Kristus, Tuhan yang kita sembah dan muliakan.

Penerimaan komuni pertama

Kemarin sore saat ikut misa sabtu sore (vigil mass) di gereja paroki lokal, beberapa anak kecil menerima komuni pertama. Mereka datang dari berbagai suku bangsa karena Australia memang dibangun di atas dasar multirasial dan multikultural. Yang laki-laki mengenakan jas, yang perempuan bergaun. Mereka didampingi orang tuanya, satu per satu maju menerima Tubuh dan Darah Kristus untuk pertama kalinya.

Aku jadi terkenang pada pengalamanku dulu.

Aku menerima sakramen komuni pertama pada bulan September 1988 di Paroki Gembala Yang Baik, Kebumen Jawa Tengah (sekarang jadi Gereja Paroki St. Yohanes Maria Vianney). Waktu itu aku duduk di bangku kelas 5 SD Pius Bhakti Utama, Kebumen.

Yang kuingat, upacara diadakan sekitar seminggu setelah salah satu kawan dekatku, Bayu Susanto, meninggal dunia. Aku masih sangat berduka waktu itu.

Hari itu aku mengenakan kemeja dan celana pendek warna putih serta sepatu hitam berkaos kaki putih. Di dada kananku diberi hiasan pemanis yang seragam dan dipasang menggunakan peniti kecil.

Seperti halnya beberapa anak lain yang diberi tugas dalam perayaan pagi itu, aku ditugasi menjadi pembaca bacaan pertama.

Pada saat penerimaan tiba, kami maju satu per satu didampingi orang tua.

Papa waktu itu masih muslim dan karena itu beliau tidak ikut hadir di dalam Gereja, menunggu di luar mengobrol dengan para tukang becak sambil merokok seperti hari-hari minggu lainnya. Untuk itu, aku hanya didampingi Mama yang juga mengenakan stelan busana putih-putih.

Romo mengulurkan Tubuh Kristus, ?Tubuh Kristus?, aku menerima dan menjawab mantap, ?Amin!?? Setelah mencelupkanNya ke dalam Darah Kristus berwujud anggur, aku menyantapNya.

Seusai perayaan, kami berfoto dengan Romo dan seluruh penerima sakramen beserta orang tua. Sesudahnya kami keluar, pulang bersama Papa.

Di rumah, Eyang Slamet, ibu dari Papa sudah menanti bersama Chitra, adikku. Eyang, meski beragama muslim, mengkhususkan diri datang ke Kebumen dari rumahnya di Blitar, Jawa Timur, untuk memberiku dukungan dan selamat atas penerimaan sakramen komuni yang pertama. Kami makan siang lalu melanjutkan hidup seperti biasa. (simak kisah ini dalam tulisanku yang lain di sini)

Menghormati dan percaya

Hari ini aku sengaja tidak menulis renungan dengan cara biasa. Aku hanya tertarik menulis kenangan di atas. Bagiku kenangan indah di atas cukup membantuku untuk merenungi peringatan hari ini, ?Masihkah aku percaya bahwa roti dan anggur yang kusantap setiap perayaan ekaristi adalah benar-benar tubuh dan darahNya??

Di tengah jaman yang kian modern, dimana seolah segala hal bisa diselesaikan dengan akal dan logika, masihkah kita menyisakan ruang untuk misteri agung Allah dalam hati dan pikiran kita?

Yang kita perlukan adalah menghormati dan percaya. Dalam penghormatan muncul kerendahan hati, dalam kepercayaan, kita akan dibuat semakin mengerti tentang misteriNya.

Sydney, 23 Juni 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.