Kemuliaan narsistik vs kemuliaan yang tersembunyi nan ekslusif

25 Feb 2018 | Kabar Baik

Yesus dipermuliakan di atas Gunung Tabor.?Ia berubah muka, pakaianNya mengkilat sangat putih. Lalu di sisi kiri dan kananNya, muncul Nabi Elia dan Nabi Musa. Ketiganya bercakap-cakap. Dari balik awan, Bapa pun bersuara, ?Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.” (Markus 9:7)

Tak semua murid diberi kesempatan untuk melihat peristiwa langka itu. Markus, yang menulis Kabar Baik hari inipun hanya diberitahu oleh tiga murid yang dibawa Yesus untuk jadi saksi saat itu: Yohanes, Yakobus serta Petrus.

Yesus, dengan kuasa yang Ia miliki sebenarnya bisa saja memuliakan diri sendiri. Tapi Ia tak mau berbuat demukian. Bapalah yang memuliakanNya.

Jika mau, Ia juga bisa membawa seluruh murid untuk menjadi saksi atau bahkan para Farisi dan ahli Taurat yang kerap menuntut tanda surgawi tentangNya. Tapi yang dibawa hanya tiga saja! Itupun, kepada mereka, Yesus berkata untuk tidak memberitahukan kejadian itu kepada siapapun sampai Ia bangkit dari alam kematian.

Yesus bukanlah sosok yang narsis.

Beda dengan para oknum politikus yang tahun ini dan tahun depan akan banyak bermunculan. Mereka berebut simpati. Mereka berebut suara, mengarak ambisi, menggantung nurani jauh-jauh dari lubuknya sendiri.

Kemuliaan, bagi mereka adalah kebutuhan yang menjadi nilai jual!

Untuk memuliakan diri, mereka mendatangi tempat-tempat bencana. Atau kalau pas tidak ada bencana saat kampanye, daerah-daerah yang penuh orang miskin disatroni. Mereka datang berbondong-bondong dengan rombongan dan bala bantuan. Tangan-tangan halus mereka menyalami. Wajah-wajah yang biasanya tak berkeringat tersenyum disulap jadi penuh simpati dan tak jarang air mata pun dipaksa keluar supaya tampak ikut merasakan kepedihan yang dirasakan.

Supaya apa yang dilakukan itu dikabarkan pada seluruh jengkal tanah negeri dan dunia, para wartawan dan aktivis media sosial diajak. Mereka diberi tugas untuk merilis dan memviralkan peristiwa itu.

Tentu tak semua politikus seperti itu. Masih banyak yang memang berangkat dari latar belakang orang yang gemar berbuat baik dan derma.

Dari Kabar Baik hari ini dan dari hari-hari yang kita lalui sebagai warga sebuah negara yang kerap menggelar pesta demokrasi apapun tingkatannya, kita bersyukur bisa memilih mana yang terbaik: memuliakan diri sendiri atau menanti dipermuliakan Tuhan dengan tekun menjalani perintah-perintahNya seperti yang Yesus perbuat.

Menarsiskan kemuliaan dengan mengundang puluhan wartawan atau menyimpan rapat-rapat hal-hal yang memuliakan itu untuk diri sendiri.

Jika sasaran kita adalah manusia, pilihannya mau tak mau adalah menarsiskan kemuliaan sehingga manusia-manusia mengelu-elukan kita. Tapi jika yang kita sasar adalah Tuhan, ada baiknya kita simpan rapat-rapat saja karena Tuhan yang dariNya kita mohon kemuliaan atas jiwa kita adalah Tuhan yang tak pernah kehabisan mata untuk melihat kebaikan-kebaikan yang kita perbuat, sesunyi dan setersembunyi apapun itu?

Sydney, 25 Februari 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.