Kelegaan dari Tuhan, seberapa besar gunanya dalam menanggung salib hidup kita?

18 Jul 2019 | Kabar Baik

Hari ini Yesus bicara tentang kelegaan dari Tuhan. ?Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.? (lih. Mat 11:28)

Membaca apa yang dikatakan Yesus hari ini di atas, aku sempat bertanya kenapa Tuhan hanya memberi kelegaan ya? Kenapa Ia tak mengangkat beban hidup sehingga kita tak letih, lesu dan tak berbeban berat?

Kelegaan dari Tuhan? Kenapa gak diangkat aja salib kita?

Jawabannya ada pada ayat selanjutnya , ?Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.? (lih. Mat 11:29)

Kuk adalah salib, dan Ia sendirilah yang memasangnya kepada kita. Hidup ini memang perkara memanggul salib yang bukan datang dari kuasa lain selain kuasaNya sendiri. Maka kalau begitu yang kita butuhkan benar-benar memang kelegaan, ketenangan dalam memikul hingga kesudahannya nanti.

Tapi yang menarik untuk kita renungkan sekarang adalah, apakah semua persoalan hidup ini adalah salib hidup yang dipasang olehNya? Tidak adakah persoalan hidup yang kita buat sendiri? Adakah hal itu juga salib hidup dariNya?

Misalnya ada seorang yang dulu begitu kaya raya. Ia pejabat dan mengeruk kekayaan diri sendiri dari praktik ilegal: korupsi. Ada begitu banyak uang rakyat yang harusnya dipakai untuk kepentingan bersama dialirkan secara salah ke rekening pribadinya. Rumah mewahnya, mobil luks-nya? semua ada di mana-mana.

Suatu saat ia tertangkap KPK. Dihukum penjara dua puluh tahun lamanya dan semua kekayaannya disita. Sementara ia meringkuk dalam penjara, istri dan anak-anaknya hidup terlunta-lunta.

Mereka jadi miskin mendadak dan harus berusaha keras untuk tetap bisa bertahan hidup. Di sisi sosial, nama mereka pun hancur. Istri dipermalukan di pergaulan, anak-anak dibully habis-habisan di lingkungan.

Salib hidup

Pertanyaannya sekarang, adakah mereka sedang menjalani salib hidup? Adakah salib itu Tuhan yang menghendaki dan memasangnya?

Kalau menurutku, salib hidup bukanlah problem hidup. Salib hidup adalah penyangkalan diri terhadap dunia. Artinya? Ketika kita tidak mengikuti kehendak dunia, ketika kita menomersatukan iman, di situ kita memanggul salib. 

Bagaimana si pejabat tadi jadi koruptor tentu bukan Tuhan yang membuatnya seperti itu. Tapi bagaimana ia dan keluarga rela dan sudi menjalani hukuman yang dijatuhkan, itulah salib yang mereka tanggung.

Kalau si mantan pejabat tadi tak mau menyangkal diri dengan tak mau menanggung salib Tuhan , ia bisa saja bunuh diri di dalam sel penjara. Untuk apa melanjutkan hidup karena toh sudah jatuh miskin, dipenjara dalam waktu yang lama pula. Bagaimana ketika keluar nanti? Adakah istri dan anak-anak masih setia dan menerimanya?

Kalau si istri mantan pejabat tadi tak mau menanggung salib Tuhan, ia bisa saja menceraikan sang suami lalu mencari suami baru yang sama-sama kaya dan melanjutkan hidup foya-foya.

Begitu juga anak-anak. Kalau mereka tak mau menanggung salib Tuhan dan tak menyangkal diri, mereka bisa saja bereaksi secara negatif dan ofensif atas bully yang dilakukan kawan-kawannya atau setidaknya menyangkal bahwa mereka bukan anak sang koruptor.

Panggul salib hidup dalam kelegaan dari Tuhan

Itulah cara mereka memanggul salib Tuhan. Apakah yang membuat mereka mau menjalani semua? Karena kelegaan yang diberikan Tuhan.

Lho, kalau begitu Tuhan memaklumkan kesalahan koruptor dan keluarganya, DV?

Iya! Selama mereka bertobat seperti halnya Ia juga memaklumkan kesalahan kita yang juga sedang bertobat. Bukankah Ia datang untuk para pendosa dan bukan untuk mereka yang sudah merasa benar dan pintar?

Sydney, 18 Juli 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.