Kejar Setoran Kasih

19 Sep 2019 | Kabar Baik

Dalam Kabar Baik hari ini, Yesus menyampaikan satu hal yang membuka benakku untuk merenungkan tentang pentingnya arti kejar setoran berbuat kasih. Seperti ditulis Lukas, Yesus berkata demikian, ?Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih.? (lih Lukas 7:47)

Apakah kejar setoran kasih itu?

Ah, sebenarnya itu hanya istilahku saja tapi pada intinya kita diajak untuk sebanyak mungkin berbuat kasih karena dengan begitu dosa-dosa kita pun diampuniNya. Kecuali kamu merasa tak berdosa, maka tak perlulah kejar setoran kasih.

Kejar setoran kasih karena hidup ini ada batas waktunya

Tapi kenapa istilah yang dipakai adalah kejar setoran seolah-olah penuh ketergesaan? Bukan tergesa-gesa tapi hidup terbatas waktu jadi makin banyak kasih yang kita perbuat makin penuh setoran kita, bukan? Menggunakan akal budi dan iman, kita diajak memilih melakukan yang lebih banyak kasih daripada yang tidak.

Misalnya, ketika pada sebuah pagi setelah selesai menyelesaikan satu batang rokok saat sedang menunggu kereta, kemana kalian buang puntungnya? Mana yang lebih menunjukkan kasih yang lebih besar; membuangnya begitu saja di pinggir jalan atau membuang puntung di tempat yang telah disediakan dengan terlebih dulu mematikan baranya?

Sudah barang tentu yang terakhir adalah yang banyak setoran kasihnya, bukan? Tapi kalau mau lebih banyak lagi adalah kalau kita berlatih untuk berhenti merokok sama sekali atau setidaknya belajar untuk tidak merokok di tengah kerumunan orang yang mau-tak-mau ikut menghirup asap rokokmu itu.

Mana yang lebih banyak kasih?

Contoh kedua, pada sebuah minggu pagi saat hendak ke gereja untuk ikut perayaan ekaristi mingguan, tiba-tiba ada seorang ibu terserempet motor lalu jatuh berdarah-darah. Mana yang lebih banyak mendatangkan kasih, berhenti menolong atau tetap ke Gereja atau? telepon ambulans sembari kita tetap ke Gereja sehingga sang ibu tetap tertolong dan kita tetap ke Gereja?

Menurutku yang paling penuh kasih adalah ketika kita langsung turun tangan membantu si ibu dan mengantarkannya ke Rumah Sakit terdekat hingga tertangani secara baik. Tapi kalau begitu kita batal ke Gereja dong? Bukankah hal itu adalah satu kewajiban? Betul! Tapi meski batal ke gereja pagi itu tapi kita bisa cari jadwal perayaan minggu sore?

Contoh ketiga, ketika suatu waktu seorang tetangga membutuhkan bantuan keuangan lalu kita sudah hendak menyalurkan bantuan, tiba-tiba ada tetangga lain yang sudah terlebih dahulu menolongnya. Mana yang lebih penuh kasih, membatalkan bantuan atau memberikan tawaran bantuan lebih banyak dengan catatan yang dibantu mau menolak bantuan tetangga yang lain tersebut?

Yang terbaik adalah menanyakan pada yang perlu dibantu apakah masih perlu bantuan atau tidak. Jika masih perlu ya kita bantu kekurangannya. Jika tidak, kita biarkan tetangga lain tadi untuk membantu.

Wah kalau begitu setoran kasihnya direbut tetangga kita dong?

Tenang? justru jika kita ini penuh kasih, seharusnya kita sadar bahwa tetangga tadi pun punya hak untuk sama-sama kejar setoran kasih seperti halnya kita.

Sydney, 19 September 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.