Kehabisan stock tissue toilet? Mungkin ini jalan bagi kita belajar cebok lebih bersih lagi

5 Mar 2020 | Cetusan

Waktu dikabari Joyce, istriku, senin lalu bahwa tissue toilet habis dimana-mana, aku sempat nggak percaya. Bahwa ada gelombang orang mulai panik untuk stock-up beberapa kebutuhan pokok terkait kemungkinan penetapan keadaan darurat/pandemic Virus Corona di Australia, itu masukakal. Tapi tissue toilet? Kenapa bukan yang lain? Nggak mungkin!

?Coba cari di tempat lain! Atau ntar malam nunggu aku pulang lalu kita cari deh ke mana yang agak jauhan, pastinya masih ada!? begitu jawabku via WA siang itu.

Sepulang kerja, setelah kami mencari-cari di banyak supermarket, nyatanya tissue toilet memang habis tanpa jejak! Iseng mencari di online shopping, malah ketemu harga-harga mencengangkan seperti di bawah ini. Masa tissue toilet ditawarkan seharga $1000? Bisa dapat berapa boks masker wajah di Indonesia yang konon juga makin langka ya?

Tissue seharga $1000? OH MY GOD!

Kenapa warga Australia menganggap tissue toilet sebagai sesuatu yang vital?

Banyak kawan di Indonesia yang tahu fenomena ini  bertanya padaku, apakah tissue toilet adalah kebutuhan paling vital bagi warga Australia? Aku tak yakin demikian. Tapi kenapa hampir semua tempat kehabisan tissue toilet? Barangkali orang berpikir ketika lapar, orang bisa makan seadanya. Tapi ketika boker, orang tak bisa tidak harus cebok dan mengelap area anus menggunakan tissue, cara cebok yang umum dilakukan di sini.

Di media, seorang petinggi perusahaan produsen tissue menghimbau agar masyarakat tenang karena proses produksi diadakan di dalam negeri Australia selama dua puluh empat jam sehari dan tujuh hari seminggu. Beberapa supermarket besar secara nasional juga mengadakan aturan darurat mengatur supaya jumlah tissue bisa dibeli dengan pembatasan kuota, empat pack per customer. Adakah strategi itu akan berhasil? Semoga demikian sehingga kejadian ?konyol? seperti ini tak terulang lagi.

Cara cebok tanpa tissue?

Tadi sore waktu sedang manyun aku jatuh dalam permenungan; apa yang terjadi kalau seandainya tissue toilet memang benar-benar hilang dari muka bumi Australia? Bagaimana cara cebok tanpa tissue?

Aku pernah dengar beberapa kawan punya pengalaman unik. Karena saking kebeletnya, mereka boker di toilet umum tanpa berpikir apakah tissue tersedia atau tidak. Ide terpantik! Mereka mengorbankan kaos kaki yang dikenakan untuk dipakai cebok. Tentu saja setelah itu kaos kakinya langsung dibuang lah! Masa dipake lagi?

Ada lagi ide selain kaos kaki yaitu menggunakan katun yang tak terpakai entah itu kaos, handuk atau bahkan sprei yang disobek-sobek.

Aku berpikir, kenapa sih mereka nggak pakai solusi yang ?lebih baik?? Air! Ya! Kenapa mereka tak berpikir cebok menggunakan air seperti kebanyakan kita di Tanah Air?

Bahkan aku yang sudah lebih dari dua belas tahun tinggal di sini pun masih tetap menggunakan air kok untuk cebok. Bagiku tetap saja kalau belum cebok dengan air berarti belum cebok sampai bersih. Tissue toilet tetap kupakai ketika harus boker di luar rumah saja. Tapi kalau di rumah, aku hanya menggunakan tissue sedikit untuk sekadar ?basa-basi? lalu selebihnya ya pakai air.?

Menghadapi dunia yang kian lucu dalam menyuguhkan hidup, kita harus terbiasa berpikir lebih elastis sekaligus terbuka akan cara Yang Kuasa mengajari kita bertahan dalam segala situasi dan kondisi. Tak ada ini maka pakai itu. Tak ada rotan, akar pun jadi. Tak ada tissue toilet, barangkali ini adalah cara supaya kita belajar cebok lebih bersih lagi (baca: menggunakan air)?

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.