Memasuki hari terakhir Pemilihan Ketua Presidium Perkumpulan Alumni Kolese De Britto 2026 – 2030, sebagai ketua KPU, baiklah aku membuat catatan tentang kedua caopres, Alvon dan Hengki.
Tau nggak, satu dari beberapa yang paling kusyukuri ada di Pilpres ini, kedua calon yang bertarung, dua-duanya kawan dekatku.
***
Aku kenal Hengki pertama kali waktu duduk di bangku SMA Kolese De Britto Yogyakarta. Dia kakak angkatanku dua tahun.
Perawakannya sedang, tidak tinggi tapi juga tidak pendek. Well kalau kalian lihat fotoku dengannya di bawah ini, dia (Hengki berbaju biru) tampak pendek karena akunya (berbaju kuning) yang tinggi hahaha!

Hengki selalu tersenyum ramah kepada siapapun yang ia temui! Gayanya kalem, rambut gondrong, selalu membawa gantungan kunci di leher dan kamera! Buat kalian yang belum tahu, angkatan 94 memang angkatan yang kaya dengan nuansa kreatif. Kalau kalian kenal nama Anton Ismael, fotografer handal Tanah Air, dia seangkatan dengan Hengki. Kalau kalian masih ingat nama besar Kristupa Saragih, dia juga kawan dekat Hengki.
Hengki aktif gak hanya dalam dunia fotografi tapi juga jurnalistik. Dia, bersama dengan Kristupa dan pendahulunya, Valens Riyadi, bergabung di Gema, sebuah komunitas jurnalistik pelajar Jogja yang bernaung di bawah Bernas.
Interaksiku dengan Hengki swaktu SMA tidaklah banyak. Lebih pada seorang adik kelas yang mengagumi kreativitas kakak kelasnya.
Garis hidup kami bertaut saat aku diajak Valens Riyadi bersama Riza Tantular, Wicaksono Cipto dan alm Iwan Santoso mendirikan Citraweb Nusa Infomedia pada Februari 2000. Kami semua lulusan De Britto tentu saja. Kantor kami lantas dijadikan markas para alumni termasuk Hengki. Citraweb membangun GudegNet, Gudang Info Kota Jogja, sebuah situs portal kota Jogja yang berfokus pada pemberitaan seni dan budaya Jogja. Kebetulan aku diminta menjadi orang yang mengepalainya. Lalu Valens mengajak Hengki, Kristupa dan sesekali Anton Ismael juga ikut urun rembug! Kalian tak bisa membayangkan bagaimana enaknya aku dibuai para mentor keren itu bukan?!
Ada satu persinggungan personal antaraku dengan Hengki. Mungkin Hengki juga sudah lupa. Waktu itu, Januari 2001. Aku baru saja memulai hubungan dengan pacar yang sekarang jadi istriku, Joyce. Waktu itu kami sama-sama diundang ke acara tunangan seorang kawan yang tak perlulah kusebutkan namanya karena hubungan itu sudah kadaluwarsa hahaha. Karena aku belum punya mobil, aku menelpon Hengki untuk numpang mobilnya Honda LX ceper dari kota Solo ke Solo Baru. Kami bertemu di Stasiun Purwosari, tempatku dan Joyce turun dari kereta api. Sore itu Hengki menjadi salah satu orang pertama yang menyaksikan hubunganku dengan Joyce selain anak-anak Citraweb tentunya :)
Dua tahun sesudahnya, Hengki pamit dari GudegNet. Ia mengadu nasib di Jakarta hingga kini.
Awal September lalu, setelah lebih dari dua puluh tahun tak berhubungan, Hengki mengirimku pesan lewat Whatsapp, menyatakan keinginannya untuk maju menjadi calon presiden alumni. Senang dan banggaku bukan kepalang!
***
Aku kenal Alvon pertama kali juga di bangku SMA Kolese De Britto Yogyakarta. Dia kakak angkatanku setahun tapi kemudian karena gak naik kelas, kami jadi satu angkatan.
Berbeda dengan Hengki yang kalem dan berperawakan sedang, Alvon ini tinggi, lebih tinggi beberapa centi dariku, gondrong, matanya membelalak ketika berbicara, tawanya meledak-ledak, jarang sekali tersenyum, seringkali misuh. Banyak orang bilang Alvon itu preman, aku nggak mengiyakan tapi aku sangat segan untuk berkenalan dengannya. Setahun kami tak saling kenal, saat duduk di bangku kelas dua, musik membuat kami saling kenal.

Alvon mencari bassist untuk VOC Band dan aku adalah orang yang cocok baginya. VOC Band adalah band yang secara tradisi turun-temurun di De Britto dulu. Anggotanya berisi para veteran (orang yang tinggal kelas) tapi aku dan Kelik (vokalis) jadi pengecualian! Perkenalanku dengan Alvon membuatku jadi punya banyak sekali kenalan. Kalau dalam bahasa Bambang Pacul, aku korea dan Alvon adalah galahku!
Hubunganku dengan Alvon jadi sangat dekat! Sepulang ngapel di malam minggu, aku gak langsung pulang kost, pergi ke rumah Alvon, minum-minum, main gitar dan mengerjakan beberapa ketrampilan yang lain (heheh) hingga pagi.
Kenangan terindahku dengan Alvon adalah ketika aku punya pacar anak SMA Stella Duce 2 Yogyakarta, Maret 1996. Aku tahu kawasan asramanya ‘rawan preman’. Aku mengadu ke Alvon untuk minta perlindungan kalau-kalau aku kena masalah. Alvon lalu bilang “Tenang wae! Nanti kukenalkan galine Kebonan!”
Selanjutnya aku malah jadi punya hubungan sangat baik dengan para gali Kampung Kebonan. Mereka gak hanya menjagaku tapi juga menjaga pacarku termasuk melaporkan siapa saja yang berani ngapelin dia dan meneror mereka hahaha!
Setelah lulus SMA aku tak lagi berhubungan dengan Alvon.
Baru sesudah aku pindah ke Australia, aku mulai kembali berinteraksi dengannya. Di saat Pandemik Covid-19, aku terlibat dalam banyak karya musik bersama Alvon membuatku bernostalgia ke masa SMA bersamanya.
Sejak awal Agustus 2026 geliat suara teman-teman untuk membujuknya maju menjadi presiden meninggi. Sama seperti Hengki, Alvon mengirimku pesan, “Thuk! Aku maju!” Senang dan banggaku bukan kepalang!
***
Von, Heng!
Maturnuwun sudah memeriahkan Pemilu tahun ini! Aku gak pernah menyangka bahwa capres-capres yang maju kali ini, dua-duanya adalah kawan baikku!
Siapapun yang menang, pesanku, janganlah saling memisahkan diri. Tetaplah bersatu dengan semua kawanmu meskipun terpencar suara-suara pendukungmu! Hehehe…
Berkah Dalem!
Tinggalkan Balasan