Beberapa tahun yang lalu, salah satu teman pernah berujar padaku demikian,
“Kamu jangan bilang siapa-siapa ya, PLEASE!”
“Eh, apa?”
“Aku udah nggak perawan sejak awal kuliah!”
tentu temanku ini adalah wanita.
“Oh, terus?”
“Ya, kamu jangan bilang-bilang, pokoknya jangan…”
“Bahkan calon suamimu nanti?”
Ia hanya tersenyum.
“Lalu kenapa kamu omong sama aku?”
Ia tersenyum lagi, entah kenapa…
Temanku itu tadi sedang menyeretku ke dalam pusaran pembohongan dirinya.
Ia bohong karena malu, ia malu karena bodoh, bodoh termakan mitos!
Di matanya keperawanan adalah segalanya.
Di matanya, keperawanan adalah tuhan yang mengalahkan Tuhan itu sendiri.
Dan sekali ia kehilangan, ia merasa tak bisa berdiri di atas kenyataan kecuali dengan cara berbohong itu tadi.
Jangan ngomong soal dosa untuk bohongnya, itu terlalu jauh kedengarannya.
Tapi berpikirlah siapa yang rugi menyembunyikan bangkai ikan busuk di dalam kantong celana sendiri?
Alih-alih membuat tubuh menjadi harum karena tersimpannya aib, yang didapat malah akumulasi bau baru itu dicampur dengan bau badan lainnya.
Orang yang terlatih untuk bohong, seperti halnya orang yang malas beranjak dari kasur karena dingin, terlenakan.
Bayangkan cerita temanku di atas yang fiktif tapi nyata, nyata tapi fiktif itu tadi, selepas ia menikah nanti (dengan hitungan ia tidak bertemu pacar yang minta jatah ML setiap malam minggu pacaran) pasti akan menyiapkan jawaban “Kan setiap perawan nggak harus ditandai dengan darah, Sayang!” ketika suami barunya bertanya “Kok kamu nggak keluar darahnya malam tadi?”
Kebohongan kedua pun, tercipta.
Dua minggu kemudian, ia menerima email dari mantan pacar yang memerawaninya,
“Congrat, Dear! Gimana suami? Kaget nggak ngedapetin loe udah nggak perawan?! Enakan mana ama punya gw waktu gw “genjot” loe pertama dulu?”
Ia tak menjawab email laknat itu, tapi di status FB ia menuliskan
“Bangga punya suami yang pengertian tak menuntut kesucian!”
Nah dia berbohong lagi padahal suaminya jelas menuntut kesucian.
Eh, tapi apa suaminya nggak punya FB sehingga si istri begitu berani menuliskan demikian?
Punya!
Tapi bahkan ia tak mengenali profil istrinya sejak ia mengganti profil nickname ke sebuah nama yang tak seorang pun tahu bahwa ia adalah orang yang kuceritakan di atas.
Dan kebohongan-kebohongan pun berkelanjutan.
Merajut pola absurd bersama kenyataan yang semakin lama semakin tersodok, terpinggirkan.
Semakin susah bagi seorang pembohong untuk bangkit, karena selain pekat dan absurdnya itu, seperti kubilang tadi, bohong itu melenakan!
Bukan begitu, kawan?

Tinggalkan Balasan