Kebisuan Zakharia yang menguntungkan

11 Okt 2018 | Kabar Baik

Zakharia itu petinggi agama. Ia akrab dengan ajaran-ajaran Tuhan yang disampaikan kepada jemaat. Tapi meski demikian, ketika Allah menyatakan bahwa istrinya, Elizaberth, akan mengandung anak darinya, ia tak percaya! Usia keduanya sudah tua, maka Zakharia berpikir dari mana dan bagaimana hal itu bisa terjadi?

Saking tak percayanya, Allah sampai membuatnya bisu hingga hari dimana semuanya terjadi (lih. Lukas 1:20).

Kenapa Allah membuat Zakharia bisu tak ada yang tahu tapi barangkali? sekali lagi barangkali, Allah ingin Zakharia merenungi kebenaran Tuhan sebelum ia mewartakan kebenaran Tuhan dalam tugasnya sebagai ahli agama. Percuma bagi Zakharia untuk mewarta kalau ia sendiri tidak/belum percaya pada kebenaran itu sendiri.

Percaya padaNya itu memang penuh tantangan apalagi di jaman modern ini dimana banyak hal seolah bisa kita dapatkan dengan sendirinya, dengan kuat usaha kita sendiri.

Kawanku, misalnya. Ia merasa malas pergi ke Gereja di hari minggu, memilih untuk tidur sepanjang hari di hari itu karena senin hingga jumatnya sibuk bekerja. Ketika ditanya, ?Kamu ke Gereja kan untuk mensyukuri apa yang sudah kamu dapatkan?? jawabnya begini, ?Ngapain? Aku kerja pakai keringat dan tenagaku sendiri kok!?

Tuhan, baginya, tak memberi andil dalam kesuksesan bekerja semata karena ia tak mau mendalami lebih dalam darimana tenaga dan talenta yang dipakai untuknya bekerja itu berasal-mula. Tuhan adalah ?Causa Prima? yang memberi kita hidup. KetidaktampakanNya secara fisik tak berarti bahwa Ia tidak ada karena suatu saat kitapun juga akan tiada namun kita selalu mengimpikan hidup kekal, bukan?

Entah bagi kalian, tapi bagiku, perjuangan iman sehari-hari yang paling berat adalah untuk menyadari kuasa Tuhan yang bekerja dalam hidup.

Kukatakan berat karena sebagai manusia biasa, akupun sering tergoda untuk berpikir seperti apa yang kawanku pikirkan di atas. Aku kadang merasa tak butuh Tuhan. Ketika aku mendapatkan kesuksesan dalam kerja aku merasa itu bukan daripadaNya, ketika aku gagal pun, aku tidak lari kepadaNya karena merasa itu adalah kegagalanku sendiri.

Bukankah hal ini membahayakan? Tapi sungguhpun demikian, aku mensyukuri hal-hal yang membahayakan ini. Lho kok bisa??

Karena aku justru mengartikannya sebagai iman yang bertumbuh dimana aku berani masuk lebih dalam untuk menantang diri dan jiwaku sendiri bagaimana sebenarnya aku memandang Tuhan??

Adakah aku meyakini dan mengimani Tuhan hanya sebatas apa yang kubaca dan yang tertulis dalam Kitab Suci? Adakah aku hanya pura-pura mengasihi Tuhan karena tradisi agama yang diajarkan orang tua dan para guru agama di sekolah dulu mewajibkan demikian?

Di titik ini, kebisuan yang dialami Zakharia pun tak kupandang sebagai hal yang menyedihkan. Kenapa? Dalam kebisuan yang diberikan Tuhan, Zakharia bergumul dan berjuang untuk membuktikan kebenaranNya secara sungguh-sungguh. Bukankah hal itu adalah satu yang perlu disyukuri juga?

Kelapa Gading, 11 Oktober 2018

Jangan lupa isi?Survey Kabar Baik 2018. Hasil isian kalian dalam survey tersebut sangat mempengaruhi bagaimana pola tulisan dan distribusi renungan Kabar Baik ini akan berkelanjutan.?Klik di sini?untuk informasi selengkapnya!

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.