Kebenaran tak pernah salah, cara kita menanggapinya saja yang kadang tak asik

16 Mei 2018 | Kabar Baik

Kuduskan mereka dalam kebenaran; firmanMu adalah kebenaran (Yohanes 17:17)

Salah satu upaya untuk tetap kudus dalam kebenaran seperti yang dimohonkan Yesus kepada Bapa adalah dengan setia hidup dalam kebenaran itu sendiri! Tapi persoalannya adalah sepanjang hidup, tantangan jaman itu dinamis sehingga memaknai kebenaran haruslah kreatif. Kalau tidak, kebenaran akan tampak usang dan akhirnya kita meninggalkannya.

Bingung? Yuk kita omongin yang gampang-gampang aja!

Dari kecil, oleh orang tua, aku dididik untuk meyakini sebuah kebenaran: menyiapkan pagi sebaik mungkin. Memiliki pagi yang baik itu penting karena konon akan mempengaruhi sejauh apa kita bisa menjalani hari.

Waktu SD – SMP, menyiapkan pagi sebaik mungkin adalah dengan bangun pagi jam 5:45 lalu boker, mandi dan sikat gigi dilanjut makan pagi.

Pindah ke Jogja saat menginjak SMA, memaknai kebenaran bahwa pagi harus disiapkan sebaik mungkin adalah dengan bangun tak terlalu pagi karena malam aku tidur lebih larut. Bangun jam 6:30 aku tak mandi. Mandi pagi bagiku tak penting toh selama tidur kita tak berkeringat dan tak juga kotor? Gosok gigi? Tidak juga hahaha!, Aku ?menggosok gigi? dengan cara menyulut sebatang rokok! Percuma kalau sikat gigi kemudian ngerokok karena bau segar odol akan hilang oleh pekatnya asap tembakau yang kuhisap! Lagipula murid di SMA-ku kan cowok semua hahaha?

Masuk dunia kuliah aku bangun tak pagi sama sekali karena aku selalu memilih kuliah di atas jam 10. Mandi? Tergantung! Sikat gigi? Tergantung! Kalau mbak pacar waktu itu minta dijemput tentu aku mandi dan sikat gigi. Kenapa? Kalau mbak pacar mengeluh aku bau lalu ngambek itu pertanda pagiku tak baik sama sekali!

Bekerja di perusahaan sendiri, membuat pemaknaanku terhadap pagi harus disiapkan sebaik mungkin, berubah lagi. Kadang aku tak bangun pagi sama sekali. Aku bangun siang dan bagiku siang adalah pagi!

Pindah ke Australia, menikah, beranak dan bekerja di perusahaan orang, pemaknaan pagi harus disiapkan sebaik mungkin beda lagi! Pagi adalah bangun sepagi-paginya lalu gosok gigi dan tak perlu mandi lalu membantu istri menyiapkan anak-anak ke sekolah.

Itulah kebenaran dan cara kita hidup di dalam kebenaran itu. Ada cara-cara kreatif untuk mengakomodasi hidup supaya tetap setia dan mengimani kebenaran itu sendiri.

Jika tidak, karena dinamika hidup yang kadang tak jelas juntrungannya, kita bisa frustrasi memandang kebenaran lalu berkesimpulan bahwa hal itu sudah usang dan tak benar lagi!

Oknum teroris konon memandang kebenaran dengan cara mereka sendiri. Mereka mengambil sudut waktu kebenaran hanya pada saat kebenaran itu dituliskan ribuan tahun silam. Padahal hidup terus berjalan, kan?

Untuk itulah aku setuju pada pendapat bahwa terorisme bukanlah ajaran agama meski terorisme bisa lahir dari cara orang memandang kebenaran menurut versi mereka sendiri.

Bukan ajarannya yang salah tapi barangkali cara kita menanggapi yang tak asyik dan harus diperbaiki?

Sydney, 16 Mei 2018

Sebarluaskan!

1 Komentar

  1. menarik sekali artikelnya :)

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.