Bangunan kebahagiaan dalam secangkir kopi sachet

30 Agu 2017 | Cetusan

Menyusun kebahagiaan itu bisa dari sudut kita menikmati seduhan kopi.

Aku cukup getol dalam ber-kopi.
Pernah dalam sehari, selain makan tiga kali, ngopi juga harus tiga kali! Kurang dari itu, bagai kerupuk dan sambal yang dimakan tanpa nasi, bagi hidup tanpa kamu ada di sisi!

Ongkos yang kukeluarkan tidaklah murah. Secangkir kopi ukuran sedang di Sydney rata-rata $4.5 jadi dalam sehari $13.5. Dalam seminggu, $67.5, sebulan dengan menghitung ada 22 hari kerja, aku harus membayar $297 banyaknya. Hanya untuk kopi!

Aku lantas menantang diriku sendiri, “Sanggupkah aku keluar dari jerat ketergantungan itu tapi tetap bahagia?” Puji Tuhan aku tidak sedang ada dalam kesulitan keuangan tapi apakah keluar dari jerat itu hanya saat kita ‘diharuskan’ keluar?

Tantangan kuterima! Berhadap-hadapan dengan diri sendiri, aku harus bisa mengalahkanku!
Pergi ke supermarket,membeli satu kardus kopi sachet, pertandingan itu kumulai. Sepuluh kemasan seduh kubayar seharga $6! Jika aku berhasil mengalahkan tantangan ini, aku berhasil menghemat lebih dari 80% harga kopi yang biasa kubayar ke coffeeshop tiap cangkirnya!

Rasa

Apa yang terjadi? Berat! Tapi aku harus mampu mendefinisikan dimana titik yang memberatkan itu?
Kubeli secangkir kopi yang biasa kunikmati, kuletakkan di meja dan di sebelahnya kuletakkan secangkir kopi lainnya, hasil seduhan kopi sachet.

Kuminum secara bergantian, beda rasa tetap ada tapi sejauh apa? Tak beda jauh. Sama-sama kopi, sama-sama susu! Yang membedakan hanyalah rasa dan rasa itu milik kekuasaan lidah dan lidah dikontrol oleh otak. Ini hanya masalah persepsi. Aku menugaskan otak untuk membujuk lidah supaya menerima keduanya sebagai kopi yang punya rasa kurang lebih sama.

Hari pertama kulalui dengan sukses.

Interaksi

Hari kedua. Ternyata tak lebih ringan, tetap berat! Apanya yang salah? Kopinya sudah berasa sama, setidaknya menurut lidah atas perintah otakku untuk mengatakan demikian.

Ternyata yang memberatkan adalah kebiasaan. Aku terbiasa untuk berinteraksi dengan kolega saat bersama-sama jalan keluar dari gedung kantor menuju ke coffeeshop. Di perjalanan yang tak lebih dari lima belas menit itu kami biasa ngobrol ngalor-ngidul tentang apa saja, topik berita, kejadian semalam hingga pekerjaan yang akan kami habisi hari ini. Aku juga terbiasa interaksi basa-basi dengan barista yang menyeduhkan kopi untukku, juga dengan orang-orang yang tak kukenal tapi kepadanya kusapa, masih dengan basa-basi, “Hey, Mate!” atau “Sorry, are you in the line?” atau sekadar “Cheers!’ Kopi memiliki interaksi antar manusia dan aku kehilangan itu.

Solusiku, ketika menyeduh kopi di dapur, aku berkenalan dengan kolega lain yang juga sama-sama sedang menyeduh kopi. Kami saling ngobrol seperti layaknya obrolan dengan kolega-kolegaku yang biasa bareng-bareng pergi ke coffeeshop. Lagi-lagi, masalah teratasi!

Gengsi… Gak gaul tapi tak kehilangan esensi

Stigma terbangun kadang bukan dari pengalaman tapi dari ‘kata orang’.

Banyak foto di Instagram diunggah kawan yang memamerkan sedang minum kopi di coffeeshop terkenal tapi adakah atau banyakkah yang mengunggah foto saat menyeduh kopi di dapur lusuh?

Banyak situs menjelaskan tentang beda-beda kopi dari cara pembuatan, campuran dan tetek bengeknya dan itu menjadi penanda bahwa seolah kalau kita tak mengenalinya dan tak pernah mencoba menyeruputnya kita turun kasta!

Belum lagi soal latte-art. Orang berlomba-lomba datang ke coffeeshop, memesan kopi dan memotret hasil latte-art lalu mengunggahnya ke social media. Tapi dimana letak esensinya? Latte art itu bukan kita yang buat, sebentar juga sirna secepat kita menyeruput kopi, atau kita membeli kopi hanya untuk latte art?

Ada pula, janji deh ini yang terakhir, orang yang dengan pongahnya bilang bahwa minum kopi kalau kopi sachet itu seperti minum air santan?

Dari hal-hal seperti itu, aku tersadar bahwa sejatinya selama ini ada begitu banyak opini dan asumsi yang tercipta dari secangkir kopi yang sejatinya tidak mempengaruhi esensi kopi itu sendiri.

Kopi adalah kopi apapun namanya. Kopi adalah kopi tanpa atau dengan latte-art.

Tapi ketika terlambat menyadari esensi, yang terjadi adalah otak teracuni dengan berbagai macam asumsi dan opini tadi sehingga dengan lancang ia memerintahkan lidah untuk tidak mau mencecap kopi sachet dan maunya kopi yang ada di coffeshop, yang jenis-jenisnya membuat kita merasa seperti orang italia yang lancar berkata ‘capucinno, latte, mocca dan lain sebagainya’

Lalu bagaimana caraku mengatasinya?
Aku mengunggah foto cangkir kopi yang barusan kupakai untuk menyeruput kopi sachet. Apa salahnya dan dimana buruknya? Kalau soal latte-art, aku tinggal ‘search’ dengan keyword ‘latte art’ dan aku mendapatkan hasil yang jauh lebih bagus dari yang kawan-kawanku ataupun diriku sendiri pernah dapati dari latte-art yang pernah kulihat sebelum kucecap.

Kopi dan penumpasan pemberotakan rasa ngantuk

Hal paling identik dengan kopi adalah hilangnya rasa kantuk. Benar? Benar!

Tapi adakah kopi sachet juga tak bisa menumpas pemberontakan si kantuk? “Nggak bisa! Kopinya gak kental jadi tetap aja ngantuk!”

Benar? Barangkali!
Tapi mari kita buat tidak benar. Jangan biarkan kopi sachet bekerja sendiri, persatukan ia dengan oksigen, beras merah dan roti gandum, pola tidur yang baik, olahraga yang teratur dan minum air banyak-banyak. Dikeroyok sebanyak itu, rasa kantuk akan hilang dan sirna.

Kian hari aku kian terbiasa menyeruput kopi sachet dan terlepas dari kebiasaan harus minum kopi di coffeeshop. Coffeeshopku adalah supermarketku, tempat dimana aku bisa mendapatkan kopi sachetku dengan harga yang murah dan meriah!

Lalu bagaimana kalau aku sedang tak ada di rumah atau kantor sehingga tak bisa mengakses dapur untuk membuat kopi?
Ya aku harus beli kopi tapi tak harus kopi yang ini dan yang itu! Sembarang kopi bisa karena aku telah berhasil menstimulus otakku untuk memerintahkan lidah mencecap apa saja selama itu adalah kopi ketika butuh ngopi maka itu adalah kopi!

 

Kebetulan di 7-11 (Sevel) dijual kopi seduh murah dari biji kopi asli.
Secangkir ukuran sedang hanya dua dollar saja atau lebih dari separuh dari harga kopi buatan barista di coffeeshop. Kok bisa murah? Karena tidak menggunakan tenaga manusia melainkan mesin.

Jadi, ketika tak bisa menyeduh kopi sachet, kopi ‘sevel’ yang kian hari kian banyak peminatnya itu jadi pilihan strategis!

Banyak orang bilang kopi ‘sevel’ kurang enak, kopi ‘sevel’ nggak pekat. Jika aku tak melakukan ‘latihan’ dan memenangkan tantangan di atas, barangkali aku juga bisa berkata demikian. Tapi karena aku telah berhasil melewati, mendapati kopi ‘sevel’ yang katanya tidak enak pun ya jadi terasa enak.

Kebahagiaan itu bukan hal yang sulit untuk diciptakan. Semua tergantung bagaimana kita memerintah otak untuk memutuskan bahwa apapun yang diterima dari indera, entah itu mata, telinga, lidah, kulit maupun hidung adalah kebahagiaan.

Mudah, kan?

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.