Kawah Candradimuka

28 Jul 2017 | Cetusan

Aku mendapatkan kiriman tulisan dari Mas Datuk Sweida Zulalhamsyah, kakak kelasku di SMA Kolese De Britto, yang pernah kuwawancarai di blog ini melalui WhatsApp siang tadi. Saat istirahat makan, akupun membacanya lalu jatuh iba…

Tulisan itu karya Mbak Cindita Ginting, istri Mas Datuk, yang berkisah tentang kunjungannya bertemu dengan sosok yang meski tak disebutkan secara langsung tapi sepertinya sosok tersebut adalah Ahok alias Basuki Tjahaja Purnama, mantan Gubernur DKI Jakarta yang saat ini mendekam di penjara untuk menuntasi hukuman badan karena kasus yang menimpanya beberapa tempo yang lalu.

Atas seijin Mas Datuk, aku mempublikasikannya di blog ini. Simak selengkapnya…

KAWAH CANDRADIMUKA

“Pisang garing, silakan dicoba. Saya pesan langsung dari orang kampung kami. Ini resep asli, pasti dia kangen makanan ini,” Ibu separuh baya itu mengulurkan bungkusan hijau daun pisang.

Saya mengenal penganan itu sebagai nagasari, tidak istimewa benar, tapi raut wajahnya yang ragu membuat saya tercenung. Tangannya terlihat gemetar merapikan wadah kue yang dipersiapkannya untuk beliau. Kegelisahannya sama dengan apa yang memenuhi dada saya. Kami duduk bersisian di sebuah restoran cepat saji, beberapa ratus meter jaraknya dari Mako Brimob. Setelah beberapa waktu sebelumnya tertunda, penuh harap saya menunggu saatnya.

Selanjutnya semua terasa cepat. Seolah tiba-tiba, saya memasuki ruangannya. Beliau berdiri di depan pintu mengenakan kaus polo biru tua, celana panjang warna khaki, sepatu hitam dan kaca mata khasnya. Tinggi, bugar dan wajahnya bersih. Genggam tangannya terasa hangat.

Beliau mempersilakan kami duduk dan sempat kerepotan memilih kursi yang akan didudukinya, karena nyaris terisi penuh oleh rombongan kami.

“Banyak nih. Ada berapa orang? Tadi berapa mobil?” begitu tanyanya dengan senyum. Dan selanjutnya mengalir cerita soal otomotif. Beliau berkisah soal kiatnya agar bisa mengendarai mobil termasuk mobil mewah tanpa perlu membeli serta mengeluarkan uang untuk bensin dan parkir.

Saat studi S2 di Prasetya Mulya, ia mencari teman kuliah yang bertempat tinggal di sekitar rumahnya, lantas menawari untuk berangkat bersama-sama. Ia menyupiri dan sang teman duduk tenang belajar di sebelahnya, kedua belah pihak happy.

Sejak lama teman-temannya mahfum akan hobbynya ini, karena itu jika ada perjalanan beramai-ramai ke luar kota, sudah pasti ia berada di belakang kemudi. Termasuk saat ada keluarga teman bermain basketnya yang membeli mobil, ia orang pertama yang didaulat untuk mencoba si mobil baru.

“Paling enak kalau beli mobil bekas test drive, diskonnya besar,” begitu ia melanjutkan cerita.

“Sebenarnya saya sudah tanya-tanya show room, mau beli mobil bekas test drive. Dan sudah dapat harga cocok, tapi saya pikir tunggu dulu. Nanti aja bulan Oktober saja saya belinya. Eh…. nggak taunya, sekarang saya malah di sini,” tawanya berderai.

Dada saya terasa ngilu sesaat. Tapi ia malah melanjutkan dengan jenaka. “Nanti keluar dari sini saya mau jadi Comedian, sudah banyak cerita lucu yang saya kumpulkan, buktinya dari tadi anda semua tertawa-tawa. Saya akan pasang harga mahal untuk ticket Stand Up Comedy saya.”

Ia lantas bercerita bahwa pengalaman saat ini sebenarnya sudah pernah dilaluinya dalam bentuk yang berbeda. Ketika itu ia harus mengurus pabrik milik keluarga di kampung halamannya. Sebagai orang muda, meninggalkan Jakarta dan kembali ke kampung yang sepi merupakan “siksaan” tersendiri, tak henti-hentinya ia menyesali diri. Hingga suatu saat temannya dari Jakarta datang berlibur dan mengungkapkan betapa bahagianya jika bisa melihat pantai Bilitung yang indah setiap hari. Betapa beruntungnya orang-orang yang tidak harus berjibaku dengan keruwetan hidup di Jakarta. Beliau kemudian menyadari bahwa kita sering kali menginginkan apa yang dimiliki oleh orang lain, padahal tiap fase hidup punya arti dan tujuan tersendiri.

Jika selama ini dia selalu dikejar waktu dan tugas susul-menyusul nyaris tanpa jeda, maka sekarang saatnya dia beristirahat beberapa waktu.

Melihat tumpukan surat titipan teman-teman yang kami bawa, Ia lalu bercerita tentang aktifitas membalas surat yang harus dilakukan mirip ban berjalan di pabrik mobil. Petugas meregistrasi surat-surat masuk dalam seminggu dan ada hari-hari khusus buat dia untuk membalasnya. Tidak boleh tidak, surat-surat harus dibalas sesuai jadwal. Jika tidak, akan terjadi penumpukan dan nantinya malah lebih repot. Isi surat bermacam-macam, mulai dari seorang
kakek yang mengeluh karena nenek tiap kali menangis jika melihat berita di tivi tentang beliau, anak kecil yang menceritakan Ibunya menjadi malas memasak akibat memikirkan beliau hingga berita gembira seorang remaja yang sebelumnya termenung setiap hari, setelah menerima balasan surat dari beliau, intensitas termenungnya menjadi jauh berkurang.

Ketika seorang anggota rombongan kami mengulurkan post card bergambar Simpang Susun Semanggi dalam balutan cahaya warna-warni lampu jalan, dia terbelalak.

“Ini siapa yang foto? Bagus banget. Ini diambil waktu uji coba ya? Hebat nih yang foto,” raut wajahnya sumringah??

Saya tercekat. Saya ingin mengatakan bahwa Simpang Susun Semanggi itu legacy beliau. Beliaulah yang hebat! Tapi bahkan dia sendiri tak sedikitpun menunjukkan sikap berlebih. Tak ada tutur jumawa, tak ada raut wajah berbangga diri. Sudut mata saya membasah, tapi hati saya terasa hangat.

Rasa hormat saya bertambah. Saya menyimpan harap pada ketegaran, semangat dan energi positif yang tetap terpancar kuat, sekalipun dirinya sendiri sedang berada pada titik nadir. Dia tetap seorang petarung!

Waktu berjalan cepat. Langkah kaki saya terasa ringan menuju kendaraan, walau terik matahari membakar. Konon di balik matahari, di negeri khayangan ada kawah Candradimuka yang panasnya jauh melebihi api, di mana bayi Tetuko, anak Bima digembleng hingga menjelma menjadi Gatotkaca, ksatria kuat, berotot kawat dan bertulang besi.

Semesta tengah menjalankan tugasnya. Beliau sedang digembleng di kawah Candradimuka, belajar mengurai sasmita alam dan menerima titahNya sepenuh jiwa tanpa perlu bertanya apa-apa.

Siapa yang mampu menahan putaran waktu? Pada saatnya nanti segalanya akan paripurna. Saya menantikan saat itu. Penantian saya, penantian kami, tidak akan berujung sia-sia.?

(Cindita Ginting, 25 Juli 2017)

Tulisanku yang berisi wawancara dengan Mas?Datuk Sweida Zulalhamsyah bisa disimak di sini.

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.