Katanya mau lebih dari Thomas?

3 Jul 2018 | Kabar Baik

Hari ini Gereja Katolik di seluruh dunia memperingati Hari Raya Santo Thomas.

Salah satu peristiwa monumental terkait dengannya adalah saat ia tak percaya bahwa Yesus sudah bangkit dari mati. Di hadapan para murid lain yang percaya, Thomas berseloroh, ?Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.? (lih. Yohanes 20:25).

Bersyukurlah Thomas karena Yesus sayang kepadanya. Delapan hari kemudian, Yesus mendatangi para murid, mendekat pada Thomas dan berkata, ?Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.” (lih. Yohanes 20:27).

Thomas pun diteguhkan. Ia berkata, ?Ya Tuhanku dan Allahku!” (lih. Yohanes 20:28)

Dari peristiwa itu, banyak yang kudengar dari para pembicara dan pengajar adalah ajakan untuk bersikap tidak seperti Thomas yang baru percaya setelah melihat. Hendaklah kita percaya meski tak melihat.

Adakah ajakan itu benar?
Sudah barang tentu!

Tapi persoalannya bukan tentang benar atau salah. Persoalannya adalah, punya visi hidup untuk bersikap lebih dari Thomas itu baik tapi sudahkah kita menjadi seperti Thomas lebih dulu?

Sudahkah kita percaya setelah melihat? Jangan-jangan kita belum/tidak percaya bahkan saat kita sudah melihat Tuhan?

Sebagai orang Katolik, setiap hari kita diberi kesempatan untuk melihat Tuhan dalam perayaan ekaristi di gereja-gereja Katolik di seluruh penjuru dunia. Malah bagi yang sudah dibaptis dan menerima komuni pertama, kita boleh memegang dan menyantapNya.

Beberapa tahun lalu aku bertanya pada sekelompok kawan yang kutahu adalah Katolik juga. ?Menurut kalian, apakah komuni itu??

Jawab mereka macam-macam tapi tak sedikit yang berkomentar, ?Itu adalah simbol/lambang Yesus Kristus.?

Benarkah?
Kali ini aku berani menjawab tidak benar. Yang kita santap saat komuni adalah Tubuh dan Darah Kristus dalam rupa roti dan anggur. Tubuh dan Darah dari sosok yang sama yang mengorbankan diri di atas kayu salib dua ribu tahun silam. Kuasa Roh Kudus melalui Konsili Trente (1545 – 1563) menyatakan demikian.

Jadi, karena setiap hari kita diberi kesempatan melihat, memegang dan menyantap tubuhNya, sudahkah kita percaya seperti Thomas?

Belum?
Percayalah!

Sudah percaya?
Bagus! Tapi kalau sudah lantas ngapain? Berkat iman dan percaya itu tidak berhenti pada diri sendiri. Layaknya tunas, ia bertumbuh menjadi pohon yang rimbun untuk berteduh dan berbuah bagi sesama.

Seperti halnya Thomas yang tak percaya lantas percaya. Sesudah kenaikan Yesus ke surga, ia melanjutkan pewartaan kasih Allah menuju ke arah timur hingga sampai di India. Di sana ia berkarya hingga mati sebagai martir karena mempertahankan imannya pada 21 Desember tahun 52 Masehi.

Demikian pula dengan kita. Kita yang awalnya tak percaya lantas percaya karena melihat dan menyantapNya. Sesudahnya kita harus melanjutkan pewartaan kasih Allah dalam keluarga, dalam lingkungan pekerjaan, perkawanan dan masyarakat, bangsa serta negara.

Karena untuk itulah kita diberi iman dan percaya. Nggak hanya terpaku dalam pagar gereja dan nyaman dalam pelayanan-pelayanan kegiatan bina iman dan kategorial belaka. Katanya mau jadi lebih dari Thomas?

Sydney, 3 Juli 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.