Kasihilah pendosa tapi bencilah dosanya

28 Agu 2017 | Kabar Baik

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk.
(Matius 23:13)

Yesus mengutuk orang-orang Farisi dan para ahli Taurat salah satunya karena mereka menutup pintu Kerajaan Sorga dan tak membiarkan diri sendiri masuk sehingga menghalang-halangi orang lain yang hendak masuk.

Menutup pintu Kerajaan Sorga yang kubayangkan adalah dengan tidak menerima Yesus sebagai Anak Allah yang hidup, sebagai pancaran kasih sejati Allah kepada kita manusia.

Pada masa kini, pernahkah kita melakukan hal seperti yang dulu dilakukan kaum Farisi dan Ahli Taurat? Menutup Kerajaan Surga, tak mau masuk ke dalamNya dan menjadi penghalang bagi sesama?

Menutup pintu Kerajaan Surga pada masa kini bagiku seperti tak memberi kesempatan pada kasih Yesus untuk bekerja di dalam keseharian kita.

Lihatlah bagaimana sebagian dari kita bersikap terhadap mereka yang lebih tak beruntung dan terpinggirkan? Kalau tempo hari aku mengangkat mereka yang menganut paham heteroseksual kali ini mari kita melihat bagaimana kita memandang orang-orang yang melakukan aborsi ataupun yang memutuskan untuk memiliki anak tapi tak menikah.

Aborsi tidak diperkenankan gereja. Perceraian maupun perzinahan pun tidak diperbolehkan di dalamNya. Tapi hal itu bukan berarti lantas menjadikan kita memiliki hak untuk ikut mengadili, melecehkan dan meminggirkan mereka yang melakukan kesalahan-kesalahan besar itu.

Mungkin kita berpikir bukankah sebaiknya seperti itu? Mereka telah berdosa, kalau kita baik-baiki nanti kita ikut terpengaruh atau jangan-jangan mereka mempengaruhi anak-anak kita?

Aku jadi teringat apa yang pernah dikatakan Santo Agustinus yang hari ini diperingati oleh Gereja Katolik di seluruh dunia, Cum dilectione hominum et odio vitiorum. yang berarti kasihilah pendosa tapi bencilah dosanya.

Orang-orang terpinggirkan semacam itu perlu dikasihi semata untuk semakin membukakan mata mereka bahwa Allah itu adalah Kasih, Allah itu memiliki samudra pertobatan yang tak terhingga dan oleh karena itu Ia dianggap Maha.

Mungkin kita bisa bilang, “Kenapa tergantung saya? Bukankah iman percaya itu harus datang dari hati?”

Jika yang kita hadapi adalah malaikat barangkali apa yang kamu bilang itu benar. Tapi yang kita hadapi adalah manusia seperti halnya kita. Manusia yang haus akan bukti dan baru percaya pada apa yang dilihat dengan kasat mata dan dirasakan. Bagaimana mungkin mereka mau percaya pada kasih Allah jika belum apa-apa mereka sudah melihat kita yang seharusnya bisa dijadikan bukti kekuatan Kasih Allah malah berlaku seperti orang yang tak pernah mengenal kasih?

Sydney, 28 Agustus 2017

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.