Rasanya campur aduk gimanaaa gitu ketika kemarin melihat, tak jauh dari resepsionis outpatient ward di rumah sakit yang kudatangi untuk medical checkup anakku, Odilia, ada sebuah troli penuh dengan kaset video VHS (Video Home System) yang diberi label “Free, help yourself!” Padahal meski bersampul usang dan beberapa di antaranya sama sekali tak bersampul tapi dilihat dari judulnya, kaset-kaset yang kebanyakan adalah film dan kumpulan video clip anak-anak itu sangat menarik.
Aku membayangkan kaset-kaset itu sebelumnya digunakan untuk diputar di ruang tunggu, kamar pasien (yang semuanya pasti anak-anak) hingga akhirnya siang itu, entah mungkin karena peremajaan infrastruktur yang semula menggunakan alat putar video VHS ke sesuatu yang lebih baru, kaset-kaset itupun dibagikan begitu saja.

Ingatanku lalu melanglang buana ke era sekitar 25 – 20 tahun yang lampau.
Ketika itu aku masih tinggal di Kebumen dan alm. Papa selalu mengajakku ke rental kaset video tiap sore untuk menyewa film-film terbaru ataupun film-film silat klasik dan romansa berseri lainnya.
Ingat juga, masih di era itu, Mama dan Papa sering menyuruhku membeli kaset video kosong untuk merekam aneka ragam acara televisi mulai dari Selecta Pop, siaran langsung tinju hingga Aneka Ria Safari dan Album Minggu Kita (dan sebenarnya dari sana jugalah referensi musik 80an kudapat dan berkembang karena kuputar berulang-ulang).
“…semua hal di dunia ini memang memiliki putaran masanya sendiri-sendiri; lahir, bertumbuh dan jaya, redup lalu mati tergantikan dengan hal-hal lainnya yang juga memiliki putaran masa yang akan sama pula”
Hingga akhirnya, teknologi piringan kompak menggejala, masuklah laser disc disusul compact disc, visual compatt disc, digital video disk lalu blu-ray disc sekarang ini membuat teknologi video VHS jadi tampak berada di gerbong terujung belakang dari rangkaian kereta.
Miris memang, tapi apa mau dikata, semua hal di dunia ini memang memiliki putaran masanya sendiri-sendiri; lahir, bertumbuh dan jaya, redup lalu mati tergantikan dengan hal-hal lainnya yang juga memiliki putaran masa yang akan sama pula. Tak ada satupun pihak yang mampu mengerem semua itu bahkan ketika aku berusaha untuk mengambil satu saja kaset video dari rak itu untuk kenang-kenangan, aku tersadar “Untuk apa? Di rumah masih ada kenangan-kenangan lain seperti CD, kaset dan buku-buku lainnya yang kini tergantikan oleh digital copy! Semua juga akan jadi kenangan!”
Maka kutinggalkan troli yang tampaknya juga tak diminati seorang pengunjung pun sementara Odilia, masih memandangi tumpukan kaset itu, ia tak tahu barang sebesar batu bata itu dulu mengawal papa dan mamanya tumbuh dan berkembang dengan bahagia.
Tinggalkan Balasan