Karena uang hanyalah pemampu kebahagiaan…

26 Jul 2017 | Aku

Hal yang jarang kuulas di blog ini adalah tentang pekerjaan. Alasanku sederhana, akutak ingin mencampuradukkan hobi dengan pekerjaan dan pekerjaan terhadap kehidupan pribadi.

Tapi kali ini bolehlah kita bicara ‘sikit’ tentang apa yang kukerjakan, semata bukan sebuah usaha untuk pamer tapi lebih pada opini tentang hal-hal yang muncul belakangan ini dalam dunia kerja yang mungkin bisa berguna juga untuk kalian.

Tahun ini adalah tahun ke delapanbelas bagiku terjun ke dunia profesi yang bernama web development.

Semua berawal dari keisengan belaka. Bosan dengan kuliah-kuliah teoretis seperti Struktur Data, Sistem Berkas hingga Jaringan Komputer, aku menemukan passion dalam web design dan web development.

Tak lama sesudahnya, kampus mengadakan lomba pembangunan website. Aku dan sahabatku, Amin Sutawidjaja, mendaftarkan diri untuk urun karya. Hasilnya kami juara pertama!

Berita itu terdengar ke telinga pemilik sebuah perusahaan furniture yang berkantor pusat di Singapura tapi memiliki workshop di Jogja. Mereka lantas meminta kami berdua bekerja paruh waktu, pagi hingga siang kuliah, sore hingga malam (kadang dinihari), membangun website bagi perusahaan tersebut.

Itulah titik tolakku untuk berprofesi di bidang ini. Angka tahun waktu itu menunjuk 1999.

Setahun kemudian, bersama empat kakak angkatan di SMA Kolese De Britto, aku mendirikan sebuah perusahaan yang mendedikasikan diri dalam web development, Citraweb Nusa Infomedia.

Jabatanku adalah web development manager tapi secara teknis, hal-hal yang kukerjakan beraneka rupa mulai dari mendesign web, coding (development) hingga kadang ikut pergi bersama para wartawan GudegNet (Situs portal kota Jogja, produk Citraweb) mencari kabar dan menulis berita.

Tahun 2008, Citraweb kutinggalkan seiring proses migrasiku ke Australia. Lebih dari 200 websites kubangun dalam kurun waktu selama itu.

Pekerjaan pertamaku di Australia adalah menjadi seorang web developer/web designer bagi sebuah perusahaan majalah keuangan yang ketika kusebutkan namanya, orang-orang di sini tak tahu bahwa ada majalah bernama itu!

Satu tahun setengah kemudian aku ditarik perusahaan cetak ternama dunia yang konon adalah penemu mouse pertama kali. Aku bergabung membantu sisi digital/creative services pada divisi baru mereka. Di sana aku diposisikan sebagai front-end developer dan di sana pula untuk pertama kalinya aku bersentuhan dengan dunia User Experience/User Interface atau yang biasa disingkat sebagai UX/UI.

Bertahan di sana selama dua setengah tahun, karena bosan dengan technology stack yang itu-itu saja, aku pindah ke perusahaan kecil tapi memiliki klien besar dengan technology stack yang menurutku menantang waktu itu.

Meski menantang, sayangnya ‘stack’ yang bisa dikerjakan dalam porsiku sebagai UX/UI merangkap front-end developer amat sedikit. Akibatnya aku jadi pengangguran yang digaji penuh! Enam bulan aku di sana pindahlah aku ke perusahaan telekomunikasi nomer dua terbesar di Australia yang sahamnya dimiliki para taipan Singapura.

Di sana awalnya aku bekerja sebagai UX/UI dan front-end developer tapi tiga bulan kemudian aku dipromosikan untuk merangkap sebagai team lead membawahi divisi digital pada layanan creative services dua tahun setengah lamanya.

Lagi-lagi aku merasa bosan, cari kanan-kiri akhirnya mendapatkan tawaran pekerjaan dari perusahaan sekarang, anak perusahaan telekomunikasi nomer satu di Australia sebagai UX/UI Lead Consultant di negara bagian New South Wales.

Aku merasa nyaman pada posisi ini karena aku tetap bisa mengoptimalkan talentaku dalam hal manajerial, UX/UI, konsultansi dan sebagian kecil menjadi ‘jembatan’ antara business dengan development team.

Hal yang amat kusyukuri adalah aku tak perlu ‘coding’ terlalu banyak dan hal ini memang menjadi salah satu alasan kenapa waktu itu aku meng-iya-kan tawaran pekerjaan ini.

Coding tetaplah menarik dan seksi! Tapi perkembangan teknologi yang mengharuskanku untuk selalu meng-update sisi-sisi teknis terbaru dalam dunia ‘coding’ tersebut termasuk keharusan untuk belajar tak hanya bahasa pemrograman baru tapi juga paradigma-paradigma baru tentang software development itu sendiri membuatku harus membuat keputusan.

Keputusanku adalah tak lagi terjun ke dalam dunia coding mengingat stress level yang bisa meningkat drastis kalau aku tetap ngotot jadi coder, lead development team atau apapun.

Bukannya aku takut berkompetisi tapi lebih pada usaha untuk sadar diri bahwa otak secara alamiah pasti akan mengalami penurunan daya kerja seiring penambahan usia dalam menyerap hal-hal baru. Aku tak mau memaksakan diri karena ketika terpaksa aku tak lagi bisa menikmati kecuali mendapatkan stress level yang meninggi.

Bukan pula berarti menyerah karena justru dengan pengalaman yang sudah kudapat lebih dari delapan belas tahun terakhir, harusnya aku bisa cukup lihay untuk mencari pekerjaan-pekerjaan yang tetap berkelas tapi yang sudah tidak melibatkan lagi unsur coding dan teknis terlalu jauh.

Desember nanti, umurku akan genap empat puluh tahun dan kini saatnya untuk me-rekalkulasi apa yang perlu diprioritaskan dalam hidup.

Keluarga tentu yang harus kuutamakan. Untuk apa stress-stress ngurusin pekerjaan, capek-capek travelling demi business trip meski iming-iming uang dan gengsi setinggi langit? Sejauh-jauhnya pergi, se-stress-stress-nya kerja, semua tak kan bisa lebih berharga ketimbang sama-sama meringkuk di bawah selimut di atas kasur bersama istri, Odilia dan Elodia serta mendengarkan celoteh nakal mereka!

Pelayanan adalah juga hal yang tak bisa kutinggalkan. Apalagi melayani Tuhan yang melibatkan unsur hobi seperti menulis Kabar Baik di blog ini dan bermain musik/bernyanyi di perayaan-perayaan di gereja serta sesekali memberikan sesi pengajaran di depan umat!

Pelayanan tak melulu soal rohani tapi lebih pada aspek spiritual; bahwa kita sudah begitu banyak diisi berkat, kenapa kita tak membagikan berkat-berkat itu kepada sesama?

Perkawanan. Kemajuan teknologi informasi justru bisa menghadirkan wahana-wahana baru untuk berbincang bersama kawan tanpa harus kenal batasan tempat dan waktu. Boleh dibilang, jumlah kawanku di Indonesia malah lebih banyak ketimbang saat aku masih tinggal di sana! Belum lagi kawan-kawan lama yang pernah berbagi almamater, mereka semua adalah sumber inspirasi sekaligus target untuk berbagi dalam hidup! Jika aku harus travelling, tujuanku adalah untuk bertemu dan bercengkrama dengan mereka.

Beberapa hari lalu ada sebuah agen pekerjaan menghubungiku. Mereka terkesan melihat pengalaman pekerjaan yang kutulis pada CV. Aku ditawari untuk bekerja sebagai lead UX/UI dan front end development, tapi dengan alasan di atas aku menolaknya.

Meski iming-iming gaji lebih tinggi dari yang sekarang, meski iming-iming fasilitas lebih dari yang sekarang dan kesempatan untuk pergi ke negara-negara lain untuk mengerjakan bisnis, aku tak menerimanya. Bagiku, bukannya tak ingin gaji lebih tinggi lagi dan tak ingin fasilitas lebih nyaman lagi, tapi bukankah kalau aku sudah percaya diri dengan lamanya pengalaman yang kudapat, aku yakin bisa mendapatkan yang setinggi itu tanpa harus berjibaku waktu dan stress level?

Seperti kata kawanku, uang bukanlah sumber kebahagiaan! Ia hanyalah pemampu/enabler untuk meraih kebahagiaan itu sendiri. Tak kurang dan tak pernah bisa dan jangan menganggapnya lebih…

Sebarluaskan!

1 Komentar

  1. You?re idiealis men and cool man for your job, good man and I like it

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.