Karena tak ada yang lebih hina dan rendah dari salib…

14 Sep 2017 | Kabar Baik

Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.
(Yohanes 3:14 – 15)

Hari ini Gereja Katolik di seluruh dunia memperingati Pesta Salib Suci.

Salib, pada masa Yesus hidup dulu adalah lambang kehinaan, hukuman dan kematian. Orang dihukum salib adalah tanda orang dihukum karena kesalahannya yang berat. Tubuh terhukum digantung di palang salib dan dipajang hingga mati.

Tapi melalui penderitaan Yesus, salib diubah menjadi sarana suci! Yesus dijatuhi hukuman salib atas kesalahan yang tak pernah dilakukanNya. Digantung dengan hina hingga mati di antara dua maling yang bertengger di kiri dan kananNya di Golgota.

Tapi kenapa salib dan bukan yang lain?

Waktu kecil, aku sering berkumpul dengan kawan seumuran untuk beradu cerita. Cerita-cerita seru dan ‘serem’ kami adu. Misalnya tentang pengalaman naik kereta. Apa pengalaman terseram dan paling mengerikan selama naik kereta?

“Aku pernah naik kereta trus tiba-tiba kacanya dipecah dari luar. Ada batu sebesar kepalan tangan masuk ke dalam! Untung tirainya terbuka sehingga serpihannya tertahan!”

“Wah, serem!” timpal kawan-kawanku. Tapi ternyata itu belum yang paling seram. Seorang lain menimpali, “Ah itu belum seberapa! Aku pernah naik kereta tiba-tiba pintu penghubung gerbong tak bisa dibuka entah kenapa! Alhasil ketika sampai di stasiun berikutnya kami harus keluar dari jendela yang dibuka dengan paksa satu-per-satu!”

Anak-anak lain saling beradu cerita yang lebih menyeramkan lagi. Dan cerita yang paling seram biasanya membuat kami tak bisa berkutik dan terdiam sambil berujar, “Ih, untung nggak mengalami hal itu ya…”

Kenapa Yesus memilih salib, dalam permenunganku, adalah karena Ia tak menemukan alat lain yang bisa diadu lebih hina dan lebih rendah daripada salib untuk dijadikan lambang penderitaan waktu itu.

Kita barangkali pernah mengalami penderitaan dalam hidup yang menyeramkan. Kita sering juga mendengar derita orang-orang lain yang tak kalah mengerikan dan membuat kita bergidik. Tapi cerita Yesus dengan hakikatnya sebagai Anak Allah serta ‘pilihanNya’ atas salib membuat Ia menjadi sosok dengan kadar penderitaan yang tak bisa lagi diperbandingkan dengan cerita-cerita penderitaan lainnya yang ada dan akan pernah ada di dunia ini.

PilihanNya atas salib membuat cerita-cerita penderitaan kita jadi tak lebih berarti dan tak ‘seru’ dibanding apa yang Ia alami. Dari situ kita jadi tersemangati untuk setia dan berani dalam menjalankan penderitaan kita sendiri dan supaya kita memiliki pengharapan karena kisah Yesus tak terhenti di salibNya. Ia memang mati tiga hari, tapi sesudahnya bangkit lalu duduk di sisi kanan Allah Bapa dan mulia selamanya!

Jadi, jangan merasa minder dengan kemiskinan, problematika, sakit penyakit dan derita hidupmu! Ada yang pernah lebih seru, lebih serem dan lebih menderita padahal Ia tak layak untuk sedikitpun mengalamiNya. Ada yang pernah lebih tersiksa padahal tak seinci pun dosa yang diperbuatNya. Ada yang pernah lebih merasa ditinggalkan padahal Ia adalah Anak Allah Yang Maha Tinggi.

Dan sosok itu bukan hanya teman, bukan hanya guru, bukan hanya nabi. Ia Tuhan kita sendiri, Yesus!

Sydney, 14 September 2017

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.