Karena tak ada domba yang dikutuk menjadi kerbau, kan?

9 Mei 2017 | Kabar Baik

Kabar Baik Hari Ini, 9 Mei 2017

Yohanes 10:22 – 30
Tidak lama kemudian tibalah hari raya Pentahbisan Bait Allah di Yerusalem; ketika itu musim dingin.

Dan Yesus berjalan-jalan di Bait Allah, di serambi Salomo.

Maka orang-orang Yahudi mengelilingi Dia dan berkata kepada-Nya: “Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami hidup dalam kebimbangan? Jikalau Engkau Mesias, katakanlah terus terang kepada kami.”

Yesus menjawab mereka: “Aku telah mengatakannya kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya; pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama Bapa-Ku, itulah yang memberikan kesaksian tentang Aku, tetapi kamu tidak percaya, karena kamu tidak termasuk domba-domba-Ku.

Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku.

Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa.

Aku dan Bapa adalah satu.”

Renungan

Pada acara beatifikasi Paus Paulus VI, 2014 silam, Paus Fransiskus berkata, “Tuhan tidak takut pada hal-hal baru! (God is not affraid of new things)” dan hal itu membuatku tertegun. Tertegun bagiku berarti gabungan antara takjub dan takut.

Kenapa takjub?
Karena aku diingatkan kebesaranNya yang melebihi apapun termasuk hal-hal baru yang kita anggap besar.

Kenapa takut?
Perkataan Paus tersebut malah membuatku berpikir, “Kalau Tuhan tidak takut kenapa ia menekankan ketidaktakutan Tuhan?” Analoginya barangkali sama dengan orang-orang yang berteriak, “Kita tidak takut melawan orang-orang yang intoleran” dan hal itu justru membuatku bertanya bukankah sewajarnya demikian, kenapa lantas ditekankan?seolah-olah ketidaktakutan itu adalah mantra ‘semoga kita tidak takut‘ dan bukan kondisi ‘kita memang tidak takut!‘? Tahu kan bedanya?

Tapi anyway, ketertegunanku terhadap pernyataan Paus itu otentik, tak kubuat-buat.

Aku membayangkan, dunia ini selalu berubah dan menerima hal-hal baru yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Contoh paling gampang adalah internet. Siapa sangka akan ada internet? Siapa sangka kita tak perlu menonton televisi lagi untuk menyaksikan siaran televisi karena bisa diakses melalui internet?

Siapa sangka ada negara yang mengesahkan pernikahan sejenis padahal bukankah pernikahan itu antara pria dan wanita? Siapa sangka ada pasangan Katolik yang bercerai padahal bukankah perceraian itu hak Allah saja?

Dan masih dan akan semakin banyak ‘siapa sangka-siapa sangka’ ke depannya karena sejatinya hidup memang penuh kejutan. Menakutkan?

Nah, bicara tentang masa yang akan datang, aku mau-tak-mau harus kembali ‘menegunkan diri’ ketika membayangkan kalau sekarang saja perubahan dunia sudah seperti ini, bagaimana kelak? Kalau pergumulanku untuk percaya pada Tuhan saja sudah sekuat ini, bagaimana nanti anak-anak dan cucuku menanggapi Tuhan?

Adakah mereka tetap bisa bertahan ketika cobaan dan godaan hidup kian kencang?

Aku takut jangan-jangan nanti anak-anak dan cucu-cucuku akan seperti orang Yahudi yang dilukiskan dalam Kabar Baik hari ini, mereka nyaris putus asa karena seolah Tuhan membiarkan hidup dalam kebimbangan?

Dan seperti yang kita tahu, orang-orang Yahudi merasa seperti itu karena mereka bukanlah domba-dombaNya, “...tetapi kamu tidak percaya karena kamu tidak termasuk domba-dombaKu. Domba-dombaKu mendengarkan suaraKU dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku!” begitu tegasNya.

Tapi adakah hal yang bisa kulakukan untuk menanggulangi ketakutan itu?

Yup! Ada! Setidaknya dua hal!
Pertama. Aku tak perlu takut anak-anak dan cucu-cucuku nantinya akan menjadi satu dari kalangan yang bukan domba-dombaNya. Kenapa? Karena aku adalah domba, dan aku bersama istriku telah mengantarkan mereka untuk menjadi dombaNya dalam sakramen pembaptisan dulu! Tak ada domba yang dikutuk menjadi kerbau, kan?!

Kedua, kalaupun harus takut, yang kutakutkan adalah kalau aku dan keturunanku jadi domba yang buta dan domba yang tuli yang tak mampu melihat dan mendengar perbuatan Tuhan!

Jadi ketimbang mempertahankan rasa takut, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membuatku dan keturunanku memiliki ‘mata hati’ dan ‘telinga hati’ yang sehat! Menjadi domba yang bisa melihat dan mendengar perbuatan-perbuatanNya di dunia meski sepelik apapun persoalannya, sekuat apapun angin mengguncang buritannya!

Nah, rasa takut hilang. Berhenti di situ? Jangan! Setelah tidak takut kita harus jadi berani! Cara memupuk keberanian adalah dengan ‘nyemplung’, bertindak proaktif! Ketimbang menanti-nanti suara dan pekerjaan-pekerjaanNya, kenapa tidak menyuarakan dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan Allah bagi sesama dan dunia?

Melakukan yang terbaik dan memilah yang buruk, memantapkan hati untuk mengerjakan hal yang penting bagi kemuliaan Allah dan menyingkirkan hal yang hanya memuaskan ego semata?

Jadi, hal-hal baru? Bring it on! Di dalam Tuhan, jangankan hal-hal baru, musuh terbesar yang bernama maut pun sudah dibikin mati olehNya!

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.