Karena semua dihalalkan jadi kapan kalian nraktir aku makan babi?

7 Feb 2018 | Kabar Baik

Aturan tentang bagaimana Yesus membebaskan kita makan apapun adalah anugerah yang perlu disyukuri. Tak seperti ajaran-ajaran lain, semua yang masuk ke mulut dinyatakan halal olehNya. Namun, sejauh mana kita memanfaatkannya? Sejauh mana kita menggunakannya?

Daging Anjing

Dulu aku menyukai masakan berbahan baku daging anjing. Bersama kawan-kawan, menyantap masakan daging anjing adalah wujud kegembiraan karena dibebaskan untuk makan apapun karena seperti yang dikatakan Yesus dalam tulisan Markus hari ini, ?Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu dari luar yang masuk ke dalam seseorang tidak dapat menajiskannya, karena bukan masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perutnya, lalu dibuang di jamban?? (Markus 7:18-19)

Namun sebuah kejadian mengubah semuanya. Adikku memelihara anjing teckel tahun 2002, Pluto namanya. Aku merasa begitu nyaman untuk bermain dengan Pluto hingga timbul rasa sayangku terhadapnya. Hal ini membuatku tak bisa lagi menikmati masakan daging anjing dengan enak lagi karena setiap kali menyantap aku teringat Pluto dan aku tak bisa berhenti membayangkan ada berapa banyak anjing se-lovable Pluto yang dibunuh tiap hari hanya untuk disantap?

Sejak saat itu hingga kini, aku berhenti makan masakan daging anjing. Bukan karena diharamkan oleh ajaran tapi karena aku berpikir makanan adalah hal yang patut disyukuri. Bagaimana aku bisa bersyukur kalau saat menyantapyang timbul justru kegelisahan dan penyesalan?

Daging Babi

Dari dulu hingga sekarang, masakan berbahan baku daging babi adalah favorit. Tapi tahun lalu, dokter pribadi menyarankanku untuk mengurangi konsumsinya lalu mengganti dengan buah, sayur dan kacang-kacangan dengan alasan supaya aku tetap sehat.

Awalnya tentu sulit untuk melepaskan diri dari kebiasaan enak itu, apalagi sebagaimana caraku dulu menikmati daging anjing, menyantap babi adalah cara merayakan kebebasan yang diberikan Tuhan.

Tapi aku melihat ada hal yang lebih bisa dilakukan untuk merayakan kebebasan Tuhan dari sekadar makan daging babi. Caranya? Mengurangi makan babi sehingga hidup lebih sehat dan semoga lebih lama berkumpul bersama keluarga dan kawan, melakukan banyak hal yang menyenangkan dan berguna bagi Tuhan dan bangsa. Itulah cara-cara merayakan yang lebih afdol menurutku.

Dengan usaha keras akhirnya kini aku bisa menempatkan daging babi dalam pilihan ke sekian setelah sayur, buah, kacang-kacangan, ikan dan ayam serta sapi padahal dulu ?dikit-dikit babi.?

Memanfaatkan dan menggunakan kebebasan tak melulu dengan menikmatinya seluas-luasnya. Setiap kebebasan yang diberikan haruslah dimanfaatkan untuk tujuan ?sesempit-sempitnya? yaitu untuk semakin memuliakan nama Tuhan dan sarana untuk lebih mengasihi sesama.

Setuju?

Jadi kapan kalian nraktir aku makan babi? Yuk!

Sydney, 7 Februari 2018

Sebarluaskan!

1 Komentar

  1. Tenane Mas DV? Tak jak mbabi karo ngodhok ning Gang Baru Semarang lho.

    Ana ngohiang, sate babi, swieke lan sak panunggale

    Enak tenan, joss…

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.