Kali Ini, Mendadak Sentimentil

28 Mar 2008 | Aku

Melakukan interview terhadap calon pegawai adalah hal yang biasa kulakukan.
Susah untuk menghitung jumlah berapa kalinya, tapi yang pasti aku sudah terbiasa melakukan itu semua sendiri sejak sekitar tahun 2001 yang lampau, setahun sesudah perusahaan ini berdiri.
Dan siang tadi aku melakukannya sekali lagi.

Boleh dibilang awalnya berjalan seperti biasa, tak terlalu istimewa.
Setelah memegang map berisi data diri calon karyawan yang hendak di interview, aku menyilakan front officer untuk mengantar calon karyawan masuk ke dalam ruanganku, berjabat tangan, mempersilakannya duduk, membuka-buka map, membaca-baca sebentar, menatap matanya, lalu memulai dengan “Hai! Apakabar!”

Biasanya interview berlangsung sekitar setengah jam, tapi terkadang jauh lebih cepat daripada itu dan tak jarang juga bisa molor hingga berlama-lama.
Tergantung siapa yang ku interview, seberapa menariknya skills dan pengalaman yang pernah ia dapatkan dan sealot apa ia bisa menawar gaji yang ia minta dan yang akan kulepaskan.
Ya, sekali lagi, semuanya berjalan biasa saja. Lurus saja!

Tapi ada yang tak biasa tadi.
Ketika aku tiba pada pernyataan “Ok, kamu ada pertanyaan?”
Dan si calon karyawan yang masih cukup muda itu pun bertanya “Kalau boleh saya bertanya, perusahaan macam apa yang ada di sini?”

Saya mengambil nafas sebentar, sementara benak secara otomatis langsung berjalan ke belakang, melesat cepat hingga ke delapan tahun yang lampau, saat awal perusahaan ini didirikan.
Dan mulailah saya bercerita tentang perusahaan ini.
Tentang apa yang telah kami alami, tentang apa yang telah kami perjuangkan semenjak awal serta tentang bagaimana kami memandang hakikat sebuah hubungan kerja antara perusahaan dengan karyawan.

“Yang pasti, di sini nanti kamu akan mendapatkan kenyataan bahwa bekerja itu bukan hanya berarti kerja dari awal sampai selesai. Tapi juga kamu akan diajak berkreatif. Semenarik apa hal yang sudah kamu buat, semaksimal apa skills yang telah kamu keluarkan untuk melakukan itu, hal-hal baru apa yang dapatkan demi kemajuanmu secara pribadi … dan pada akhirnya keuntungan apa yang bisa kau berikan untuk perusahaan.”

Lalu dia pun manggut-manggut.
Seketika diam, selanjutnya ia kembali bertanya “Perusahaan ini cukup bonafide?”

Aku terdiam kembali.
Menghela nafas sambil mengetuk-ketukkan jari di atas permukaan meja berkaca, menghitung ada tidaknya atau berapa kali kami pernah berbuat salah pada karyawan (kalau itu dihitung sebagai standar kebonafidan perusahaan), dan …

“Hmmmm….” Sambil mengelus-eluskan tangan ke tembok ruangan aku berkata,“Saya baru seminggu tinggal di kantor ini setelah tujuh tahun kami menyewa bangunan di tempat lain. Semua yang ada di kantor ini juga baru seminggu berada. Ini adalah kantor baru kami. Ini adalah milik kami, bukan mengontrak ataupun sewa! Sekeras apa tembok ini berdiri, sekuat itu pulalah kami menganggap kamu, karyawan kami, sebagai sahabat untuk maju! Terbilang enol kali kami telat membayar uang gaji!”

Lalu dia pun terdiam.
Selang beberapa saat, ia seperti terpuaskan dengan jawaban-jawaban dariku sebagai wakil dari perusahaan. Kami berjabat tangan, lalu ia melenggang keluar untuk minggu berikutnya ia akan menjadi karyawan baru di sini.

Usai meng interview, sambil kubereskan kertas-kertas yang berserakan untuk kumasukkan ke dalam map, tiba-tiba kupandangi dinding-dinding kantor baruku.
Aroma cat yang masih menyalak, mebel-mebel yang masih bau toko, pelitur kayu yang belum jua mengering… dan air mata yang tiba-tiba menggumpal di ambang pelupuk menunggu tumpah untuk dan karena beberapa hal, ya…. untuk beberapa hal yang tak terkatakan.

Sebarluaskan!

2 Komentar

  1. Oke, Don, setelah aku membaca tulisanmu ini, kamu ada pertanyaan? ;))

    Balas
  2. don…don…koen tetep ae gayamu kuwi

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.