Kalau Tuhannya sama kenapa kamu yang pindah agama?

12 Mei 2019 | Kabar Baik

Masih ingat renungan Kabar Baik yang kutulis kemarin tentang bagaimana Yesus memberitahukan hakikat makan Daging dan minum DarahNya? Akibat dari pengajaran itu banyak yang tergoncang iman. Mereka yang semula adalah para murid, satu per satu memutuskan untuk pergi meninggalkanNya.

Yang tertinggal hanya dua belas murid. Kepada mereka, Yesus bertanya, “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” (lih. Yoh. 6:67)

Kepada siapakah kami akan pergi?

Simon Petrus menjawab dengan gagah berani, ?Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah.” (lih. Yoh 6:68)

Aku tertarik untuk merenungi ucapan Petrus terutama pada penggalan, ?Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi??

Suatu waktu dulu sekali, ada seorang pria yang waktu itu usianya sekitar 25 tahunan datang kepadaku. 

?Pacarku beda agama, Bro! Gimana ya?? ia menerawang. 

?Lha gimana? Aku juga pernah sih ada di posisimu?? ujarku.

?Aku mau putuskan tapi aku sayang padanya. Aku sedang berpikir untuk pindah agama, Bro. Gimana menurutmu?? 

Aku terdiam.
?Kenapa kamu mau pindah agama?? tanyaku.

?Calon istriku tidak memaksa tapi orang tuanya memintaku harus seagama.? jelasnya.

Aku manggut-manggut dan ia menyambung lagi, ?Lagipula bukankah Tuhannya sama, Don??

Kenapa ia yang pindah agama?

Bagiku itu alasan klasik. Kalau Tuhannya sama kenapa kawanku yang harus meninggalkan Gereja Katolik dan bukan sebaliknya?

Tiga bulan berlalu tanpa kabar, tiba-tiba sebuah pesan dikirim kawanku tadi. ?Don, sorry aku nggak mengabari tapi aku sudah pindah agama dan sudah pula menikah. Orang tua mendukungku. Bantu dan dukung aku juga ya!?

Aku menyelamatinya. ?Selamat! Apapun keputusanmu, aku menghargai orang yang berkeputusan??

Siapakah aku sehingga berhak untuk melarang seseorang yang memutuskan untuk meninggalkan Yesus sementara Ia sendiri tak menghalang-halangi murid-murid yang mengundurkan diri daripadaNya?

Sebagai penutup renungan, aku ingin bertanya, kalau kalian ada di posisi mana? Di posisi para murid yang meninggalkan atau posisi dua belas murid yang setia kepadaNya?

Kepada siapakah kami akan pergi?
Pintu keluar selalu terbuka lebar karena iman itu tanpa paksaan, tapi semoga hati kita telah terpatri hanya untukNya hingga akhir nanti!

Sydney 11 Mei 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.