Kalau kokoh kenapa mati? Kalau kokoh kenapa ‘rugi’?

7 Des 2017 | Kabar Baik

“Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.?
(Matius 7:24)

Hari ini Yesus bicara tentang bagaimana firman Tuhan seharusnya ditanggapi.

Rumah di atas batu, dibahasakan untuk orang yang menerima firman dan menjalankanNya. Yesus, diriNya sendiri, adalah contoh terbaik. Sepanjang hidupNya adalah bagaimana Ia menjalankan perintah dari Bapa.

Rumah di atas pasir, dikenakan untuk orang yang menerima firman tapi tak menjalankanNya. Kaum Farisi dan para ahli Taurat pada masa itu adalah orang-orang yang dilukiskan demikian. Mereka menerima dan bahkan mengajarkan Taurat tapi tak menjalankan.

Adalah perlu untuk tahu apa yang membedakan dari keduanya? Toh sama-sama rumah hanya pondasinya yang berbeda, satu pasir dan satu batu?

Pada ayat terakhir Kabar Baik hari ini, Yesus berkata begini, ?Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.” (bdk. Mat 7:27).

Jelas sudah, yang membedakan adalah ketika ujian datang. Rumah yang berpondasi pasir gampang rubuh sedangkan yang berpondasi batu, kokoh adanya.

Lantas bagaimana menggambarkan kekokohan orang yang menjalankan firman Tuhan pada masa kini? Bagaimanakah kokoh itu?

Aku punya kawan, sejak pertengahan dekade lalu divonis kanker. Ia seorang yang amat taat. Tak pernah absen ke gereja, tak ada testimoni buruk tentangnya sepanjang hidup dan tak enggan membantu sesama. Tahun 2010 silam ia mengakhiri perjuangannya melawan kanker, meninggal dunia dengan amat tenang. Bagiku, ia menerima firman dan menjalankannya. Ia kokoh.

Kokoh kok mati? Bukankah kokoh berarti kuat?

Kekokohan dalam menerima dan menjalankan firman tidak terkait dengan mati atau tidak mati. Justru ia kokoh karena meresapi iman yang menyatakan bahwa tak ada jalan lain untuk bertemu Tuhan muka-dengan-muka selain melalui kematian. Ia damai dan pasrah menghadapi kematian karena ia yakin akan hal tersebut. Bukankah itu kokoh namanya?

Kawanku yang lain lagi, seorang yang dulunya kaya raya tapi lantas jatuh miskin karena ditipu rekan bisnisnya. Rupiah demi rupiah yang ditabung sejak puluhan tahun lalu lenyap tak berbekas bagai menuang air di pasir panas. Ia seorang yang taat dan tak pernah ragu untuk menyumbang kepada mereka yang perlu.

Tapi kenapa ia jatuh? Bukankah kekokohan itu adalah kesejahteraan?

Tentu tidak demikian. Adakah Yesus pernah menjanjikan bahwa kita akan kaya raya di dunia? Bahwa kita akan selalu berhasil dalam menjalani hal-hal duniawi?

Tuhan mengajarkan bagaimana menghadapi kejatuhan dan bagaimana belajar bangkit karena Ia pun jatuh tiga kali saat memanggul salib menuju Gunung Tengkorak.

Kokoh dalam hal ini adalah kekuatan untuk bangkit dari keterpurukan?

Sydney, 7 Desember 2017

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.