?Kalau Ia Tuhan kenapa harus dibaptis??

13 Jan 2019 | Kabar Baik

Satu pertanyaan yang kerap muncul terkait pesta yang dirayakan Gereja Katolik se-dunia hari ini adalah, ?Kalau Yesus itu Tuhan kenapa Ia menyediakan diri dibaptis??

Jawaban yang pasti tentu hanya Yesus yang tahu tapi justru dengan ketidaktahuan kita terhadap alasan yang hakiki, kita, umat Allah diberi keleluasaan untuk mengartikannya sendiri.

Pembaptisan diriNya adalah sarana Yesus untuk menunjukkan bahwa dimana ada penyerahan diri secara total kepada Allah, di situ ada penyertaanNya yang nyata.

Yesus datang kepada Yohanes Pembaptis untuk dibaptis. Ia menyerahkan diri bukan kepada sosok pribadi Yohanes Pembaptisnya tapi pada Roh yang berkuasa atas diri dan pelayanan Yohanes Pembaptis. Penyerahan diri itu memunculkan sosok burung merpati yang turun kepadaNya sebagai wujud turunnya Roh Kudus dibarengi dengan suara yang muncul di langit, “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.”?(lih.?Lukas?3:22)

Kita dipanggil untuk dibaptis dan baptis amat penting sebagai tanda keselamatan. Bahkan dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK) 1257 dinyatakan bahwa Gereja tidak mengenal sarana lain selain Pembaptisan untuk menjamin langkah masuk ke dalam kebahagiaan abadi.

Namun adakah kalau begitu setiap orang Katolik yang dibaptis pasti masuk surga? Jika setiap orang Katolik bertobat dan tidak berbuat dosa lagi maka kuyakin setiap dari kita masuk surga.

Tapi daripada mikirin siapa yang masuk surga dan siapa yang tidak, hari ini mari melihat dari sisi yang sama bahwa baptis mengajak kita untuk terus-menerus bertumbuh dalam penyerahan diri kita kepada Allah melalui PutraNya Yesus Kristus.

Artinya, ketika dibaptis kita diajak untuk berjanji menolak kejahatan, godaan setan dan segala tindakan tidak adil dan tidak jujur yang melanggar hak-hak asasi manusia maka selama kita hidup, cara untuk terus setia padaNya adalah dengan melaksanakan janji tersebut.

Aku jadi ingat satu pengalaman terkait janji baptis yang kutulis di atas. Kalau kalian ingat, November tahun lalu aku menciptakan lagu ?Raja Singa? yang kupersembahkan untuk kawan-kawan Aksi Kamisan, sebuah aksi yang diadakan setiap kamis di depan Istana Negara menuntut penuntasan pelanggaran HAM berat di Tanah Air. Bu Maria Sumarsih, punggawa aksi yang juga adalah ibu dari Wawan, mahasiswa Atma Jaya yang ditembak pada 98 silam mengingatkanku bahwa menuntut tindak lanjut para pelaku pelanggar HAM adalah salah satu pelaksanaan janji baptis.

Dalam arti kata lain, apa yang dilakukan Bu Sumarsih bersama rekan-rekan di Aksi Kamisan untuk menuntut pemerintah bertindak adalah salah satu sarana penyerahan diri kepada Tuhan.

Tapi kalau demikian kenapa Tuhan tak kunjung menyatakan seperti halnya dulu Ia menyatakan kepada Yesus saat dibaptis?

Jawabanku mungkin klasik, tapi tak ada yang lebih baik dari apa yang ditulis Salomo dalam Pengkotbah,

Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir. (lih. Pengkotbah 3:11)

Mari terus berjuang untuk semakin menyerahkan diri di dalamNya.

Sydney, 13 Januari 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.