Kalau Bisa Mudah, Kenapa Harus Dipersulit ?

26 Agu 2008 | Cetusan

Entah kenapa, tapi dari yang kurasa-rasakan, himpitan hidup terkadang justru “melenakan” kita terhadap hal-hal yang sebenarnya sepele dan mudah.
Kita jadi cenderung berpikir rumit dan memperumit masalah itu sendiri meski sebenarnya ada jalan-jalan mudah yang sangat tidak dinyana bisa menyelesaikan masalah itu.
Lalu ketika kita pada akhirnya memilih jalan mudah tersebut dan berhasil, ujung-ujungnya kita cuma bisa berkomentar “Oh, cuman gitu tho rahasianya..?! Kirain …”

Sejak beberapa waktu yang lalu, setidaknya ada dua teman lama yang menghubungi baik lewat email maupun sms menanyakan “Bro, gimana sih bikin layanan Klepon yang kayak di blogmu itu?”
Yupe, klepon, kabar lewat handphone, layanan yang kubuat dan kulaunch beberapa waktu lalu di blog ini (ada di bawah artikel terbaru)
ternyata cukup membuat setidaknya dua orang temanku tadi penasaran.

Iseng, pada salah satu yang bertanya kubalas tanya
“Lha menurutmu piye jal, Bro?”

Diapun terpancing menjawab
“Pake SMS Gateway trus di-parsing ke mysql dan tampil di blog pakai AJAX method?”

Aku pun cekikikan membacanya.
Kubayangkan wajahnya yang pilon dan sok mikir sangat serius, “Oalahhh mikir aplikasi blog kok seperti memikirkan negara saja!”
begitu gumamku yang jelas akan kuucapkan andai saja saat itu dia ada di hadapanku.
Lalu karena kasihan akupun menjabarkan detail algoritma yang sebenarnya sangat mudah itu.
Dan seperti yang sudah kuduga, ia pun spontan menjawab
“Asuuu! Kupikir angel-angel jebul gampang!”

Lha ya memang gampang!
Kalau bisa gampang kenapa harus dipersulit ?
Aku adalah orang yang ndak mau terjebak pada cara yang sulit.
Kalau memang ada mobil kenapa harus naik becak, akan tetapi kalau memang tinggal jalan tiga ratus meter sampai tujuan, kenapa pula harus mengeluarkan mobil dari garasi, memanasinya
lalu berkendara hanya menyelesaikan jarak tiga ratus meter saja?

Demikian juga dengan orang-orang yang mendewa-dewakan teknologi sebagai satu hal baru, memang akan selalu cenderung untuk berkutat pada
tahap menganggap teknologi adalah masalah sekaligus solusi.
Mereka tidak berani mengambil jarak dari teknologi, padahal kalau mereka mau, lambat laun mereka pasti tahu dan pada akhirnya memposisikannya teknologi bukan lagi sebagai dewa
tapi sekadar alat.

Dewanya adalah kita!
Kita dewa yang dengan otak menyusun rencana menghalau masalah dengan bantuan alat yang dalam konteks ini adalah teknologi.
Dan yang namanya alat, sebisa mungkin dibikin simple dan ringkas, jadi dengan alat yang simple akan memberikan solusi maksimal bagi persoalan yang ada.

Sebagai padanan perkara, masa iya seorang petani lebih memikirkan bagaimana memodifikasi dan menyepuh cangkul dengan emas ketimbang memikirkan bagaimana strategi mengatasi harga
pupuk yang terus menjulang sementara harga panenan yang terus melorot turun ?
Yang benar saja!

Sebarluaskan!

17 Komentar

  1. Menurut situasinya kan Temen Anda kan “belum” tau Boss? manusiawi toh?
    Lha judule Sampeyan menjebak banget je, “Kalau bisa Mudah-kenapa harus dipersulit”, asumsi-ku tuh obyek-nya udah “tau,faham,nggenah,dong” tapi tetep “dipersulit,dingel-ngel,diplokotho”, yah mirip kalo ngurus administrasi di sarang tikus itu lho. wis nggenah-dong-faham tapi tetep ae dipersulit.
    ehehe.. klepon yang sulit dicerna

    Balas
  2. permenungan atau perenungan?
    “merenung”

    Balas
  3. Paragraf yang terakhir bikin saya senyum-senyum sendiri, jadi ingat diri sendiri.
    Yang benar saja!
    :D

    Balas
  4. jadi gmn caranya cooong….??!

    Balas
  5. cara nya lom di kasih tau tuuh booos klo ini mah di persulit beneran

    Balas
  6. hm.. kalau liat judulnya, saya jadi pengen bilang “tanya kenapaaa??”

    Balas
  7. Benerrr, bos…
    bisa dibuat gampang kenapa mikir-nya susah2…….
    wakakakakakaka….:)

    Balas
  8. @Romgo: Postingan saya ini kan bukan untuk memberitahukan cara Bos…

    Balas
  9. aku juga males mikir ruwet. kalu sekiranya menyulitkan, tinggal aja….
    salam kenal. gimana ya kabarnya ari, tina dan bonang? lama ga nengok. tengok dulu ah…

    Balas
  10. Mau Mudah-Mau Tuah..
    Kalau Presidennyah Gak Jelas Programnyah Buat Apah..?
    :lol:

    Balas
  11. Tapi kadang sesuatu yang mudah membuat orang menjadi ga percaya.
    “Mosok iya sie segampang itu .. ?”
    “Jangan jangan ngapusi kalo gampang gitu .. ”
    Dan bukannya sifat manusiawi senenge seng mblusuk mblusuk , seng rimbun rimbun penuh keruwetan yang dilalui .. ?? Hehehe

    Balas
  12. saya sedih ketika mendengar ungkapan ini berlaku dalam dunia birokrasi, mas donny. sebenranya prosedur lebih simpel, tapi kayaknya banyak yang membikinnya jadi ruwet. saya setuju dg pernyataan sikap mas donny. kenapa mesti dibikin sulit kalau ada yang lebih mudah?

    Balas
  13. Terkadang kita melihat masalah sebagai masalah. Padahal masalah bukanlah masalah. Karena yang jadi masalah sebenarnya adalah: bagaimana menyelesaikan masalah. Itu baru masalah!

    Balas
  14. Betul, semua hanya “tools”…tergantung kita mau menggunakannya dan memilih seperti apa, dan bagaimana.
    Dan juga semua akan kembali seperti apa tipe kita ini, konservatifkan? Atau selalu berani mencoba hal-hal baru?

    Balas
  15. hmmm… yah… cuma emang sie kita cenderung berpikir dengan tatanan yang sudah kita bawa tanpa melakukan pendekatan yang lebih praktis. Ya amat sangat maklum sie misalnya jawaban temenmu mbulet kaya bolot.. emang dia orangnya pinter kali don hehehehe.
    cuma ya gitu… orang pinter belum tentu kerjanya efisien:D

    Balas
    • Huehuehue..
      Satu lagi, Mon.. orang kepinteran juga bisa hilang tingkat sensitivitasnya hihihihi!

      Balas
  16. Huooooooo
    Kita adalah Dewa!
    Mantap tenan!

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.