Kaisar, Tuhan dan kewajiban-kewajiban kita?

26 Agu 2018 | Kabar Baik

“Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” (Mat 22:21)

Meski Yesus berbicara soal pajak hari ini tapi kita tahu bahwa ?kewajiban kepada Kaisar? itu bukan hanya pajak. Ada hal-hal lain yang sehakikat dengan itu, misalnya mengikuti peraturan yang diterbitkan pemerintah/penguasa.

Kewajiban kepada kaisar adalah hal yang dianggap penting oleh Tuhan. Oleh karena itu, sebagai manusia yang beriman kepadaNya, kita pun tak boleh lantas meremehkan bahkan meninggalkan kewajiban-kewajiban itu.

Kewajiban kepada penguasa harus tetap dijalankan, kewajiban kepada Tuhan pun demikian. Tapi bagaimana kalau keduanya saling bertabrakan?

Saat masih di Indonesia dulu aku pernah ditunjuk jadi wakil ketua sebuah konvensi nasional mudika Katolik.

Karena tema yang diangkat adalah ke-Indonesia-an, pada salah satu acara di dalamnya, para panitia diminta mengenakan pakaian daerah, yang perempuan harus mengenakan sanggul dan kebaya.

Memikirkan hal itu, sebagai pimpinan aku lantas mengalokasikan dana tambahan untuk biaya transport, menyewa sebuah minibus untuk antar-jemput khusus panitia wanita yang mengenakan sanggul dan kebaya.

Ide itu menimbulkan pertentangan, dianggap satu pemborosan hingga akhirnya tibalah waktunya untukku menjelaskan kenapa tiba-tiba muncul ide yang tak wajar tersebut.

Para panitia waktu itu kebanyakan adalah mahasiswa/i yang berkendara sepeda motor dan tak memiliki kendaraan roda empat. Ketika diberi tugas untuk mengenakan sanggul dan kebaya, mereka akan kerepotan untuk naik sepeda motor.

Belum lagi soal helm, bagaimana mungkin mengenakan helm saat bersanggul?

Mengenakan helm dalam mengemudikan sepeda motor itu diatur undang-undang. Seperti tertulis pada Pasal 106 ayat (8) UU No. 22/2009 tertulis demikian:

?Setiap orang yang mengemudikan Sepeda Motor dan Penumpan Sepeda Motor wajib mengenakan helm yang memenuhi standar nasional Indonesia?

Haruskah mereka, para panitia yang bersanggul itu menabrak aturan? Bagaimana kalau mereka jatuh? Bukankah bisa celaka? Bagaimana kalau tertangkap polisi, malah jadi panjang urusannya? Atau sebaiknya mereka mundur saja dari kepanitiaan?

Menyewa dan menyediakan minibus adalah jalan keluarnya.

Bagiku, ini adalah contoh bagaimana kewajiban kepada Tuhan tetap bisa dijalankan dengan mengikuti perayaan yang telah ditentukan cara berpakaiannya dan di sisi lain kita tetap menghormati undang-undang yang berlaku.

Tak gampang memang tapi jangan khawatir, Tuhan sudah memperhitungkan. Ia memberi kita modal, anugerah yang bisa kita pakai mengatasi hal-hal seperti ini yang terkadang justru kita lupakan dan tinggalkan di belakang: akal.

Sydney, 25 Agustus 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.