Kabar Buruk atau Baik? Tuhan datang bukan untuk kalian yang merasa sudah benar!

17 Feb 2018 | Kabar Baik

“Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.?(Lukas 5:31-32)

Kabar Baik yang ditulis Lukas hari ini membawa benang merah yang menarik.

Kalian orang benar? Yesus datang bukan untuk kalian.

Kalian orang sok benar? Sejatinya Ia datang untuk kalian tapi tertolak karena kalian merasa sudah paling benar!

Dalam masa Pra-Paskah ini, ibaratnya orang yang mengenakan baju, kita ditantang untuk ?telanjang?, untuk berani mengakui dan merefleksikan serta mengambil tindakan atas keadaan diri kita sendiri di hadapan Tuhan.

Tak kedap dosa

Kita ditantang untuk berani menyatakan bahwa diri ini tak kedap dosa. Sesuci-sucinya kita, sesering-seringnya kita ikut perayaan keagamaan, sehebat-hebatnya pelayanan kemanusiaan yang kita lakukan, kita tetaplah manusia biasa yang tak kedap dosa. Kenapa? Karena kedagingan, kita masih hidup dibalutan daging yang menuntut banyak hal dan melibatkan nafsu.

Perayaan agama yang kita ikuti, pelayanan yang kita tekuni adalah sarana untuk kita mendekatkan diri kepadaNya. Tapi kedekatan itupun tetap saja tak menghalangi dosa berkelindan di antara kita dan Dia. Bukan karena Ia tak kurang ?maha?, tapi karena kita yang terlampau lemah.

Kedosaan itu tak lumrah

Banyak orang menganggap bahwa menjadi pendosa itu lumrah. Hati-hati, pandangan seperti itu adalah wujud godaan Si Jahat untuk mengajari kita berkompromi terhadap kelemahan diri. Pada akhirnya, terlalu banyak berkompromi membuat kita tak sadar bahwa diri ini makin jauh dariNya.

Seorang suami menyelingkuhi istri.

ia meminta maaf tapi sekaligus mengajukan alasan ?Lumrah! Aku kan pria biasa?? kepada istrinya. Sang istri memaaafkan. Karena dimaafkan, sang suami yang tadinya sudah ketakutan pun jadi tak kurang akal dan alasan untuk melanjutkan petualangan cinta terlarangnya. Kenapa? Karena ia merasa diberi kompromi.

Padahal maaf itu berarti dispensasi dan dispensasi merupakan hal yang diluarkebiasaan karena dosa memang sesuatu yang luar biasa, sesuatu yang tak lumrah.

Tuhan mampu mengangkat semuanya, asal?

Tak ada pihak yang mampu mengangkat kita dari kedosaan selain Tuhan sendiri. Ibarat kita terjerembab ke dalam lumpur, Ia mampu tak hanya untuk mengangkat kita keluar dari kubangan tapi juga membersihkan kita seperti sedia kala. Tapi semua itu ada syaratnya? Kita harus mengakui bahwa kita ini lemah dan berdosa sehingga untuk itulah kita memerlukanNya.

Sayangnya banyak orang berdosa justru menjauh dariNya dengan alasan yang rata-rata ada dua macam: merasa tak layak karena dosanya terlalu banyak, merasa tak berguna karena Tuhan pasti menghukum.

Keduanya terjadi karena orang-orang itu tak menyadari besarnya Kasih yang Ia miliki dan pancarkan kepada kita melalui Yesus.

Untuk itulah, mari, saat Pra-Paskah ini kita semakin memfokuskan diri kepada Yesus, Sang Kasih, Sang Tabib, Sang Penyembuh! KepadaNya lah harapan untuk dipulihkan dari dosa itu ada dan tampak luar biasa besar!

Sydney, 17 Februari 2018

Sebarluaskan!

1 Komentar

  1. Menarik ketika Mas DV mengatakan “irregularities” adalah salah satu bentuk dosa. Semacam COE (Control Operating Effectiveness) yang “ineffective” meskipun CDE (Control Design Effectiveness) “effective”.

    Salah satu bentuk dosa buat saya adalah makan makanan ber-karbo dan ber-gula tanpa menyelesaikan 10.000 langkah per hari.

    Selamat ber-Hari Minggu, Berkah Dalem..
    Eko

    NB:
    Mengetik dengan Android phone lebih nyaman daripada Apple phone hahahaha

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.