Kabar Baik Vol. 95/2017 – Kebenaran itu memerdekakan dan kesalahan itu adalah penjajahan

5 Apr 2017 | Kabar Baik

Kabar Baik Hari Ini, 5 April 2017

Yohanes 8:31 – 42
Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”

Jawab mereka: “Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapapun. Bagaimana Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?”

Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa.

Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah.

Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka.”

“Aku tahu, bahwa kamu adalah keturunan Abraham, tetapi kamu berusaha untuk membunuh Aku karena firman-Ku tidak beroleh tempat di dalam kamu.

Apa yang Kulihat pada Bapa, itulah yang Kukatakan, dan demikian juga kamu perbuat tentang apa yang kamu dengar dari bapamu.”

Jawab mereka kepada-Nya: “Bapa kami ialah Abraham.” Kata Yesus kepada mereka: “Jikalau sekiranya kamu anak-anak Abraham, tentulah kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham.

Tetapi yang kamu kerjakan ialah berusaha membunuh Aku; Aku, seorang yang mengatakan kebenaran kepadamu, yaitu kebenaran yang Kudengar dari Allah; pekerjaan yang demikian tidak dikerjakan oleh Abraham.

Kamu mengerjakan pekerjaan bapamu sendiri.” Jawab mereka: “Kami tidak dilahirkan dari zinah. Bapa kami satu, yaitu Allah.”

Kata Yesus kepada mereka: “Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku.

Renungan

Salah satu dari begitu banyak ‘quote’ yang diucapkan Yesus dan ditulis para penulis Kabar Baik adalah seperti tertukas hari ini, “…kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”

Ya, kebenaran itu memerdekakan sementara kesalahan itu adalah membiarkan diri terjajah!

Seorang kawan lantas bertanya, “Tapi kalau kebenaran itu memerdekakan kenapa banyak pembela kebenaran malah mati ‘sia-sia’?”

Hmmm, tergantung! Tergantung darimana memandangnya. Kematian tak selalu identik dengan membela kebenaran karena meski kita tak membela pun akhirnya mati juga, sedangkan ke-sia-sia-an lagi-lagi tergantung dari mana kita memandangnya?

Seorang maling motor ditangkap warga lalu dibakar hidup-hidup hingga mampus. Warga sekitar bilang bahwa yang dilakukan si maling tadi mengakibatkan dirinya mati, kematian yang sia-sia. Tapi pernah kita berpikir bagaimana pendapat anak-anak dan istri si maling tadi?

Bagi mereka, mungkin kematian sang ayah tidaklah sia-sia karena ia mati ketika berjuang mencari uang untuk membayar tagihan SPP, tagihan listrik dan masih banyak lagi. Ia adalah pahlawan dan tak ada pahlawan yang mati sia-sia… tentu menurut mereka yang menggelarinya demikian.

Justru menurutku, kembali ke soalan di atas, ketika kita mati dalam keadaan belum memihak pada kebenaran, kematian itu bisa jadi sia-sia dan penuh rasa penasaran karena di alam setelah mati, kita tahu bahwa yang kita lakukan untuk tidak membela kebenaran dahulu adalah salah tapi tak ada jalan kembali untuk memperbaiki semuanya.

Jadi?
Kebenaran itu memerdekakan, membiarkan diri larut dalam kesalahan itu adalah penjajahan dan orang munafik adalah mereka yang pura-pura merdeka dan mengerti kebenaran tapi tangannya terbelenggu dosa dan salah yang meski memalukan tapi melenakan…

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.