Kabar Baik Vol. 94/2017 – Benarkah Allah meninggalkan kita?

4 Apr 2017 | Kabar Baik

Kabar Baik Hari Ini, 4 April 2017

Yohanes 8:21 – 30
Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak: “Aku akan pergi dan kamu akan mencari Aku tetapi kamu akan mati dalam dosamu. Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang.”

Maka kata orang-orang Yahudi itu: “Apakah Ia mau bunuh diri dan karena itu dikatakan-Nya: Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang?”

Lalu Ia berkata kepada mereka: “Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini.

Karena itu tadi Aku berkata kepadamu, bahwa kamu akan mati dalam dosamu; sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu.”

Maka kata mereka kepada-Nya: “Siapakah Engkau?” Jawab Yesus kepada mereka: “Apakah gunanya lagi Aku berbicara dengan kamu?

Banyak yang harus Kukatakan dan Kuhakimi tentang kamu; akan tetapi Dia, yang mengutus Aku, adalah benar, dan apa yang Kudengar dari pada-Nya, itu yang Kukatakan kepada dunia.”

Mereka tidak mengerti, bahwa Ia berbicara kepada mereka tentang Bapa.

Maka kata Yesus: “Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu, bahwa Akulah Dia, dan bahwa Aku tidak berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri, tetapi Aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepada-Ku.

Dan Ia, yang telah mengutus Aku, Ia menyertai Aku. Ia tidak membiarkan Aku sendiri, sebab Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepada-Nya.”

Setelah Yesus mengatakan semuanya itu, banyak orang percaya kepada-Nya.

Renungan

Adakah Tuhan itu pribadi yang mudah marah karena Ia meninggalkan kita ketika hal yang kita lakukan tak berkenan kepadaNya? Bukankah Ia Maha Penyabar lagi Maha Penyayang?

Dalam bayanganku, Allah adalah sosok pengawas dari sebuah jalan lurus yang bersinar terang. Ia mengawasi dan menyertai kita semua yang setia di jalanNya. Tapi ketika kita memutuskan untuk memilih pergi ke arah lain, ke jalan yang tak terang, bukankah hal itu berarti kita yang meninggalkan dan bukannya Dia yang memungkiri kita?

Kawan-kawanku dulu tak semuanya berasal dari satu kalangan saja. Aku akrab dan menyatu dengan kawan-kawan sepelayanan di Gereja dan komunitas tapi di sisi lain aku juga punya kubangan perkawanan dengan mereka yang tak sepaham baik dalam iman maupun perbuatan.

Salah seorang dari mereka punya hobi berhubungan intim dengan penjaja seks komersial. Ia adalah seorang suami, juga ayah dari tiga orang anak, anak tertuanya barangkali hanya selisih lima tahun lebih muda ketimbang penjaja seks yang ditidurinya.

Karir kawanku ini bagus dan mungkin justru karena itu, hobi esek-esek nya jalan terus dan bisa diongkosi tanpa memberati biaya hidup rumah tangganya.

Suatu waktu kami bertemu dan berbincang di sebuah coffee shop lalu melebur dalam percakapan masyuk dan penuh celetukan. Iseng aku bertanya, “Kalau loe lagi esek-esek, kalung salib juga loe pake?”

Ia tertawa lalu menggeleng. “Enggak lah! Sejak di parkiran pun, kalung salib udah gue lepas dan foto anak-bini gue tinggalin di dashboard mobil.”

“Oh. Kenapa?”
“Sebejat-bejatnya gue, salib dan keluarga nggak pantas dibawa masuk ke dalam kamar esek-esek, Bro!” Ia terkekeh.

Tentu terlalu sempit untuk menaruh perkara apakah Tuhan meninggalkan kita atau kita yang meninggalkanNya saat kita memilih melakukan hal yang tak berkenan kepadaNya ke dalam analogi ini, tapi aku melihat ada kesamaan pola bahwa sejatinya bukan Tuhan yang meninggalkan kita, tapi justru kitalah yang memilih untuk melipir dariNya.

Aku ingin menutup permenungan hari ini dengan satu pertanyaan yang mungkin kalian bisa jawab, mungkin juga tidak.

Dalam Kabar Baik hari ini, Yesus bilang bahwa BapaNya tak akan meninggalkan selama Ia melakukan hal-hal yang berkenan kepadaNya, tapi lantas kenapa saat kritis di atas kayu salib, sesaat sebelum wafat, Ia justru berteriak, “Ya Allahku, kenapa Engkau meninggalkan daku?”

Adakah jalan yang ditempuhNya adalah jalan salah yang tak berkenan kepadaNya? Adakah Ia melawan kehendak BapaNya?

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.